kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45895,84   4,26   0.48%
  • EMAS1.325.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Sentimen Positif Mewarnai Pasar SBN, Tenor Pendek dan Menengah Bisa Jadi Pilihan


Jumat, 12 Mei 2023 / 17:20 WIB
Sentimen Positif Mewarnai Pasar SBN, Tenor Pendek dan Menengah Bisa Jadi Pilihan
ILUSTRASI. Yield obligasi Indonesia tenor 10 tahun (seri benchmark) tercatat melandai ke level 6,4%.


Reporter: Nur Qolbi | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tingkat inflasi Amerika Serikat (AS) yang mulai melandai menjadi sentimen positif bagi pasar Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia. Inflasi yang melandai dapat membuat The Fed mengambil jeda dalam kenaikan suku bunganya yang agresif.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian mengatakan, krisis perbankan di AS dan mulai melemahnya data tenaga kerja AS juga menjadi sentimen positif pasar SBN dalam negeri. Selain itu, ada spekulasi mengenai penurunan suku bunga Bank Indonesia yang kemungkinan terjadi mulai tahun ini atau tahun depan.

"Melihat faktor-faktor tersebut, sekarang merupakan momen yang tepat untuk masuk ke pasar SBN Indonesia," ungkap Fajar saat dihubungi Kontan.co.id, Jumat (12/5).

Yield obligasi Indonesia tenor 10 tahun (seri benchmark) tercatat melandai ke level 6,4% belakangan ini. Posisi ini merupakan level terendah sejak Januari tahun 2022.

Baca Juga: Penawaran ST010 Resmi Dibuka Hari Ini, Cek Informasi Lengkapnya

Sementara itu, tingkat inflasi terakhir Indonesia berada di 4,3% pada April 2023. Dengan begitu, real yield obligasi Indonesia adalah sebesar 2,1%, termasuk yang tertinggi di regional dan peers, hanya kalah dari China.

Menurutnya, obligasi bertenor pendek dan menengah menarik untuk trading. Namun, yield-nya telah turun signifikan sehingga valuasinya sudah agak mahal.

"Untuk itu, investor bisa melihat obligasi bertenor pendek dan menengah yang masih undervalued, meskipun tingkat likuiditasnya tidak sebagus yang sudah mengalami penurunan yield cukup signifikan," tutur Fajar.

Baca Juga: Surplus Bank Indonesia untuk Amunisi Kebijakan

Di sisi lain, obligasi bertenor panjang menarik dari sisi valuasi dan potensi capital gain. Namun, pergerakannya relatif minim dan agak lagging.

Meski tingkat inflasi di Indonesia dan AS sama-sama melandai, investasi obligasi di Indonesia jauh lebih menarik. Sebagaimana diketahui, AS sedang dihadapkan dengan krisis perbankan dan krisis plafon utang yang berpotensi membuat gagal bayar.

"Kalau nanti AS benar-benar terancam bangkrut, maka yang pegang obligasi AS jadi tidak memperoleh dananya," ucap Fajar. Oleh karena itu, saat ini, yield obligasi AS bertenor pendek naik cukup signifikan karena mengantisipasi potensi gagal bayar tersebut.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×