CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Begini strategi Adaro (ADRO) menjaga kinerja di tengah penurunan harga batubara


Sabtu, 07 Desember 2019 / 20:11 WIB
Begini strategi Adaro (ADRO) menjaga kinerja di tengah penurunan harga batubara
ILUSTRASI. Presiden Direktur PT Adaro Energy Tbk (Adaro) - Garibaldi Thohir (tengah) berbincang bersama Direktur Coaltrade Services International Pte. Ltd (CTI) Pepen Handianto Danuatmadja (kiri) dan General Manager International Marketing & Trade CTI Neil Litte (ka

Reporter: Benedicta Prima | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Adaro Energy Tbk (ADRO) sukses mencatatkan kinerja yang solid di tengah penurunan harga batubara. Pendapatan Adaro hanya turun cenderung tipis pada kuartal III-2019 menjadi US$ 2,65 miliar dari periode yang sama tahun sebelumnya US$ 2,67 miliar.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer (CEO) Garibaldi Thohir mengatakan, kinerja solid tersebut didukung peningkatan volume tahunan yang baik karena permintaan batubara masih tinggi. Namun dia tak bisa menutup mata bahwa tantangan ekonomi makro dan industri masih memberi tekanan terhadap harga batubara global.

Baca Juga: Agar sukses menurunkan berat badan, hindari melakukan tiga hal ini

"Di tengah kondisi yang sulit, kami terus berfokus pada keunggulan operasional dan efisiensi. Kami juga tetap optimistis dengan fundamental pasar batubara di jangka panjang dan terus mengeksekusi strategi perusahaan yang dirancang untuk bisnis yang berkelanjutan," ujar Garibaldi dalam rilis tertulis yang diterima Kontan, Senin (5/12).

Dalam periode yang sama, volume penjualan perusahaan naik 14% secara tahunan (yoy) menjadi 44,66 metrik ton (mt), namun harga jual rata-rata turun 13% yoy akibat melemahnya harga batubara. Kemudian, total produksi batubara hingga kuartal III-2019 mencapai 44,13 mt atau naik 13% yoy. Dengan posisi ini, perusahaan memperkirakan dapat mencapai panduan produksinya untuk tahun 2019 yaitu 54 mt - 56 mt.

Sementara itu, beban pokok pendapatan ADRO tercatat tumbuh 4% yoy dari US$ 1,78 miliar menjadi US$ 1,85 miliar. Kenaikan beban didorong oleh naiknya volume maupun harga bahan bakar minyak (BBM).

Baca Juga: Perbaiki pelabuhan & bandara di Sulteng, pemerintah utang Rp 1,4 triliun dari ADB

Total biaya BBM tercatat naik 3% yoy karena peningkatan konsumsi BBM untuk mendukung volume produksi dan pengupasan lapisan penutup yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.




TERBARU

Close [X]
×