kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ451.007,14   -0,66   -0.07%
  • EMAS987.000 -0,20%
  • RD.SAHAM -0.30%
  • RD.CAMPURAN -0.02%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.01%

Tembus RM 2.200 per ton, begini nasib harga CPO selanjutnya


Kamis, 10 Oktober 2019 / 20:53 WIB
Tembus RM 2.200 per ton, begini nasib harga CPO selanjutnya
ILUSTRASI. Dalam sepekan, harga CPO berhasil naik 2,42% dari level Jumat (4/10) yakni RM 2.149 per ton. Tribun Kaltim/Fachmi Rachman


Reporter: Intan Nirmala Sari | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sukses menguat dalam beberapa hari terakhir, rupanya harga crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah berpotensi untuk melanjutkan kenaikan di jangka menengah dan panjang. Meskipun begitu, tren pelemahan harga komoditas masih perlu menjadi perhatian.

Mengutip Malaysia Derivatives Exchange, pada perdagangan Kamis (10/10) harga CPO sukses menembus level RM 2.200 per ton, tepatnya di level RM 2.201 per ton atau naik 0,22% dari perdagangan sebelumnya. Sedangkan dalam sepekan, harga CPO berhasil naik 2,42% dari level Jumat (4/10) yakni RM 2.149 per ton. 

Analis Central Capital Futures Wahyu Tribowo Laksono menjelaskan, secara umum harga komoditas masih tertekan, seiring sentimen ancaman krisis ekonomi global. Ditambah lagi, tensi perang dagangan masih naik turun, disusul dengan pergerakan dolar AS yang cenderung menguat.

"Apalagi CPO, basic fundamentalnya pun lemah, diikuti sentimen oversupply dan lack demand, cuaca yang pro produksi, ancaman ekspor impor dari Eropa, serta meningkatnya alternatif supply edible oil atau soy oil yang secara tidak langsung kurang baik bagi CPO," jelas Wahyu kepada Kontan.co.id, Kamis (10/10). 

Baca Juga: Bank Dunia pangkas prospek pertumbuhan ekonomi, ini yang perlu dilakukan pemerintah

Berbagai sentimen tersebut menjadikan harga CPO sulit menembus level RM 2.200 per ton, hingga RM 2.400 per ton. Namun, karena saat ini harga CPO berada di level rendah sepanjang sejarah, maka Wahyu melihat ada potensi rebound korektif ke depannya. 

"Komoditas di level seperti ini, hanya ada dua pilihan yakni lower konsolidasi atau rebound. Saat harga sempat anjlok parah, pasti demand akan adjust untuk beli dan permintaan tinggi," ungkapnya. 

Ke depan, khususnya di jangka menengah harapannya sentimen perang dagang bisa mendorong permintaan CPO yang lebih baik dari China. Selain itu, musim kemarau yang berkepanjangan juga bisa memicu el nino dan bisa menjadi sentimen positif bagi harga CPO. 

Sehingga, harapan untuk membaiknya harga CPO kemungkinan baru akan terlihat di tahun depan. Apalagi, prospek konsumsi minyak sawit global diprediksi tumbuh 7,1% di 2019, dan tumbuh 5,1% di 2020. Angka tersebut tentunya jauh lebih tinggi dibandingkan capaian rata-rata dalam lima tahun terakhir yakni hanya 2,9%.

Baca Juga: Kembangkan Green Refinery, Pertamina buka opsi gandeng pihak selain ENI

Pertumbuhan yang tinggi tersebut, diyakini datang dari ekspansi berkelanjutan untuk penggunaan biodiesel di Indonesia dan Malaysia. Disusul meningkatnya permintaan minyak sawit China di tengah ketengahan perang dagang. 

"Untuk medium term tahun depan, ada harapan lumayan, seiring kondisi historical low dan better demand bisa memicu harga naik," ujarnya. 

Dengan begitu, secara umum Wahyu menilai belum ada reversal signifikan, hanya rebound konsolidasi karena harga sedang berada di bawah level rendah sepanjang sejarah. Sehingga, saat terjadi rebound, itu dianggap sebagai hal yang wajar.

Wahyu memperkirakan, dalam jangka menengah setidaknya hingga akhir tahun harga CPO bakal berada di kisaran RM 2.200 per ton hingga RM 2.300 per ton. Sedangkan di Maret 2020, CPO memiliki potensi menyentuh level tertinggi yakni RM 2.500 per ton. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.

Tag


TERBARU

[X]
×