Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) dinilai masih memiliki prospek pertumbuhan positif hingga 2027, ditopang peningkatan volume pasien, kenaikan pendapatan rata-rata per pasien, serta dominasi pasien non-BPJS. Selain pertumbuhan organik, transaksi dengan First REIT dan peluang ekspansi melalui akuisisi maupun joint venture menjadi faktor yang dicermati investor.
Pada semester I 2026, SILO membukukan pendapatan Rp 6,76 triliun, tumbuh 10,79% secara tahunan. Laba bersih perusahaan meningkat 27,11% menjadi Rp 580,68 miliar. Sementara itu, porsi pasien non-BPJS mencapai 84,1% dan pendapatan rata-rata per tempat tidur yang terisi atau average revenue per occupied bed (ARPOB) naik 6,7%.
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis Tambolang mengatakan, pertumbuhan kebutuhan layanan kesehatan dan peningkatan volume pasien masih menjadi penopang kinerja SILO. Namun, perusahaan tetap perlu menjaga efisiensi operasional karena pertumbuhan EBITDA lebih lambat dibandingkan pendapatan dan laba bersih.
Baca Juga: IHSG Menguat 0,94% dalam Sepekan, Ini Pendorongnya
“Prospek SILO masih positif, ditopang pertumbuhan kebutuhan layanan kesehatan, peningkatan volume pasien, dan kenaikan ARPOB,” ujar Alrich kepada Kontan, Jumat (9/10/2026).
Alrich mencatat, EBITDA SILO pada semester I 2026 tumbuh 5,1% secara tahunan menjadi Rp 1,34 triliun. Menurut dia, pertumbuhan perusahaan pada 2027 masih berpeluang berlanjut melalui optimalisasi rumah sakit yang sudah beroperasi dan ekspansi bisnis.
Sejalan dengan itu, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo juga melihat prospek SILO masih positif. Ia menilai pertumbuhan pasien, kenaikan ARPOB, dan dominasi pasien non-BPJS dapat mendukung kinerja perusahaan hingga tahun depan.
“Kami melihat prospek SILO masih positif, didukung pertumbuhan pasien, kenaikan ARPOB, dan dominasi payer mix non-BPJS. Pada 2027, pertumbuhan berpotensi berlanjut melalui optimalisasi rumah sakit eksisting dan ekspansi layanan, dengan tetap memperhatikan efisiensi biaya,” ujar Azis.
Dari sisi korporasi, SILO telah menuntaskan transaksi tahap pertama dengan First REIT senilai agregat Rp 6,91 triliun. Transaksi ini berpotensi mengurangi beban sewa sekaligus meningkatkan kendali perusahaan atas aset strategis.
Alrich menyebut, beban penyusutan aset hak-guna SILO pada 2025 mencapai sekitar Rp 652 miliar. Meski demikian, dampak bersih transaksi terhadap laba akan bergantung pada skema pendanaan, tambahan beban bunga, dan penyusutan aset setelah akuisisi.
“Karena itu, manfaat efisiensi perlu dibandingkan dengan biaya pendanaan transaksi,” kata Alrich.
Azis juga menilai transaksi tersebut berpotensi memperkuat fleksibilitas keuangan SILO apabila hasilnya dapat dimanfaatkan secara produktif. Namun, dampaknya terhadap laba bersih tetap bergantung pada struktur pendanaan, biaya akuisisi, dan potensi perubahan beban sewa setelah transaksi.
Selain transaksi First REIT, SILO memiliki peluang memperluas bisnis melalui akuisisi dan joint venture atau usaha patungan. Strategi ini dapat mempercepat penambahan kapasitas dan jangkauan layanan tanpa harus membangun seluruh fasilitas rumah sakit dari awal.
Meski demikian, kontribusi ekspansi terhadap laba akan bergantung pada valuasi akuisisi, tingkat utilisasi fasilitas, serta keberhasilan integrasi operasional. Alrich mengingatkan investor agar turut memperhatikan efektivitas penggunaan modal, bukan hanya pertambahan jumlah rumah sakit.
“Investor perlu mencermati pertumbuhan EBITDA dan return on invested capital (ROIC), bukan hanya pertambahan jumlah rumah sakit,” ujar Alrich.
Adapun katalis kinerja SILO mencakup pertumbuhan volume pasien, kenaikan ARPOB, peningkatan porsi pasien non-BPJS, serta potensi efisiensi setelah transaksi First REIT. Sementara itu, risiko yang perlu dicermati meliputi kenaikan biaya tenaga medis dan operasional, kebutuhan belanja modal, beban bunga, serta risiko integrasi aset hasil akuisisi. Pertumbuhan laba juga perlu diikuti perbaikan arus kas dan profitabilitas.
Dari sisi rekomendasi saham, Alrich menyebut strategi buy on support dapat dipertimbangkan pada level Rp 1.900 per saham, dengan target harga di kisaran Rp 2.100 hingga Rp 2.400 per saham.
Sementara itu, Azis merekomendasikan trading buy saham SILO dengan target harga Rp 2.000 per saham.
Baca Juga: Bitcoin dan Ether Melemah Sepekan, Prospek Pemulihan Bergantung pada The Fed
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














