kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.842   -48,00   -0,27%
  • IDX 6.402   100,12   1,59%
  • KOMPAS100 829   5,89   0,72%
  • LQ45 632   5,12   0,82%
  • ISSI 223   5,51   2,54%
  • IDX30 354   2,79   0,80%
  • IDXHIDIV20 430   2,74   0,64%
  • IDX80 95   0,68   0,73%
  • IDXV30 119   1,18   1,00%
  • IDXQ30 112   0,79   0,71%

Safe Haven Masih Diburu, Cermati Prospek dan Rekomendasi Saham HRTA di 2026


Selasa, 30 Juni 2026 / 18:05 WIB
Safe Haven Masih Diburu, Cermati Prospek dan Rekomendasi Saham HRTA di 2026
ILUSTRASI. Hartadinata Abadi (HRTA) Perkenalkan Dua Produk Emas Tematik (DOK/HRTA)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli

Dari sisi katalis, Nafan melihat konflik geopolitik di Timur Tengah, termasuk dinamika di jalur pelayaran Selat Hormuz dan tensi antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran, masih menjaga harga emas dunia bertahan di atas level US$ 4.000 per ons troi.

Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) produk HRTA.

Selain itu, pembentukan ekosistem Bullion Bank nasional juga menjadi peluang baru bagi perseroan.

Baca Juga: Strategi Optimalkan Cuan di Tengah Rotasi Aset ke Safe Haven

Sebagai salah satu pemain emas terintegrasi terbesar di Indonesia, HRTA dinilai berpeluang menjadi mitra strategis dalam pengembangan ekosistem bank emas nasional.

Nafan juga menilai kerja sama strategis HRTA dengan perusahaan tambang besar, seperti Danusa Tambang dan Agincourt Resources, dapat membantu menjaga stabilitas pasokan bahan baku sekaligus memitigasi risiko kelangkaan emas untuk kebutuhan produksi.

Meski demikian, terdapat sejumlah risiko yang perlu dicermati investor. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi meningkatkan biaya pengadaan bahan baku karena transaksi emas global menggunakan mata uang dolar AS. 

 

Selain itu, apabila inflasi global kembali meningkat dan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi, daya tarik emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) berpotensi mengalami koreksi jangka pendek.

Risiko lain datang dari harga emas yang terus meningkat. Menurut Nafan, harga emas domestik yang telah berada di kisaran Rp 2,6 juta per gram berpotensi menekan daya beli masyarakat, khususnya pada segmen perhiasan.

Baca Juga: Perlahan Bergeser dari Safe Haven, Peluang Selektif Masuk ke Saham di Kuartal II

Kondisi tersebut dapat mendorong konsumen menunda pembelian atau beralih ke produk berkadar emas lebih rendah.

Di sisi internal, ekspansi gerai yang agresif juga harus diimbangi dengan pengelolaan struktur keuangan yang sehat. Nafan menyoroti posisi liabilitas HRTA yang mencapai sekitar Rp 10,1 triliun pada kuartal I-2026. 

Dengan demikian, Nafan saat ini masih memberikan rekomendasi wait and see terhadap saham HRTA.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×