kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.836.000   17.000   0,93%
  • USD/IDR 16.720   -165,00   -1,00%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

SMMT berganti haluan bisnis ke pertambangan


Minggu, 10 Juni 2012 / 16:03 WIB
SMMT berganti haluan bisnis ke pertambangan
ILUSTRASI. Harga mobil bekas Toyota Fortuner edisi facelift murah banget per Mei 2021


Reporter: Anna Suci Perwitasari | Editor: Edy Can

JAKARTA. Rencana PT Eatertaintment Internasional Tbk (SMMT) berubah haluan bisnis segera terealisasi. Komisaris SMMT Harry Wiguna mengungkapkan, SMMT akan masuk ke bisnis pertambangan. Dulunya, SMMT mengandalkan pendapatannya dari bisnis restoran, seperti Papa Ron's Pizza.

Sebagai catatan saja, sejak 2010 lalu manajemen SMMT memang menjanjikan sebuah perubahan sejak dikuasi oleh Rajawali Group. Bahkan di pertengahan 2010 SMMT telah mendapatkan persetujuan dari pemegang saham untuk meningkatkan modal dasar dari Rp 20 miliar menjadi Rp 320 miliar.

Nah, untuk itu perusahaan sempat mempertimbangkan beberapa opsi guna mengganti bisnis utama seperti penerbitan saham baru atau rights issue, penerbitan obligasi atau penyuntikan dana dari pemegang saham mayoritas.

Akhirnya yang dipilih adalah right issue. "Kami masih proses akan keluarkan right issue," tambah Harry.

Hal yang sama pun sempat diutarakan Komisaris Utama SMMT Darjoto Setyawan yang menyebut proses penerbitan saham baru ini tengah ditelaah Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembang Keuangan (Bapepam-LK).

Sayang, Harry enggan menyebut berapa dana yang akan didapat dari hajatan tersebut. "Itu bukan kewenangan saya menyebut berapa dananya. Nanti saja kalau sudah mau keluar. Itu digunakan untuk masuk ke pertambangan," jelasnya.

Selama ini SMMT dikabarkan akan masuk ke bisnis perkebunan mengingat saat ini perusahaan tersebut dikuasai oleh kolongmerasi milik Peter Sondakh melalui Group Rajawali yang memiliki kebun kelapa sawit di Kalimantan Timur.

Saat ini, 70,8% saham SMMT memang dikuasai oleh Group Rajawali melalui dua anak perusahaannya, yaitu PT Mutiara Timur Pratama yang miliki 23,39% saham dan Green Palm Resources Pte Ltd yang menguasai 47,46%..Hingga akhir pekan lalu, saham SMMT masih tertidur pulas di harga Rp 2.175 per saham. Transaksi saham ini juga nihil. Maklum, sejak 1 Juli lalu, otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan suspensi (penghentian sementara) perdagangan saham SMMT.

BEI mensuspensi saham ini lonjakan harga saham SMMT sebesar 866,67% di sepanjang 2010.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×