kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.592.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.918   -15,00   -0,08%
  • IDX 6.094   62,48   1,04%
  • KOMPAS100 785   10,40   1,34%
  • LQ45 602   8,03   1,35%
  • ISSI 213   1,61   0,76%
  • IDX30 334   4,21   1,27%
  • IDXHIDIV20 427   4,86   1,15%
  • IDX80 90   1,14   1,28%
  • IDXV30 117   0,96   0,83%
  • IDXQ30 109   1,31   1,21%

Serangan Houthi Panaskan Tensi Global, Begini Arah Pergerakan Harga Emas


Minggu, 11 Oktober 2026 / 11:50 WIB
Serangan Houthi Panaskan Tensi Global, Begini Arah Pergerakan Harga Emas
ILUSTRASI. Logam Mulia - Emas (REUTERS/Arko Datta)


Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya yang dipicu oleh manuver kelompok Houthi, memberikan sentimen dan ketidakpastian baru terhadap prospek pergerakan aset safe haven.

Melansir Bloomberg pada Jumat, (9/10/2026), harga emas spot bertengger di level US$ 4.194,24 per ons troi, menguat 1,47% atau naik 61,74 poin. 

Pengamat komoditas dan mata uang Ibrahim Assuaibi menyoroti dinamika geopolitik global yang kembali menyedot perhatian pelaku pasar menyusul memanasnya konflik bersenjata yang menyasar infrastruktur energi vital.

Ibrahim menilai bahwa ketegangan di kawasan Arab sangat krusial dalam memengaruhi arah pasar komoditas, termasuk potensi pergerakan nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) dan harga minyak mentah dunia.

Baca Juga: Amman Mineral (AMMN) Masuki Fase Produksi Menguntungkan, Target Saham di Rp 7.000

"Houthi terus melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah Arab Saudi, terutama yang berhubungan dengan minyak, kemudian dengan bandara," ungkap Ibrahim dalam keterangannya, Sabtu (10/10/2026).

Ancaman terhadap fasilitas pasokan minyak akibat ketegangan tersebut memicu kekhawatiran akan melambungnya biaya energi global. Dalam konteks investasi logam mulia, naiknya harga energi menghadirkan dinamika tersendiri karena berpotensi kuat mengerek laju inflasi dan memperumit arah kebijakan moneter.

Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin menjelaskan bahwa apabila lonjakan inflasi energi direspons oleh bank sentral AS (The Fed) dengan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, maka tekanan terhadap emas justru bisa membesar.

Naiknya imbal hasil obligasi akibat berlanjutnya pengetatan moneter sering kali membuat investor beralih dari emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) ke instrumen berbasis bunga.

"Dengan demikian, sentimen geopolitik tidak selalu otomatis membuat harga emas naik. Dampaknya bergantung pada respons pasar terhadap inflasi, suku bunga, dolar AS, dan kebutuhan likuiditas," papar Nanang kepada Kontan, Jumat (9/10/2026).

Alih-alih merespons setiap gejolak geopolitik secara emosional, para pemodal disarankan untuk fokus memantau indikator makroekonomi secara menyeluruh.

Pergerakan indeks dolar, kelanjutan retorika The Fed, serta kuatnya pijakan support emas di rentang US$ 4.000 hingga US$ 4.100 menjadi metrik krusial untuk mengevaluasi apakah volatilitas yang terjadi merupakan koreksi wajar atau sebuah pergeseran fundamental pasar.

Sebagai panduan proyeksi hingga akhir 2026, Nanang memperkirakan pergerakan harga emas secara umum akan berada dalam rentang skenario dasar di level US$ 4.000 hingga US$ 4.400 per ons troi, yang realisasinya akan sangat bergantung pada kekuatan tarik-menarik antara arah kebijakan dolar AS dan permintaan struktural dari bank sentral.

Baca Juga: Ekspor MHP Jadi Katalis Harum Energy (HRUM), Simak Rekomendasi Sahamnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×