kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Tetap tolak reverse stock, investor minta direksi Bakrieland Development mundur


Selasa, 20 November 2018 / 12:41 WIB
Tetap tolak reverse stock, investor minta direksi Bakrieland Development mundur
ILUSTRASI. Forum Investor layangkan kartu merah kepada manajemen ELTY

Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Komarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lantaran belum juga mendapat kepastian mengenai rencana reverse stock atau penggabungan nilai saham PT Bakrieland Development Tbk (ELTY), investor meminta direksi untuk mundur. Selain itu, investor kembali menekankan agar reverse stock tidak dilanjutkan.

"Kalau Pak Ambono (Direktur Utama ELTY) merasa berat untuk bawa reverse stock yang setengah setengah jalan ini, mundur saja kalau enggak mampu. Anda semua itu direksi kami loh! Mundur saja kalau enggak mampu," kata investor ELTY Deni Alfianto Amris dalam public expose, Senin (19/11).


Pernyataan tersebut sontak mendapat tepuk tangan dari investor lain yang turut hadir dalam pelaksanaan Public Expose ELTY tersebut. Deni menilai, masalah utama yang terjadi antara jajaran Direksi ELTY dan investor adalah komunikasi.

"Komunikasi kita enggak mengandung trust, padahal itu harus diciptakan baik di dalam maupun di luar. Itu harus dituangkan dalam RJPP (Rencana Jangka Panjang Perusahaan) sebagai alat keterbukaan dan transparansi," jelasnya.

Sebagai pengingat, PT Geo Link merupakan kreditur yang meminta ELTY untuk mengonversi pinjamannya menjadi saham lewat reverse stock dengan rasio 10:1. Adapun pagu utang yang disiapkan Geo Link mencapai Rp 500 miliar.

Hingga Juli 2018, sebanyak Rp 313,5 miliar utang sudah diserap ELTY dalam dua tahapan. Tahap pertama dilakukan pada 22 Desember 2017 sebanyak Rp 100 miliar dan selanjutnya pada 28 Juli 2018 sebanyak Rp 213 miliar.

Direktur Utama ELTY Ambono Janurianto mengatakan, pinjaman Geo Link yang sudah diserap sebanyak Rp 313,5 miliar tersebut, dipinjamkan ELTY ke anak usahanya yakni Jungle Land. Adapun pinjaman yang dikucurkan kepada Jungle Land berhasil menurunkan porsi utang perusahaan hingga Rp 300 miliar.

"Dari Rp 300 miliar, sebanyak Rp 105 miliar digunakan Jungle Land untuk bayar utang di Bank Bukopin yang semula Rp 200 miliar, kini menjadi Rp 100 miliar. Selanjutnya Rp 200 miliar untuk restrukturisasi yang ingin kami  perpanjang dengan BRI dari sekitar Rp 547 miliar, jadi ada penurunan utang di situ," jelas Ambono.

Menurutnya, saat ini direksi ELTY tengah konsen untuk mendorong kinerja Jungle Land, yang juga merupakan salah satu sumber pendapatan ELTY. Sehingga langkah untuk menekan utang Jungle Land turut menjadi perhatian perusahaan itu.

"Terkiat pinjaman ke Geo Link, saya enggak tahu Pak Ambono ini kerja untuk ELTY atau Jungleland? Karena ini dua entitas yang berbeda, harusnya ada keterbukaan. Ini ibarat dia yang pakai, tapi saya yang bayar," tegas Deni.

Menurutnya, langkah yang diambil direksi telah berbenturan karena ELTY meminjam dari Geo Link yang dianggap sebagai entitas yang memiliki risiko. Artinya, ketika risiko ini berpindah ke ELTY dan terjadi ketidakmampuan bayar utang maka yang akan terjadi adalah default.

Investor ELTY lainnya, Budi menyarankan, jika debt to equity ratio (DER) ELTY masih di bawah Rp 1 triliun, harusnya perusahaan itu masih layak mendapat kredit. "Kredit itu merupakan refinancing dari utang terhadap Geo Link, dan itu bisa jadi salah satu solusi," ungkapnya.

Budi juga menekankan bahwa investor masih menunggu sikap dan keputusan ELTY terkait rencana reverse stock. Sehingga, lewat Forum Investor Ritel Penolak Reverse Stock ELTY (Forty), investor akan mengawal rencana aksi korporasi tersebut dan siap membawanya ke area yang lebih berat.

Sedangkan, Salman yang juga investor ELTY merasa bahwa ketidakpastian rencana reverse stock seperti diombang ambing. Dia juga mengingatkan, setiap perusahaan terbuka wajib mempertimbangkan dampak aksi korporasinya terhadap publik.




TERBARU

Close [X]
×