Reporter: Alya Fathinah | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga perak diperkirakan masih bergerak volatile dalam beberapa bulan ke depan.
Melansir Bloomberg, pada Jumat (13/3/2026), harga perak untuk pengiriman Mei 2026 ada pada level US$ 81,34 per ons troi, turun 4,43% dari sehari sebelumnya. Sejak awal tahun, harga perak untuk kontrak Mei 2026 sudah naik 3,59%.
Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengatakan harga perak naik signifikan karena defisit pasokan struktural.
"Pasar perak memasuki tahun kelima defisit pasokan secara berturut-turut. Persediaan fisik di bursa utama seperti COMEX dilaporkan anjlok signifikan (lebih dari 70% sejak 2020), menciptakan kondisi kelangkaan fisik yang nyata," kata Wahyu kepada Kontan (13/3/2026).
Baca Juga: IHSG Melemah 3,22% Dalam Sepekan, Simak Proyeksinya untuk Pekan Depan
Selain itu, lonjakan permintaan dari sektor panel surya (fotovoltaik), kendaraan listrik (EV), dan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) memberikan dukungan fundamental yang tidak dimiliki emas secara masif.
Sentimen yang mempengaruhi lainnya, yaitu terdapat ketidakpastian mengenai arah suku bunga The Fed (narasi higher for longer), kekhawatiran terhadap inflasi jangka panjang akibat tingginya harga energi terutama minyak di atas US$ 100 per barel mendorong investor beralih ke logam mulia.
Menurut Wahyu, kenaikan ini bukan sekadar lonjakan sesaat, melainkan bagian dari tren bullish jangka panjang yang berpotensi berlanjut.
Sejalan, Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo mengatakan potensi kenaikan harga perak jangka panjang tetap terbuka lebar seiring dengan normalisasi rantai pasok dan pemulihan sektor manufaktur global, meskipun saat ini tekanan jangka pendek akibat penguatan Dolar AS tampak dominan.
Baca Juga: BTN Tak Buka Opsi Buyback di Tengah Pelemahan Harga Saham, Ini Alasannya
"Mengenai keberlanjutan tren ini, potensi kenaikan harga perak ke depannya sangat bergantung pada transisi dari sentimen ketakutan menuju kebutuhan industri yang fundamental," ujar Sutopo.
Jika ketegangan geopolitik mulai mereda dan fokus pasar beralih pada defisit pasokan perak dunia untuk kebutuhan teknologi hijau dan AI, maka reli harga yang lebih berkelanjutan menuju level psikologis baru bukanlah hal yang mustahil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













