Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wacana buyback saham BUMN yang didorong DPR di tengah kondisi pasar yang bergejolak dinilai menjadi sentimen positif bagi pasar modal domestik.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) David Kurniawan mengatakan, langkah tersebut merupakan respons strategis pemerintah untuk menjaga stabilitas pasar saham.
“Wacana buyback saham BUMN ini mengirimkan sinyal kuat bahwa otoritas berkomitmen dalam menjaga stabilitas bursa di tengah tekanan pasar,” ujar David kepada Kontan, Selasa (9/6/2026).
Menurut David, aksi buyback secara historis efektif menjadi jangkar likuiditas sekaligus bantalan bagi indeks saat pasar mengalami tekanan.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Bergerak Fluktuatif pada Rabu (10/6), Ini Kata Analis
Secara psikologis, langkah ini juga dinilai mampu meningkatkan kepercayaan investor domestik dan meredam kepanikan pelaku pasar, khususnya investor ritel.
“Stabilisasi saham-saham BUMN yang memiliki bobot besar di indeks akan menjadi motor penggerak pemulihan IHSG secara keseluruhan,” jelasnya.
Dari sisi sektoral, saham-saham perbankan pelat merah diperkirakan menjadi pihak yang paling diuntungkan dari kebijakan ini.
David menyebut emiten seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) berpotensi mencatatkan dampak positif paling cepat, didukung likuiditas yang besar serta perannya sebagai penopang utama indeks.
Meski demikian, ia mengingatkan adanya sejumlah risiko dalam implementasi buyback, terutama di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.
“Risiko utamanya adalah potensi terkurasnya likuiditas kas emiten jika tekanan jual dari investor asing berlangsung lebih lama dari perkiraan,” ungkapnya.
Oleh karena itu, timing pelaksanaan buyback menjadi krusial agar dana tidak habis di awal fase penurunan pasar.
Dalam menyikapi kondisi ini, David menyarankan investor untuk tetap bersikap optimistis namun selektif.
Strategi akumulasi bertahap atau buy on weakness dinilai menjadi pendekatan yang tepat di tengah ketidakpastian pasar.
Untuk pilihan saham, ia merekomendasikan BMRI yang dinilai memiliki valuasi atraktif, serta PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang menarik untuk diakumulasi seiring potensi pemulihan pasar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













