kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45892,79   -9,77   -1.08%
  • EMAS932.000 -0,11%
  • RD.SAHAM -0.23%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.08%

Sentuh rekor tertinggi sejak Juni 2019, bagaimana prospek harga minyak ke depan?


Senin, 08 Februari 2021 / 19:55 WIB
Sentuh rekor tertinggi sejak Juni 2019, bagaimana prospek harga minyak ke depan?
ILUSTRASI. Harga minyak mentah. REUTERS/Carlos Garcia Rawlins/File Photo

Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia semakin mendidih. Melansir Bloomberg, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Maret 2021 berada di level US$ 57,55 per barel pada perdagangan Senin (8/2).

Asal tahu, harga minyak mentah saat ini merupakan yang tertinggi sejak Juni 2019. Harga ini naik cukup signifikan dari harga minyak pada akhir 2020, yakni di level US$ 48,63.

Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia Maryoki Pajri Alhusnah menilai, menghangatnya harga minyak akhir-akhir ini salah satunya didorong oleh pemangkasan produksi oleh OPEC.

Baca Juga: Targetkan produksi logam timah di atas 50.000 ton di tahun 2021, begini strategi TINS

Selain itu, pemulihan ekonomi dunia juga turut menunjang naiknya harga minyak. “Dengan berlangsungnya recovery ekonomi di berbagai negara, maka diharapkan akan diiringi dengan naiknya permintaan untuk komoditas minyak,” terang Maryoki kepada Kontan.co.id, Senin (8/2).

Maryoki menilai, harga minyak ini sangat bergantung dengan konsistensi OPEC dalam  program pemangkasan produksinya. NH Korindo Sekuritas melihat, permintaan minyak akan pulih. 

Hanya saja, dari sisi suplai dinilai sulit untuk diprediksi. “Maka dari itu, harga minyak ini akan sangat bergantung pada kebijakan produksi dari OPEC,” sambung dia.

Maryoki memproyeksi bahwa harga minyak akan sulit untuk konsisten berada di atas US$ 70 per barel, dan akan bergerak wajar di rentang US$ 50 sampai US$ 70 per barel, dengan rata-rata harga di kisaran US$ 60 per barel tahun ini.

Baca Juga: Harga minyak kompak menguat 1%, Brent kian dekati US$ 60 per barel

Di sisi lain, kemenangan Joe Biden sebagai Presiden Amerika Serikat (AS) yang pro dengan energi bersih, serta rencana negara-negara lain untuk beralih ke green energy, dinilai akan menggerus prospek minyak, namun tidak dalam jangka waktu yang dekat.

Maryoki melihat, green energy ini adalah program yang cukup bagus, namun akan sulit dilaksanakan dalam waktu yang cepat. Di sisi lain, ancaman dari pengembangan green energy  tersebut dinilai akan mengancam dan menyerang sektor batubara terlebih dahulu, baru kemudian akan mengancam prospek komoditas minyak.

Selanjutnya: Harga minyak WTI sentuh US$ 56,85 per barel pekan lalu, ini faktor penggeraknya

 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.



TERBARU

[X]
×