kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45702,42   14,31   2.08%
  • EMAS934.000 -1,06%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Siantar Top (STTP) naikkan kelas sejumlah produknya


Rabu, 08 Januari 2020 / 20:59 WIB
Siantar Top (STTP) naikkan kelas sejumlah produknya
ILUSTRASI. PRODUSEN MAKANAN RINGAN SNACK PT SIANTAR TOP Tbk STTP

Reporter: Arfyana Citra Rahayu | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten konsumer PT Siantar Top Tbk (STTP) menaikkan kelas sejumlah produknya. Adapun yang dimaksud dengan naik kelas adalah meningkatkan volume serta penampilan kemasan dan isi snacknya, misalnya saja produk yang dinaikkan kelasnya adalah Mie Gemez yang secara packaging dan isi terus dikembangkan.

Direktur Siantar Top Armin menjelaskan naik kelasnya beberapa produk juga diikuti penyesuaian harga jualnya. "Dari produk yang hanya Rp 500 menjadi Rp 1.000 dengan perbedaan isinya lebih banyak dan kemasan juga lebih besar," jelasnya kepada Kontan.co.id, Selasa (7/1).

Armin menjelaskan lebih lanjut menaikkan kelas sejumlah produknya merupakan strategi untuk menghadapi inflasi yang berdampak pada perubahan nilai mata uang yang semakin lama semakin kecil nilainya.

Baca Juga: Siantar Top (STTP) yakin bisa ukir kenaikan penjualan dua digit di tahun depan

Armin mencontohkan, misalnya nilai mata uang Rp 500 akan semakin kecil, ditambah peredaran uang koinnya juga tidak sebanyak dulu.

Meski demikian, Armin mengakui meningkatkan kelas sejumlah produk tidak mudah karena bidikan pasar tentu berubah. Harapannya, STTP bisa mendapatkan volume dan nilai jual menjadi lebih tinggi dari sebelumnya dan bisa mendongkrak penjualan.

Armin mengakui perusahaan sudah menaikkan kelas sejumlah produknya beberapa kali. Namun, yang menjadi catatan Armin adalah perusahaan harus melihat situasi daya beli masyarakat.

Baca Juga: Siantar Top (STTP) menyiapkan capex Rp 560 miliar

Katanya tidak mungkin menaikkan harga begitu saja. Armin menjelaskan belajar dari pengalaman sebelumnya di saat Siantar Top menaikkan harga jual salah satu produknya dari Rp 100 menjadi Rp 200, malah mendapat penolakan di pasar tradisional.

Meski begitu,  Armin menyatakan ada peluang menaikkan harga di pasar modern market karena cara perhitungan harga tidak merujuk pada kelipatan mata uang.

"Kalau di modern market mau bisa dijual seribu sekian, atau dua ribu sekian masih bisa dan tidak mematok pada kelipatan mata uangnya," jelasnya.




TERBARU

Close [X]
×