Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga komoditas emas tertekan setelah Ketua Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh melontarkan pernyataan dengan nada hawkish pada Simposium Jackson Hole, Jumat (28/8/2026) waktu Amerika Serikat (AS).
Mengutip Trading Economic Senin (31/8/2026), pukul 10.30 WIB, harga emas dunia di level US$ 4.427 per troy ons, turun 0,58% secara harian dan terkoreksi 4,36% dalam sepekan.
Research & Development Trijaya Pratama Futures, Alwi Assegaf mengatakan, pernyataan Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole yang bernada hawkish membuat pelaku pasar merevisi ulang proyeksi suku bunga AS secara signifikan.
Baca Juga: Dipicu Pidato Hawkish Kevin Warsh, Yield Obligasi AS Tenor 10 Tahun Menanjak ke 4,7%
Warsh menegaskan bahwa stabilitas harga tetap menjadi fokus utama bank sentral. Ia menyatakan bahwa The Fed harus yakin inflasi inti benar-benar bergerak menuju target sebelum melonggarkan sikap kebijakannya. Jika kondisi itu belum tercapai, ia menegaskan The Fed “masih punya pekerjaan rumah”.
Pada kesempatan yang sama, Warsh mengakui data inflasi selama musim panas membaik. Namun ia menilai perbaikan itu belum cukup untuk membuktikan pergeseran nyata dalam dinamika harga jangka panjang. Ia juga menyebut target inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) sebesar 2% sebagai angka yang “tetap dan tegas”.
“Warsh masih melihat inflasi sebagai prioritas utama kebijakan moneter. Ia mengakui bahwa ukuran-ukuran inflasi inti belum menunjukkan perbaikan berarti, sehingga nada bicaranya condong hawkish sepanjang pidato,” ujar Alwi dalam risetnya pada Senin (31/8/2026).
Alwi menambahkan bahwa sinyal hawkish Warsh langsung mengguncang ekspektasi pasar terhadap suku bunga.
Menurut CME FedWatch Tool, pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September mencapai 56%, naik tajam dari 36% sebelum pidato Warsh berlangsung. Segera setelah pidatonya, pasar uang sempat mematok peluang kenaikan suku bunga 25 basis poin pada pertemuan 16 September sebesar 50%. Investor kemudian memangkas peluang tersebut menjadi sekitar 44%.
Adapun, untuk pertemuan Desember, pasar justru melihat peluang kenaikan mencapai 82%, menurut data Prime Terminal. Pergeseran ekspektasi ini menunjukkan bahwa pelaku pasar semakin yakin siklus pengetatan The Fed akan berlanjut hingga akhir tahun.
Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham Pilihan Bagi Emiten yang Sedang Gelar Private Placement
“Sinyal hawkish Warsh membuat pelaku pasar mempertimbangkan ulang posisi mereka di emas dalam jangka pendek. Selama ekspektasi kenaikan suku bunga tetap tinggi dan dolar terus menguat, tekanan terhadap harga emas kemungkinan besar akan berlanjut hingga keputusan resmi The Fed pada pertemuan September mendatang,” jelas Alwi.
Alwi memproyeksikan support harga emas dalam jangka pendek di level US$ 4.407 per ons troi, sedangkan resistance terdekat diperkirakan di level US$ 4.508 per ons troi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














