kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.638.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.766   5,00   0,03%
  • IDX 6.441   -21,27   -0,33%
  • KOMPAS100 842   -10,21   -1,20%
  • LQ45 640   -8,13   -1,25%
  • ISSI 225   0,94   0,42%
  • IDX30 356   -4,01   -1,11%
  • IDXHIDIV20 444   -5,92   -1,32%
  • IDX80 96   -1,24   -1,27%
  • IDXV30 122   -2,51   -2,02%
  • IDXQ30 115   -1,38   -1,19%

The Fed Naikkan Suku Bunga,, Analis Beberkan Proyeksi hingga Akhir 2026


Senin, 21 September 2026 / 05:00 WIB
The Fed Naikkan Suku Bunga,, Analis Beberkan Proyeksi hingga Akhir 2026
ILUSTRASI. Harga emas global kembali menguat setelah pasar merespons keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed) (REUTERS/Angelika Warmuth)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga emas global kembali menguat setelah pasar merespons keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), terkait suku bunga acuan. Namun, pergerakan logam mulia masih dibayangi sejumlah faktor yang berpotensi menahan kenaikan hingga akhir tahun.

Mengutip data Trading Economics per Jumat (18/9/2026), harga emas spot berada di level US$4.383,45 per ons troi. Harga tersebut naik 0,97% atau 42,06 poin dalam sehari.

Kenaikan tersebut mempersempit penurunan harga emas secara bulanan menjadi minus 2,97%. Kendati demikian, secara year to date (YtD), harga emas masih mencatat kenaikan 1,47% dan tumbuh 18,96% secara tahunan (year on year/YoY).

Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menilai, penguatan harga emas terjadi setelah keputusan Federal Open Market Committee (FOMC) menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi kisaran 3,75%–4,00%.

Menurut Wahyu, keputusan tersebut sebenarnya telah diantisipasi oleh pelaku pasar sejak jauh-jauh hari. Dengan demikian, kepastian kebijakan dari bank sentral AS justru mampu meredakan kekhawatiran pasar terhadap prospek pengendalian inflasi.

Baca Juga: Serapan Anggaran MBG Capai Rp 139 Triliun, Ini Dampaknya ke Emiten Unggas

"Ketika imbal hasil riil obligasi jangka panjang mulai mendatar atau terkoreksi setelah kepastian moneter tercapai, daya beli institusional terhadap emas kembali mengalir deras," ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (18/9/2026).

Sentimen Penahan Harga Emas

Meski prospek emas masih mendapat dukungan, Wahyu mengatakan pergerakan harga logam mulia tersebut tidak sepenuhnya terbebas dari tekanan.

Pasar saat ini masih mencermati sejumlah sentimen yang dapat menjadi penahan kenaikan harga emas. Beberapa di antaranya adalah imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang menembus 5,00%, penguatan Indeks Dolar AS (DXY), serta kenaikan harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) yang telah berada di atas US$103 per barel.

Kenaikan harga energi tersebut berpotensi memunculkan ancaman inflasi gelombang kedua. Kondisi itu dapat memicu spekulasi mengenai kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.

Jika hal tersebut terjadi, opportunity cost dalam memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil akan meningkat. Kondisi tersebut dapat membatasi ruang penguatan harga emas.

Di sisi lain, tren secular bull market emas dalam jangka panjang masih mendapatkan dukungan dari sejumlah faktor fundamental.

Akumulasi emas fisik oleh bank-bank sentral global untuk mendukung proses dedolarisasi cadangan devisa menjadi salah satu faktor pendukung. Selain itu, risiko kebocoran fiskal dan utang AS serta eskalasi geopolitik di Timur Tengah juga menjadi sentimen yang dapat meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven.

Strategi Investasi Emas

Menghadapi volatilitas pasar tersebut, Wahyu menyarankan investor menggunakan strategi dollar cost averaging (DCA). Investor dapat melakukan pembelian secara bertahap dengan mengalokasikan sekitar 30%–40% dana terlebih dahulu.

Baca Juga: Demutualisasi Bursa, Bagaimana OJK Cegah Bursa Dikuasai Satu Pihak?

Sementara itu, bagi trader derivatif, Wahyu menyarankan untuk menerapkan strategi wait and see sambil mencermati area support ketika indikator teknikal menunjukkan kondisi jenuh jual.

Adapun untuk pergerakan harga emas hingga akhir 2026, Wahyu memproyeksikan harga emas spot berada dalam rentang US$4.300 hingga US$5.000 per ons troi.

Dalam skenario moderat, harga emas berpotensi stabil sembari menguji level US$4.500 per ons troi. Harga juga berpeluang mencetak rekor tertinggi baru atau all time high apabila The Fed mulai memberikan sinyal pelonggaran kebijakan moneter.

"Menjelang kuartal penutup tahun, ketika siklus kenaikan suku bunga mencapai puncak dan risiko stagflasi akibat minyak mahal semakin terasa, emas diproyeksikan terkonsolidasi dan menguat kembali ke rentang US$4.500–US$5.000 per troy ons," ungkap Wahyu.

Namun demikian, terdapat risiko koreksi apabila arah kebijakan The Fed berubah lebih hawkish dari ekspektasi pasar.

Wahyu mengingatkan, apabila The Fed kembali memberikan sinyal pengetatan moneter yang lebih agresif dari perkiraan, harga emas berpotensi mengalami koreksi teknikal.

Dalam kondisi tersebut, area support kuat harga emas diperkirakan berada di kisaran US$3.500 hingga US$4.000 per ons troi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×