kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.565.000   8.000   0,31%
  • USD/IDR 18.109   16,00   0,09%
  • IDX 5.050   20,17   0,40%
  • KOMPAS100 649   1,43   0,22%
  • LQ45 518   4,63   0,90%
  • ISSI 164   -2,40   -1,44%
  • IDX30 292   2,74   0,95%
  • IDXHIDIV20 394   5,37   1,38%
  • IDX80 75   0,27   0,36%
  • IDXV30 108   0,37   0,34%
  • IDXQ30 99   1,18   1,21%

ST017 Tawarkan Kupon Menarik, Mampukah Pemerintah Capai Target Penjualan?


Jumat, 06 November 2026 / 19:35 WIB
ST017 Tawarkan Kupon Menarik, Mampukah Pemerintah Capai Target Penjualan?
ILUSTRASI. ST017 menawarkan imbal hasil hingga 7,05%, tertinggi pada 2026. Simak peluang dan tantangan penjualan sukuk tabungan ini. (KOMPAS/Priyombodo)


Reporter: Vivit Dewi | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sukuk Tabungan (ST) seri ST017 menawarkan tingkat imbal hasil yang kompetitif di tengah dinamika suku bunga dan persaingan instrumen investasi. Dengan imbal hasil mencapai 7,05% untuk tenor empat tahun, ST017 berpotensi menarik minat investor yang mencari instrumen investasi dengan pendapatan berkala.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengatakan, salah satu faktor yang membuat ST017 menarik adalah besaran spread kupon terhadap suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Spread tersebut mencapai 120 basis poin untuk tenor dua tahun dan 130 basis poin untuk tenor empat tahun.

"Selain itu, karakteristik floating with floor juga menjadi menarik di tengah era suku bunga higher for longer," ujar David kepada Kontan, Jumat (6/11/2026).

Sebagai informasi, ST017 menawarkan imbal hasil minimum sebesar 6,95% untuk tenor dua tahun dan 7,05% untuk tenor empat tahun. Kupon instrumen ini bersifat mengambang dengan batas minimum (floating with floor), sehingga berpeluang meningkat apabila BI menaikkan suku bunga acuannya.

Baca Juga: Harga Bitcoin Menguat, Transaksi Kripto RI Meroket 31,95% pada September 2026

Meski menawarkan imbal hasil yang menarik, David menilai terdapat sejumlah tantangan dalam penawaran ST017. Salah satunya berkaitan dengan karakteristik instrumen yang tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder.

"Karakteristik non tradable menjadi salah satu tantangan dlm penawaran ST017. Meski ada early redemption, namun instrumen ini tetap menarik bagi investor jangka menengah, bukan sebagai dana darurat jangka pendek,” jelasnya.

Kendati demikian, David memperkirakan penghimpunan dana ST017 masih berpeluang mencapai target yang ditetapkan pemerintah. Capaian penjualan nantinya akan dipengaruhi sejumlah faktor, terutama daya tarik spread terhadap suku bunga acuan serta kondisi likuiditas masyarakat.

Baca Juga: Andalan Artha Bakal IPO di Harga Rp 158-Rp 189 per Saham, Ini Catatan Analis

Menurut David, periode akhir tahun juga berpotensi memengaruhi keputusan masyarakat untuk berinvestasi. Hal ini mengingat sebagian dana masyarakat biasanya dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan liburan dan berbagai pengeluaran lainnya.

Di sisi lain, ST017 juga menghadapi persaingan dengan sejumlah instrumen investasi alternatif, mulai dari saham, deposito, valuta asing, hingga reksadana. Investor akan mempertimbangkan potensi imbal hasil dan fleksibilitas masing-masing instrumen sebelum menentukan pilihan investasi.

Dengan demikian, besaran imbal hasil yang kompetitif belum tentu menjadi satu-satunya penentu keberhasilan penawaran ST017. Pemerintah tetap perlu memperhatikan kondisi likuiditas masyarakat, kebutuhan dana menjelang akhir tahun, serta daya saing sukuk tabungan dibandingkan instrumen investasi lainnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
11.11
Kontan Academy
[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership Mitigasi Risiko SP2DK dan Pemeriksaan Pajak

[X]
×