Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah resmi menawarkan Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI029 mulai Senin (26/1/2026) hingga 19 Februari 2026.
Dalam penawaran kali ini, pemerintah menetapkan kupon 5,45% untuk tenor tiga tahun (ORI029T3) dan 5,80% untuk tenor enam tahun (ORI029T6).
ORI029T3 akan jatuh tempo pada 15 Februari 2029, sedangkan ORI029T6 memiliki jatuh tempo pada 15 Februari 2032.
Baca Juga: Harga Emas Antam Sabtu (31/1) Turun Rp 260.000 Per Gram Jadi Rp 2,86 Juta
Kupon ORI029 bersifat tetap (fixed rate) dan dibayarkan setiap bulan, dengan pembayaran kupon pertama pada 15 April 2026. Instrumen ini dapat diperdagangkan di pasar sekunder setelah melewati masa minimum kepemilikan hingga kupon pertama, yakni mulai 16 April 2026.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai, dari sisi prospek, ORI029 masih relevan dan menarik bagi investor.
“ORI029 masih menarik untuk investor yang ingin mendapatkan pendapatan kupon rutin dengan tingkat kepastian yang tinggi, terutama saat tren suku bunga ke depan cenderung turun,” ujar Josua kepada Kontan, Senin (26/1/2026).
Menurutnya, nilai tambah utama ORI029 terletak pada pajak kupon yang bersifat final sebesar 10%, sehingga imbal hasil bersihnya menjadi lebih kompetitif dibandingkan banyak instrumen berbasis bunga lain yang dikenakan pajak lebih tinggi.
Selain itu, kupon tetap hingga jatuh tempo memungkinkan investor mengunci tingkat imbal hasil saat ini.
Secara perhitungan, kupon bersih ORI029T3 setara sekitar 4,905% per tahun, sementara ORI029T6 setara 5,22% per tahun.
Dengan investasi sebesar Rp 100 juta, investor berpotensi memperoleh kupon bersih sekitar Rp 408.780 per bulan untuk ORI029T3 dan sekitar Rp 434.970 per bulan untuk ORI029T6.
Josua menambahkan, karakteristik tersebut membuat ORI029 cukup menarik di tengah potensi penurunan suku bunga, yang umumnya akan diikuti oleh penurunan tingkat bunga pada instrumen keuangan lainnya.
Baca Juga: Berikut Daftar Harga Emas di Galeri24 dan UBS pada Sabtu (31/1)
Meski demikian, ia mengingatkan investor untuk tetap memperhatikan risiko pergerakan harga di pasar sekunder. Jika imbal hasil pasar naik, harga ORI berpotensi mengalami penurunan.
“Bagi investor yang memiliki potensi kebutuhan dana sebelum jatuh tempo, tenor yang lebih pendek biasanya lebih nyaman. Sementara itu, tenor yang lebih panjang cenderung lebih sensitif terhadap perubahan imbal hasil pasar,” pungkas Josua.
Selanjutnya: Anjlok Parah Harga Emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian Hari Ini Sabtu (31/1/2026)
Menarik Dibaca: Harga Emas Antam Sabtu 31 Januari 2026 Turun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













