kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45919,51   10,20   1.12%
  • EMAS1.350.000 0,52%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Simak Rekomendasi Saham BUMI yang Melejit 21,18%, Terdongkrak Kuasi Reorganisasi


Rabu, 24 April 2024 / 04:05 WIB
Simak Rekomendasi Saham BUMI yang Melejit 21,18%, Terdongkrak Kuasi Reorganisasi
ILUSTRASI. Pelaku pasar merespons positif rencana PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menggelar kuasi reorganisasi.


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelaku pasar tampak merespons positif rencana PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menggelar kuasi reorganisasi. Saham emiten batubara yang terafiliasi dengan Grup Salim dan Bakrie ini menguat cukup signifikan hingga menduduki daftar top gainers harian. 

BUMI melejit 21,18% ke level Rp 103 per saham pada perdagangan Selasa (23/4). 

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menilai kuasi reorganisasi bisa membawa dampak positif terhadap BUMI.

Manfaat yang disoroti pelaku pasar dari aksi korporasi ini terutama dari sisi potensi pembagian dividen yang nantinya bisa dilakukan BUMI. Selain itu, BUMI juga bisa lebih mudah memperoleh pendanaan dalam menopang ekspansi usahanya.

Proyeksi ini bisa membawa angin segar untuk meningkatkan daya tarik bagi para investor. Hanya saja, Sukarno punya catatan, seberapa signifikan kuasi reorganisasi bisa memperbaiki fundamental keuangan akan kembali pada strategi usaha BUMI ke depan, terutama dalam meningkatkan maupun menggali potensi pendapatan baru. 

Baca Juga: Prospek Hingga Rekomendasi Saham BUMI Seiring Kuasi Reorganisasi Bumi Resources

Sukarno juga mengingatkan sentimen kuasi reorganisasi terhadap harga saham BUMI lebih ke prospek jangka pendek. 

"Nantinya tetap dilihat prospek kinerjanya seperti apa, terutama kondisi harga komoditas," kata Sukarno kepada Kontan.co.id, Selasa (23/4).

Sukarno menekankan, dinamika harga komoditas batubara global masih tetap menjadi sentimen yang signifikan. Apalagi, sekalipun BUMI nantinya bisa menebar dividen, Sukarno menaksir potensi dividen yield-nya masih mini.

Dus, dengan kenaikan harga saham yang sudah cukup signifikan, Sukarno menyematkan rating neutral atau lebih menyarankan wait and see terlebih dulu terhadap BUMI. Tapi, tetap cermati update harga batubara. Jika masih uptrend, maka layak untuk trading buy.

Sebagai informasi, manajemen BUMI menjelaskan bahwa rencana kuasi reorganisasi dilakukan dengan cara mengeliminasi akumulasi rugi (defisit). Yakni dengan menggunakan posisi agio saham yang merupakan selisih lebih antara setoran modal dengan nilai nominal saham. 

Manajemen BUMI membeberkan lima manfaat dari kuasi reorganisasi ini. Pertama, memberikan gambaran yang sesungguhnya atas kondisi keuangan BUMI saat ini dan ke depannya. BUMI berharap dapat meneruskan usahanya secara lebih baik (fresh start), dengan posisi keuangan sekarang dan tanpa dibebani defisit masa lampau.

Kedua, memperbaiki struktur ekuitas dengan mengeliminasi akumulasi rugi (defisit) dengan menggunakan saldo agio. Ketiga, dengan tidak adanya saldo defisit, maka BUMI dapat memberikan dampak positif bagi para pemegang sahamnya.

Baca Juga: Bumi Resources (BUMI) akan Menghapus Akumulasi Rugi, Harga Sahamnya Melejit 20%

Dengan begitu, BUMI dapat membagi dividen sesuai dengan peraturan yang berlaku, sehingga akan meningkatkan minat dan daya tarik bagi investor untuk memiliki saham BUMI. Keempat, dengan kondisi keuangan yang tanpa dibebani defisit masa lampau, BUMI diharapkan lebih mudah memperoleh pendanaan dalam rangka pengembangan usaha.

Kelima, meningkatkan likuiditas perdagangan saham, nilai investasi bagi investor dan nilai Perseroan. Adapun, rencana kuasi reorganisasi ini akan dilakukan dengan menggunakan laporan posisi keuangan konsolidasian per 31 Desember 2023. 

Dalam menjalankan aksi korporasi tersebut, BUMI akan terlebih dulu meminta persetujuan para pemegang saham. Melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB)  yang akan diselenggarakan pada Kamis, 30 Mei 2024.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×