kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.399.000   13.000   0,94%
  • USD/IDR 16.140
  • IDX 7.328   27,17   0,37%
  • KOMPAS100 1.142   4,95   0,44%
  • LQ45 920   5,02   0,55%
  • ISSI 219   0,28   0,13%
  • IDX30 458   2,53   0,56%
  • IDXHIDIV20 549   3,16   0,58%
  • IDX80 129   0,76   0,60%
  • IDXV30 127   0,36   0,29%
  • IDXQ30 155   0,64   0,42%

Tak pegang hak siar Piala Dunia & Asian Games, saham MNCN masih menarik


Selasa, 27 Februari 2018 / 08:22 WIB
Tak pegang hak siar Piala Dunia & Asian Games, saham MNCN masih menarik
ILUSTRASI. MNC Media MNCN


Reporter: Dimas Andi | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Meski sempat mengalami penurunan audience share, sejumlah analis masih optimistis dengan kinerja PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN). Potensi peningkatan level konsumsi masyarakat menjadi katalis positif utama bagi emiten berkode MNCN tersebut di tahun 2018.

Marlene Tanumiharja, Analis Samuel Sekuritas Indonesia, dalam risetnya 14 Februari, menyatakan, audience share MNCN turun 9,7% pada Desember 2017 lalu. Penyebabnya, minat penonton sinetron yang ditayangkan di RCTI—stasiun televisi milik MNCN—yaitu Dunia Terbalik menurun. Toh, MNC Picture, rumah produksi milik MNCN, telah menyiapkan sinetron anyar berjudul Catatan Harian Aisha untuk mendongkrak kembali nilai audience share-nya.

Menurut Reza Priyambada, Analis Binaartha Parama Sekuritas, penurunan audience share yang dialami oleh MNCN hanya bersifat sementara. Asalkan penurunan porsi khalayak tersebut tidak diikuti oleh berkurangnya jumlah pengiklan, kinerja MNCN pada tahun ini tidak akan terganggu.

Sebab, MNCN termasuk raksasa di industri pertelevisian yang memiliki jaringan luas dan beragam konten acara yang disajikan. "Secara keseluruhan, jumlah pemirsa MNCN masih banyak," ujar Reza, Senin (26/2).

MNCN pun layak menatap tahun ini dengan percaya diri lantaran pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi lebih tinggi dari tahun lalu, yang berujung pada peningkatan daya beli masyarakat. Nah, hal itu pada akhirnya memicu perusahaan-perusahaan di sektor konsumer untuk meningkatkan belanja iklannya melalui media televisi.

Reza mengungkapkan, walau tahun ini ada pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak, pendapatan terbesar dari sektor iklan tetap didominasi produk-produk konsumer. Porsinya, sekitar 65%-75% dari pendapatan.

Alhasil, bila ingin memaksimalkan kinerja, MNCN harus gencar menggaet perusahaan konsumer yang mau memasang pariwara di jaringan televisi kepunyaan mereka.

Adeline Solaiman, Analis Danareksa Sekuritas, juga setuju bahwa perhelatan pilkada serentak hanya mengangkat kinerja MNCN secara tidak langsung. Soalnya, pesta demokrasi di daerah ini ujung-ujungnya berpotensi mendorong tingkat konsumsi masyarakat. "Balik lagi, MNCN perlu meningkatkan pemasukan dari iklan yang berhubungan dengan sektor konsumsi," imbuhnya, Senin (26/2).

Berkah Ramadan

Selain pilkada, tahun ini juga ada dua agenda olahraga bergengsi, yaitu Piala Dunia dan Asian Games. Sayang, MNCN tidak memiliki hak siar dua ajang ini. Hak siar Piala Dunia jatuh ke Trans Corp, sementara hak siar Asian Games jadi milik PT Surya Citra Media Tbk (SCMA).

Walau begitu, Adeline menilai, hal tersebut tidak perlu terlalu dikhawatirkan oleh MNCN. Pasalnya, baik Piala Dunia dan Asian Games juga berpotensi meningkatkan beban pengeluaran perusahaan. Ini tentu saja kurang sejalan dengan kebijakan efisiensi yang dilakukan oleh MNCN sejak tahun lalu.

Toh, MNCN masih bisa meraup untung dari kedua ajang tersebut melalui tayangan iklan dari produsen-produsen peralatan olahraga.

Adeline berpendapat, di samping iklan, MNCN masih bisa mengandalkan konten acara hiburan seperti sinetron untuk mendongkrak kinerja mereka sepanjang tahun ini. Oleh karena itu, bulan Ramadan kembali menjadi salah satu momentum yang ideal bagi MNCN untuk meraup pendapatan besar.

Soalnya, pada saat itu MNCN biasanya meluncurkan sinetron baru demi menjaring audience share. Di masa yang sama, emiten ini juga bisa memaksimalkan program acara seperti ceramah agama atau hiburan berupa gim.

Adeline memperkirakan, pendapatan MNCN berpotensi mencapai Rp 7,63 triliun pada akhir tahun nanti. Sedangkan laba bersih mereka sebesar Rp 1,53 triliun.

Ketiga analis pun kompak memberi rekomendasi beli saham MNCN. Adeline menargetkan harga Rp 1.750 per saham, sedangkan Reza mematok target harga Rp 1.925 per saham. Sementara Marlene memasang target harga MNCN Rp 2.000 per saham.

Pada penutupan perdagangan kemarin (26/2), harga saham MNCN berada di level  Rp 1.500 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×