kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.004.000   -55.000   -1,80%
  • USD/IDR 16.985   10,00   0,06%
  • IDX 7.337   -248,32   -3,27%
  • KOMPAS100 1.020   -39,17   -3,70%
  • LQ45 751   -25,47   -3,28%
  • ISSI 257   -9,75   -3,65%
  • IDX30 397   -12,77   -3,11%
  • IDXHIDIV20 493   -13,82   -2,73%
  • IDX80 115   -4,19   -3,52%
  • IDXV30 133   -4,17   -3,04%
  • IDXQ30 129   -4,15   -3,13%

SR024 Beri Kupon 5,9%, Ekonom Nilai Tawarannya Masih Menarik


Senin, 09 Maret 2026 / 19:52 WIB
SR024 Beri Kupon 5,9%, Ekonom Nilai Tawarannya Masih Menarik
ILUSTRASI. Agen Penjual Sukuk Rite (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) ritel kedua di tahun ini, yakni Sukuk Ritel seri SR024. Prospek penawaran SR024 dinilai masih cukup menarik bagi investor individu.

Penawaran sukuk ritel perdana ini dibuka mulai Jumat (6/3) sampai dengan 15 April 2026. Sukuk SR024 ini menawarkan kupon 5,55% untuk SR024-T3 tenor tiga tahun dan 5,90% untuk SR024-T5 tenor lima tahun.

Perlu diketahui, Pemerintah berupaya menyerap dana sebesar Rp 15 triliun dari penerbitan sukuk ini. Jika diperinci, untuk jenis SR024-T3 memiliki kuota lebih besar yakni Rp 10 triliun, dan sisanya sebesar Rp 5 triliun untuk SR024-T5.

Baca Juga: Menilik Kinerja Emiten CPO di Tengah Fluktuasi Harga Komoditas Global

Kepala Ekonom Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo menilai besaran kupon dan tenor yang ditawarkan pada SR024 relatif lebih tinggi dibandingkan SBN ritel sebelumnya, sehingga tetap kompetitif bagi investor.

Menurutnya, instrumen ini akan tetap diminati terutama oleh investor ritel yang memiliki preferensi risiko rendah dan menginginkan aliran pendapatan tetap (fixed income).

“Untuk investor ritel, khususnya yang memiliki preferensi low risk dan fixed income flow, sukuk ritel masih menarik karena dijamin oleh undang-undang,” ujar Banjaran kepada Kontan, Jumat (6/3/2026).

Selain itu, investor yang memiliki preferensi terhadap instrumen berbasis syariah, baik yang kuat maupun moderat, juga berpotensi tertarik pada SR024 yang diterbitkan oleh pemerintah.

Banjaran menambahkan, keunggulan lain dari SR024 adalah sifatnya yang dapat diperdagangkan di pasar sekunder. Hal ini memberikan peluang bagi investor tidak hanya memperoleh kupon, tetapi juga potensi capital gain.

Dari sisi momentum, periode menjelang Ramadan dan Idul Fitri juga berpotensi menjadi katalis positif bagi penyerapan SR024. Pembayaran tunjangan hari raya (THR) diperkirakan dapat meningkatkan likuiditas rumah tangga sehingga membuka peluang masyarakat untuk berinvestasi.

Meski demikian, pemerintah juga perlu mencermati kondisi pelemahan ekonomi yang berpotensi mempengaruhi preferensi investor.

Baca Juga: Harga Minyak Melonjak Picu Risiko Inflasi dan Kenaikan Harga BBM Meningkat

Ada pun secara historis masih ada kemungkinan penyerapan tidak sepenuhnya optimal. Sebagai contoh, pada penerbitan SR023 tahun 2025, realisasi penyerapan mencapai sekitar 93% dari total penawaran sebesar Rp 20 triliun.

Karena itu, menurut Banjaran, langkah Kementerian Keuangan menyesuaikan kuota penerbitan dengan melihat histori sebelumnya merupakan keputusan yang wajar.

Selain itu, ketidakpastian global yang terjadi sejak awal 2026 juga mendorong sebagian investor untuk mempertahankan likuiditas dibandingkan menempatkan dana pada instrumen investasi.

Secara umum, Banjaran menilai prospek penerbitan SBN pada 2026 masih cukup prospektif dengan target yang relatif realistis. 

Namun, pemerintah tetap perlu memperhatikan beberapa faktor penting seperti aspek pricing, tingkat imbal hasil (yield), waktu ketersediaan likuiditas di masyarakat, serta persaingan dengan instrumen investasi lain yang tengah populer seperti emas.

Berdasarkan target pembiayaan APBN, porsi penerbitan SBN ritel diperkirakan sekitar 20% dari total penerbitan SBN pemerintah. Sementara itu, sumber pembiayaan utama masih didominasi oleh SBN konvensional seperti FR/PBS melalui mekanisme lelang dan pasar institusi.

Baca Juga: Penjualan Otomotif Diproyeksi Membaik, Saham Astra (ASII) di 2026 Tetap Menarik

“Target tersebut masih cukup realistis sebagai asumsi awal pemerintah di awal tahun. Namun pemerintah perlu tetap adaptif dalam mengelola bauran SBN ritel dan wholesale sesuai kondisi pasar,” tutupnya.

Selain ORI029 dan SR024 yang sudah dibuka penawarannya, Pemerintah juga akan menerbitkan enam seri SBN ritel lain di tahun ini, yakni: ST016 pada 8 Mei–3 Juni 2026, ORI030 pada 6–30 Juli 2026, SR025 pada 21 Agustus–16 September 2026, SWR007 pada 4 September–21 Oktober 2026, SBR015 pada 28 September–22 Oktober 2026, serta ST017 pada 6 November–2 Desember 2026.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Financial Statement in Action AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×