Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Lonjakan harga komoditas global pada awal 2026 bukan sekadar gejolak musiman.
Kenaikan yang terjadi secara luas ini mencerminkan kombinasi pelonggaran kebijakan moneter Amerika Serikat (AS) dan dinamika geopolitik global yang masih diliputi ketidakpastian.
Berdasarkan data Trading Economics, Jumat (6/2/2026) pukul 10.25 WIB, harga emas telah melonjak 11,6% secara year to date (YtD) ke level US$ 4.809 per ons troi.
Baca Juga: WIKA Gedung (WEGE) Beri Penjelasan Gugatan PKPU ke BEI
Harga perak naik 0,17% YtD menjadi US$ 70,8 per ons troi, sementara lithium mencatat kenaikan 23% YtD ke CNY 144.000 per ton.
Sejumlah komoditas lain juga mengalami penguatan. Harga minyak sawit mentah (CPO) naik 4% YtD ke MYR 4.210 per ton, gandum menguat 5% YtD menjadi US$ 533 per semak.
Di sisi logam, harga timah melonjak 20% YtD ke US$ 48.526 per ton, sedangkan rhodium naik 14% YtD ke US$ 10.475 per ons troi.
Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menilai, meskipun disrupsi rantai pasok global akibat ketegangan dagang AS–China dan konflik geopolitik masih menjadi latar belakang, faktor utama penguat harga komoditas saat ini justru berasal dari kebijakan moneter longgar The Fed.
“The Fed telah memangkas Fed Funds Rate ke kisaran 3,50%–3,75% sejak akhir 2025 hingga awal 2026. Kebijakan ini menjadi katalis utama reli komoditas,” ujar Wahyu kepada Kontan.co.id, Kamis (5/2/2026).
Baca Juga: Sentimen Moody’s Menekan Pasar, IHSG Dibuka Memerah
Menurut Wahyu, pemangkasan suku bunga tersebut memicu pelemahan dolar AS. Kondisi ini membuat komoditas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lain, sehingga mendorong lonjakan permintaan global.
Selain itu, rendahnya imbal hasil aset keuangan seperti obligasi mendorong investor beralih ke aset riil, termasuk komoditas, untuk mengejar imbal hasil yang lebih tinggi.
Ekspektasi inflasi akibat melimpahnya likuiditas global juga membuat emas dan perak kembali diburu sebagai aset lindung nilai.
Dari sisi pasokan, Wahyu menilai respons produsen terhadap kenaikan harga belum merata di seluruh sektor. Pada sektor mineral dan logam, kenaikan harga belum diimbangi peningkatan pasokan yang signifikan.
Ia mencontohkan harga lithium yang melonjak lebih dari 80% secara tahunan (YoY), mencerminkan ketimpangan serius antara pasokan dan permintaan, terutama dari sektor kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dan pusat data berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Baca Juga: Bitcoin Uji Level US$60.000 Saat Investor Tinggalkan Aset Berisiko
Sebaliknya, sektor energi menunjukkan tren berbeda. Pasokan minyak global diperkirakan mengalami surplus seiring peningkatan produksi dari AS, Kanada, dan Guyana.
Kondisi ini membuat harga minyak cenderung tertahan, bahkan melemah, di tengah reli komoditas lainnya.
Bagi Indonesia, lonjakan harga komoditas menjadi pedang bermata dua. Sebagai eksportir utama komoditas, penguatan harga global berpotensi meningkatkan pendapatan negara dan kinerja emiten berbasis komoditas, khususnya CPO dan batubara.
Namun, Wahyu mengingatkan adanya risiko imported inflation. Kenaikan harga gandum dan logam berpotensi meningkatkan biaya produksi industri manufaktur domestik.
“Inflasi inti Indonesia pada Januari 2026 sudah mencapai 3,55% secara tahunan, salah satunya dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan,” ujarnya.
Baca Juga: Rupiah Spot Melemah 0,23% ke Rp 16.881 per Dolar AS, Jumat (6/2) Pagi
Di sisi lain, lonjakan harga mineral justru memperkuat nilai strategis program hilirisasi nasional. Komoditas seperti nikel, tembaga, dan timah dinilai berpotensi memperkuat cadangan devisa serta ketahanan ekonomi nasional dalam jangka menengah.
Ke depan, Wahyu memperkirakan tren penguatan harga komoditas masih berlanjut pada semester I-2026, meski dibayangi volatilitas yang tinggi.
Harga emas diproyeksikan berpotensi menembus US$ 7.000 per ons troi, didorong suku bunga rendah dan meningkatnya risiko geopolitik.
Harga perak diperkirakan menguat hingga US$ 160 per ons seiring meningkatnya permintaan industri panel surya dan elektronik.
Sementara itu, harga lithium diprediksi bertahan di level tinggi, dan harga timah berpeluang menembus US$ 60.000 per ton akibat menipisnya stok global serta gangguan pasokan di negara produsen.
Adapun pengecualian terjadi pada minyak mentah. Harga WTI dan Brent diperkirakan melemah ke kisaran US$ 60–65 per barel akibat surplus pasokan global dan melambatnya permintaan dari Tiongkok.
Selanjutnya: DHL Express Gandeng Machine56, Perluas Strategi Brand Lewat Kolaborasi Fashion
Menarik Dibaca: Promo Starbucks Terbatas: Diskon 55% Pakai BCA Cuma Hari Ini
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













