kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.884.000   16.000   0,56%
  • USD/IDR 17.206   48,00   0,28%
  • IDX 7.634   12,62   0,17%
  • KOMPAS100 1.054   2,19   0,21%
  • LQ45 759   1,54   0,20%
  • ISSI 277   0,40   0,14%
  • IDX30 403   0,28   0,07%
  • IDXHIDIV20 490   1,86   0,38%
  • IDX80 118   0,34   0,29%
  • IDXV30 139   0,96   0,70%
  • IDXQ30 129   0,30   0,23%

Templeton dan BlackRock: Saatnya beli aset di emerging markets


Rabu, 18 Juli 2018 / 15:07 WIB
ILUSTRASI. Bursa Asia


Reporter: Khomarul Hidayat | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - NEW YORK. Aliran modal asing ke pasar keuangan emerging markets bisa jadi akan kembali deras. Tiga hedge fund terbesar dunia, Franklin Templeton Investments, BlackRock Inc, dan Goldman Sachs Group Inc menyebutkan, pasar negara berkembang siap rally lagi, setelah nilai saham senilai US$ 7 triliun di pasar saham emerging markets masuk dalam area bearish.

Dus, sekarang saatnya membeli aset di pasar negara berkembang. Menurut analis dari tiga pengelola dana itu, harga saham yang murah, naiknya laba emiten dan fundamental yang kuat di pasar negara berkembang, lebih menjadi sentimen yang kuat dibandingkan sentimen risiko perang dagang, kenaikan suku bunga dan potensi resesi ekonomi Amerika Serikat.

"Kami memang menyukai aset di emerging markets terutama di saham," kata Isabelle Mateos Lago, Chief Multi-asset Strategist BlackRock Investment Institute, lembaga think tank milik BlackRock seperti dikutip Bloomberg.

Dia menambahkan, daya tarik masuk ke aset emerging markets antara lain kombinasi antara ekspektasi laba korporasi dan juga valuasi saham di pasar negara berkembang.

Hanya saja, proyeksi bullish di pasar keuangan negara berkembang tersebut hanya minoritas. Survei Bloomberg terhadap 20 investor dan trader memperkirakan, aksi jual saham maupun mata uang di negara berkembang masih akan berlanjut.

Malah, menurut indikator risiko Bank of America Merrill Lynch, pesimisme terhadap saham-saham di emerging markets mendekati level tertinggi dalam 23 tahun terakhir.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×