Reporter: Avanty Nurdiana | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melejit 24,55% di level Rp 4.110 per saham hingga pukul 11.59 WIB, Selasa (2/6/2026). Kenaikan harga saham tersebut membuat saham BREN melewati target saham yang dibuat oleh Henan Putihrai Sekuritas pada 26 Mei 2026 di Rp 3.890 per saham.
Sementara itu analis yang dihimpun Bloomberg masih belum merevisi target harga saham BREN. Maklum secara year to date saham BREN telah anjlok 57,52% atau turun Rp 5.565 per saham.
Saham BREN menurut riset yang dibuat oleh Dennis Tay dinilai tetap menjadi salah satu emiten energi baru terbarukan paling menjanjikan di Indonesia, dengan prospek pertumbuhan jangka panjang yang kuat di tengah akselerasi transisi energi nasional.
Baca Juga: Dapat Restu, INET Perluas Lini Usaha Perdagangan Perangkat Telekomunikasi
Dennis menegaskan bahwa BREN merupakan pemain geotermal terbesar di Indonesia dengan kapasitas terpasang sekitar 989 MW pada tahun 2025, serta memiliki ambisi ekspansi agresif menuju 2,3–2,8 GW pada tahun 2032.
Ekspansi tersebut akan ditopang oleh optimalisasi aset eksisting, pengembangan proyek greenfield geotermal seperti Hamiding (Maluku Utara) dan South Sekincau (Sumatra), serta diversifikasi ke proyek energi angin seperti Sidrap 2, Lombok, dan Sukabumi.
Menurut Dennis, kekuatan utama BREN terletak pada kualitas aset dan struktur kontraknya yang sangat defensif. Seluruh aset geotermal BREN terikat kontrak jangka panjang dengan PLN sebagai pembeli tunggal, sehingga memberikan visibilitas pendapatan yang stabil.
“Model bisnis BREN menyerupai infrastruktur dengan arus kas jangka panjang yang stabil, didukung kapasitas pembangkit tinggi sekitar 85% dan skema tarif yang terregulasi,” tulis Dennis dalam riset tersebut.
Dengan karakteristik tersebut, BREN dipandang memiliki profil pendapatan yang tahan siklus dan relatif terlindungi dari volatilitas harga komoditas energi.
Henan Putihrai juga menilai BREN berada di posisi strategis untuk menangkap momentum transisi energi Indonesia. Berdasarkan roadmap PLN, kapasitas pembangkit berbasis energi baru terbarukan akan meningkat signifikan dalam satu dekade ke depan, dengan porsi besar berasal dari geotermal dan energi angin.
Baca Juga: Sentimen MSCI Sudah Lewat, Kinerja Fundamental Jadi Penentu Prospek Saham BBCA
Permintaan listrik nasional yang diperkirakan tumbuh sekitar 3,2% CAGR hingga tahun 2034 menjadi katalis tambahan bagi ekspansi BREN.
Dari sisi kinerja keuangan, BREN diproyeksikan mencatat pertumbuhan yang kuat, dengan pendapatan dan EBITDA masing-masing tumbuh sekitar 27% CAGR hingga tahun 2030.
Lebih lanjut, Dennis menyoroti margin EBITDA BREN yang mencapai lebih dari 80%, menjadikannya salah satu yang tertinggi di antara pemain geotermal global. Hal ini dimungkinkan oleh struktur biaya rendah khas geotermal, di mana tidak ada biaya bahan bakar dan tingkat utilisasi yang tinggi.
Hitungan Henan Putihrai Sekuritas dengan target harga Rp 3.890 per saham. Saat riset dibuat, Dennis masih rekomendasi beli saham BREN. Namun menurut rating scale yang dibuat Henan dengan posisi harga saat ini di Rp 4.110 maka rekomendasinya di posisi Hold.
Valuasi tersebut didasarkan pada metode discounted cash flow (DCF), dengan asumsi WACC 6,4% dan pertumbuhan terminal 2,5%. Dalam pandangan Henan Putihrai, BREN layak diperdagangkan pada premium karena karakteristiknya sebagai aset infrastruktur energi jangka panjang.
“BREN bukan sekadar emiten energi, tetapi platform infrastruktur energi terbarukan dengan kualitas arus kas yang sangat defensif,” tulis Dennis.
Meski prospeknya dinilai solid, Henan Putihrai tetap mengingatkan sejumlah risiko, termasuk kebutuhan belanja modal besar, risiko eksplorasi sumur geotermal, keterlambatan pembangunan infrastruktur, hingga ketidakpastian regulasi dan perizinan.
Namun demikian, dukungan kuat dari Grup Barito Pacific serta kontrak jangka panjang dengan PLN dinilai menjadi penyangga utama stabilitas bisnis BREN dalam jangka panjang.
Baca Juga: Saham Prajogo Pangestu Kompak Meroket, Ini Saran Buat Anda Pemilik Saham
Hingga akhir tahun 2026, Henan proyeksi pendapatan BREN aan di kisaran US$ 806,7 juta dengan laba bersih US$ 208,3 juta. Sementara di 2027, Dennis memperkirakan pendapatan dan laba bersih BREN bisa sebesar US$ 928,5 juta dan US$ 255,4 juta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













