Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kesepakatan damai Amerika Serikat (AS) – Iran telah menurunkan premi risiko geopolitik yang sebelumnya membebani pasar global.
Ekspektasi dibukanya kembali Selat Hormuz dan menurunnya risiko gangguan pasokan energi telah mendorong harga minyak Brent turun ke bawah US$ 100/barel sejak akhir Mei dan berada di level US$ 86,8/barel pada 12 Juni. Meski begitu, investor diperkirakan tetap akan selektif dalam berinvestasi di pasar saham.
“Bagi Indonesia, penurunan harga minyak menjadi sentimen positif karena berpotensi menekan biaya impor, mengurangi tekanan inflasi, dan menurunkan risiko fiskal, yang turut mendukung penguatan Rupiah dan IHSG,” ujar Analis Mirae Asset Sekuritas, Novani Karina Saputri dalam risetnya pada Rabu (17/6/2026).
Baca Juga: Jika The Fed dan BI Tahan Suku Bunga, Yield SBN Bisa Turun Lagi
Novani menilai keberlanjutan reli pasar baru-baru ini masih bergantung pada beberapa ketidakpastian. Meskipun penurunan premi risiko terkait Iran mendukung, implementasi perjanjian termasuk ketahanan gencatan senjata, pencabutan sanksi, dan normalisasi arus perdagangan energi akan sangat penting dalam menentukan apakah sentimen terus membaik.
Selain itu, risiko eksternal belum sepenuhnya hilang, terutama terkait prospek kebijakan Fed dan keputusan FOMC yang akan datang, yang akan membentuk imbal hasil global, dolar AS, dan arus modal ke pasar negara berkembang.
Di dalam negeri, meredanya kekhawatiran atas klasifikasi pasar Indonesia telah mendukung sentimen menjelang tinjauan MSCI yang akan datang. Jika Indonesia mempertahankan statusnya sebagai pasar negara berkembang, arus masuk asing dan pemulihan valuasi dapat berlanjut.
Novani percaya pasar masih memiliki ruang untuk maju, meskipun keuntungan kemungkinan tidak akan terdistribusi secara merata di seluruh sektor.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.762 Per Dolar AS Hari Ini (17/6), Asia Terkoreksi
“Investor diperkirakan akan tetap selektif, lebih menyukai perusahaan dengan fundamental yang kuat, likuiditas tinggi, dan paparan terbatas terhadap ketidakpastian terkait kebijakan,” ucap Novani.
Menurut Novani, saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA dan TLKM kemungkinan menjadi salah satu penerima manfaat utama dari kembalinya arus dana asing. Sementara itu, saham-saham terkait komoditas tertentu, khususnya produsen logam mulia seperti BRMS, tetap menarik karena ketidakpastian geopolitik yang tersisa terus mendukung harga emas.
“Di dalam sektor konsumen, MYOR dan CMRY terus menonjol karena fundamentalnya yang tangguh, meskipun potensi dampak melemahnya daya beli terhadap pengeluaran konsumen perlu dipantau secara cermat,” terang Novani.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- IHSG
- inflasi
- rupiah
- TLKM
- MSCI
- FOMC
- BRMS
- BBCA
- saham big cap
- Mirae Asset Sekuritas
- investasi saham
- Selat Hormuz
- strategi investasi
- harga minyak brent
- Analisis Pasar
- Kebijakan The Fed
- MYOR
- CMRY
- Risiko Fiskal
- Saham Komoditas
- Saham Konsumen
- pasar negara berkembang
- Kesepakatan AS-Iran
- Novani Karina Saputri













