Reporter: Prayogi Ikhrawinata | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak dunia berpeluang melanjutkan pelemahan dalam jangka pendek hingga menengah. Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu (midterm elections) Amerika Serikat (AS) memicu ekspektasi meningkatnya tekanan politik terhadap pemerintahan Donald Trump untuk mengakhiri konflik dengan Iran.
Mengutip data Tradingeconomics pada Kamis (5/11) pukul 17.43 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran US$ 88,59 per barel setelah terkoreksi pada perdagangan sebelumnya. Pada saat bersamaan, harga minyak Brent bergerak di level US$ 96,04 per barel.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, memproyeksikan pergerakan harga minyak masih cenderung melemah dalam jangka pendek. Meski demikian, volatilitas pasar yang tinggi berpotensi menahan koreksi agar tidak berlangsung lurus.
Baca Juga: IHSG Menguat 2,25% ke 5.030, Analis Proyeksikan Rebound Berlanjut
"Jadi, sentimen diplomasi dapat menekan harga dengan cepat, tetapi pemulihan pasokan riil akan berjalan lebih lambat," ujar Yusuf kepada KONTAN, Kamis (5/11).
Tren penurunan belakangan ini menandai bahwa pasar mulai memperhitungkan peluang perdamaian dan pemulihan pasokan. Namun, kondisi pasar fisik yang masih ketat akan membatasi ruang penurunan lebih lanjut. Neraca minyak global diperkirakan tetap defisit hingga akhir tahun, sementara pasokan distilat menengah berpotensi terbatas sampai 2027.
Di sisi produksi, pemulihan pasokan riil diproyeksikan memakan waktu. Tujuh anggota inti OPEC+ pada Agustus 2026 hanya memproduksi sekitar 25 juta barel per hari, atau 5 juta barel per hari di bawah tingkat sebelum perang.
Ke depan, pergerakan harga akan dipengaruhi oleh kebijakan produksi OPEC+, perundingan Rusia-Ukraina,arah suku bunga The Federal Reserve (The Fed), hingga konsumsi musim dingin. Selain itu, harga minyak yang tinggi telah menekan konsumsi, sehingga permintaan minyak dunia diperkirakan turun rata-rata 2,6 juta barel per hari pada 2026.
"Kami fokus melihat beberapa bulan ke depan, faktor paling menentukan tetap kecepatan pemulihan pasokan fisik. Berita diplomasi dapat mengubah ekspektasi pasar dalam hitungan hari, sedangkan produksi dan jalur distribusi membutuhkan waktu lebih panjang untuk kembali normal," ungkapnya.
Untuk proyeksi hingga akhir tahun 2026, Yusuf mematok skenario dasar harga Brent di kisaran US$ 88 hingga US$ 98 per barel dan WTI di rentang US$ 82 hingga US$ 92 per barel. Skenario ini mengasumsikan perundingan berjalan tanpa kesepakatan penuh.
Yusuf menilai, kesepakatan perdamaian tercapai serta pelayaran di Selat Hormuz aman, harga Brent berpotensi turun ke US$ 80–US$ 85 per barel dan WTI ke US$ 75–US$ 80 per barel. Sebaliknya, bila perundingan gagal atau eskalasi meningkat, Brent berisiko melonjak ke US$ 105–US$ 115 per barel dan WTI ke US$ 98–US$ 108 per barel.
"Risiko harga saat ini masih lebih besar ke arah kenaikan karena pasar sudah memasukkan sebagian peluang perdamaian. Sentimen itu dapat berbalik dengan cepat jika perkembangan politik tidak sesuai harapan," kata Yusuf.
Penurunan harga minyak dunia turut memberi angin segar bagi Indonesia untuk mengurangi tekanan subsidi energi, inflasi, dan devisa. Namun, volatilitas yang masih tinggi membuat harga saat ini belum ideal dijadikan acuan dasar kebijakan fiskal pemerintah.
Baca Juga: Pasar Saham Bergejolak, BNP Paribas AM Andalkan Strategi Ini demi Lindungi Investasi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Executive Education Program] Sustainable Development and ESG Leadership](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_23102611123400.jpeg)
