Reporter: Dimas Andi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah emiten telah dan sedang melaksanakan pembelian kembali (buyback) saham sejak awal 2026. Namun, kondisi pasar yang terus bergejolak oleh berbagai faktor membuat aksi korporasi tersebut tidak banyak menolong harga saham emiten yang bersangkutan dari risiko koreksi.
Contoh emiten berkapitalisasi besar yang menggelar buyback saham adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Emiten perbankan swasta ini menyediakan dana Rp 5 triliun untuk buyback yang berlangsung sejak 12 Maret 2026 sampai 11 Maret 2027. Namun, harga saham BBCA masih berada di zona merah sejak awal tahun atau terkoreksi 30,22% year to date (ytd) ke level Rp 5.600 per saham hingga Rabu (1/7).
Emiten perbankan lainnya, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) juga melakukan aksi buyback senilai Rp 1,17 triliun yang dimulai dari 30 April 2026—20 April 2027. Sejak awal tahun, harga saham BMRI melemah 24,93% ytd ke level Rp 3.810 per saham.
Baca Juga: Minat Terhadap Aset Kecerdasan Buatan Global Meningkat, Bittime Tawarkan Fitur Ini
Selain itu, ada PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) yang menggelar buyback saham Rp 4 triliun dari 9 Juni 2026—8 Juni 2027. Hingga Rabu (1/7), harga saham TLKM anjlok 29,68% ytd ke level Rp 2.440 per saham.
PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) juga telah melaksanakan buyback saham senilai Rp 2 triliun dari 4 Februari 2026—3 Mei 2026, di mana emiten ini sudah merealisasikan penggunaan seluruh dananya untuk buyback. Namun, harga saham emiten milik Prajogo Pangestu ini merosot 76,42% ytd ke level Rp 1.680 per saham.
Nasib berbeda dialami oleh PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) yang tengah melaksanakan buyback saham senilai Rp 5 triliun dari 20 April 2026—20 April 2027. Harga saham ADRO mampu menguat 24,18% ytd ke level Rp 2.260 per saham.
Berkaca dari itu, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menilai, pada dasarnya buyback saham lebih berfungsi sebagai penopang permintaan (demand cushion) ketimbang penahan harga. Dari situ wajar apabila aksi buyback belum mampu mengimbangi tekanan makro di pasar seperti arus keluar dana asing, suku bunga acuan tinggi, dan efek keputusan MSCI yang membebani saham berkapitalisasi besar.
Baca Juga: MAP Aktif (MAPA) Akuisisi Bisnis di Malaysia Rp 2,5 Triliun, Ini Dampaknya ke Saham
“Nilai buyback masih relatif kecil dibandingkan outflow asing, sehingga ini membuat efek buyback tersebut kurang terlihat,” ujar dia, Rabu (1/7/2026).
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan, aksi buyback jika tidak didukung oleh sentimen global dan domestik yang positif justru akan menjadi kesempatan bagi para pelaku pasar dan investor sebelumnya untuk keluar.
Sebenarnya, jika sentimen dalam dan luar negeri cukup kondusif, ditambah adanya sentimen dari emiten yang tengah giat melakukan aksi korporasi, maka investor juga akan berpartisipasi dalam pembelian saham tersebut. Apalagi, dana buyback yang disediakan oleh emiten berkapitalisasi besar jumlah tidak main-main. Dengan jumlah sebesar itu, harusnya aksi buyback akan mendorong kenaikan harga suatu saham secara berkelanjutan.
“Yang dibutuhkan sekarang adalah momentum yang tepat, ditambah sentimen yang kuat dan kalau bisa ada aksi korporasi dari emiten yang akan membantu meningkatkan daya tarik bagi pelaku pasar atau investor,” ungkap dia, Rabu (1/7/2026).
Terlepas dari itu, buyback saham tetap menjadi langkah yang positif bagi emiten pelaksananya. Hal ini menunjukkan keyakinan manajemen terhadap perusahaannya. Lagi pula, ketika suatu saham mengalami penurunan harga, namun tetap memiliki fundamental kuat, ini justru akan semakin meningkatkan daya tarik valuasi emiten tersebut. Di atas kertas, investor pasti akan kembali masuk ketika periode buyback saham berlangsung.
“Namun memang, momentum dan sentimen memainkan peranan yang sangat penting untuk saat ini agar saham naik secara berkelanjutan,” imbuh Nico.
Sementara itu, Wafi memperkirakan tren buyback saham oleh emiten bakal tetap ramai selama banyak saham berfundamental kuat dinilai memiliki valuasi murah. Buyback juga menjadi sinyal kepercayaan manajemen emiten yang bersangkutan terhadap prospek kinerja jangka panjang. Namun, kembali lagi, efektivitas buyback baru akan terlihat setelah tekanan makro di pasar mereda.
Di sisi lain, Nico mengingatkan agar investor tidak sekadar ikut-ikutan membeli saham dari emiten yang melaksanakan buyback. Investor tetap harus melakukan perhitungan secara matang terkait valuasi emiten tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














