CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Terpopuler: 5 emiten terancam delisting, Cara Buffett memilih saham


Minggu, 08 Desember 2019 / 07:32 WIB
Terpopuler: 5 emiten terancam delisting, Cara Buffett memilih saham
ILUSTRASI. Warren Buffett, CEO Berkshire Hathaway Inc. REUTERS/Rick Wilking.

Reporter: Hasbi Maulana | Editor: Hasbi Maulana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bersih-bersih Bursa Efek Indonesia (BEI) terus berlanjut. Ada lima emiten yang berpotensi dihapus sahamnya secara paksa (forced delisting) dari papan perdagangan.

Berdasarkan surat resmi yang diterbitkan oleh BEI, kelimanya telah memenuhi kriteria untuk dicoret dari bursa (delisting). Alasannya beragam. Ada yang karena sudah terlalu lama disuspensi lantaran telat menyampaikan laporan keuangan dan membayar denda. Ada juga yang lantaran fundamentalnya terganggu.

Artikel Selengkapnya: Lima emiten di BEI terancam delisting dan dampaknya ke investor

Begini strategi Adaro (ADRO) menjaga kinerja di tengah penurunan harga batubara

PT Adaro Energy Tbk (ADRO) sukses mencatatkan kinerja yang solid di tengah penurunan harga batubara. Pendapatan Adaro hanya turun cenderung tipis pada kuartal III-2019 menjadi US$ 2,65 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya US$ 2,67 miliar.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer (CEO) Garibaldi Thohir mengatakan, kinerja solid tersebut didukung peningkatan volume tahunan yang baik karena permintaan batubara masih tinggi. Namun dia tak bisa menutup mata bahwa tantangan ekonomi makro dan industri masih memberi tekanan terhadap harga batubara global.

Artikel Selengkapnya: Begini strategi Adaro (ADRO) menjaga kinerja di tengah penurunan harga batubara

Aset negara di pertambangan mencapai Rp 37 triliun, ini penjelasanya

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat, pengelolaan barang milik negara (BMN) di tujuh perusahaan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) generasi pertama total mencapai Rp 37,61 triliun.

Nilai BMN itu sesuai Laporan Keuangan Pemerintah Pusat (LKPP) Tahun 2018 yang sudah diaudit, berdasarkan pembelian atau penyewaan dalam rencana kerja PKP2B generasi pertama.

Artikel Selengkapnya: Aset negara di pertambangan mencapai Rp 37 triliun, ini penjelasanya




TERBARU

Close [X]
×