Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS) atau US Dollar Index (DXY) diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek hingga kuartal I 2026.
Melansir Trading Economics pada Rabu (28/1/2026) pukul 18.08 WIB, indeks dolar AS merosot ke level 96,21 atau turun 2,58% secara mingguan dan 10,91% secara tahunan (YoY).
Analis mata uang dan komoditas Doo Financial Futures Lukman Leong menilai, pelemahan dolar AS kali ini lebih dipicu faktor non-ekonomi. Menurutnya, pasar saat ini tengah diwarnai sentimen Sell America yang cukup kuat.
Baca Juga: Begini Upaya BEI Jaga Pasar Saham RI Agar Tak Turun Kasta Imbas Keputusan MSCI
“Keterpurukan dolar AS kali ini lebih disebabkan sentimen sell America ketimbang data ekonomi. Sentimen negatif ini terkait kekhawatiran investor terhadap kebijakan-kebijakan kontroversial Presiden Donald Trump,” ujar Lukman kepada Kontan, Rabu (27/1/2026).
Ia menjelaskan, tekanan terhadap dolar AS datang dari berbagai isu politik dan geopolitik, mulai dari ancaman kebijakan tarif, wacana penguasaan Greenland, arah kebijakan luar negeri AS yang dinilai semakin isolasionis, hingga gejolak politik dan keamanan domestik seperti penindakan imigran, ancaman impeachment, serta potensi partial shutdown.
Seiring melemahnya dolar AS, sejumlah mata uang Asia terlihat menguat. JPY dicatat menguat terhadap dolar AS sebesar 3,54% secara mingguan ke 152,6.
Baca Juga: Tekanan Indeks Dolar Berlanjut, Yen hingga Won Berpeluang Menguat di Kuartal I-2026
Ada pun SGD menguat 1,82% ke 1,26 per dolar AS. Sementara itu, KRW menguat 2,48% ke 1.427,97 per dolar AS, ada pun CNY juga ditutup menguat 0,25% ke 6,94 per dolar AS, dan IDR ditutup menguat 1,21% ke 16.698 per dolar AS.
Namun, Lukman mengingatkan bahwa penguatan terhadap valuta Asia ini tidak serta-merta akan berlanjut secara berkelanjutan.
“Indonesia dan Jepang relatif merespons positif, namun Singapura dan China belum tentu, karena kedua negara sangat menjaga stabilitas nilai tukar demi kepentingan ekonomi jangka panjang,” lanjutnya.
Lukman menambahkan, pelemahan dolar AS saat ini juga belum tentu bersifat jangka panjang. Dinamika kebijakan The Fed, terutama terkait prospek suku bunga, masih berpotensi mengubah arah pergerakan dolar AS ke depan.
“Namun memposisikan diri untuk penguatan dolar AS juga tidak bijaksana. Kebijakan Trump masih akan terus menekan dolar, tapi sifatnya sangat politis dan bisa berubah cepat,” ujarnya.
Baca Juga: Aksi Massal Jual Dolar Bikin Rupiah Perkasa, Begini Proyeksi Besok (29/1)
Ia menilai fenomena Trump trade kembali relevan, di mana arah kebijakan pemerintahan AS bisa berbalik 180 derajat dalam waktu singkat.
Oleh karena itu, investor dinilai perlu berhati-hati dalam mengambil posisi ekstrem terhadap pergerakan dolar AS.
Adapun untuk prospek mata uang Asia pada kuartal I 2026, Lukman memperkirakan pergerakannya masih akan cenderung terbatas dalam rentang tertentu.
Yen Jepang diperkirakan masih sulit keluar dari kisaran 150-160 per dolar AS. Yuan China diproyeksikan tetap dijaga di rentang 0,68–0,71 per dolar AS.
Sementara itu, dolar Singapura dinilai sudah berada di level terkuat sejak 2014, sehingga berpotensi memicu intervensi otoritas moneter. Lukman memperkirakan SGD akan bergerak di rentang 1,28-1,30 per dolar AS.
Kemudian KRW akan bergerak di kisaran 1.400-1.500 per dolar AS.
Untuk rupiah, Lukman menilai penguatan dolar AS yang melemah belum cukup menjadi katalis positif yang signifikan, mengingat masih adanya tantangan domestik.
“Rupiah masih perlu membenahi masalah internal seperti defisit anggaran dan prospek suku bunga BI. Pelemahan dolar AS tidak serta-merta membuat rupiah menguat signifikan, idealnya rupiah bergerak di kisaran Rp 16.500 - Rp 16.800 per dolar AS,” pungkasnya.
Selanjutnya: 8 Makanan Olahan yang Bisa Bikin Tekanan Darah Naik, Batasi Konsumsinya!
Menarik Dibaca: 8 Makanan Olahan yang Bisa Bikin Tekanan Darah Naik, Batasi Konsumsinya!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













