kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.059.000   35.000   1,16%
  • USD/IDR 16.960   17,00   0,10%
  • IDX 7.586   -124,85   -1,62%
  • KOMPAS100 1.060   -17,16   -1,59%
  • LQ45 776   -11,77   -1,49%
  • ISSI 267   -5,67   -2,08%
  • IDX30 410   -8,94   -2,13%
  • IDXHIDIV20 507   -8,43   -1,64%
  • IDX80 119   -2,14   -1,77%
  • IDXV30 137   -1,76   -1,26%
  • IDXQ30 133   -2,57   -1,90%

Konflik Timur Tengah Memanas, Analis Sarankan Diversifikasi Aset Safe Haven


Minggu, 08 Maret 2026 / 15:49 WIB
Konflik Timur Tengah Memanas, Analis Sarankan Diversifikasi Aset Safe Haven


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Eskalasi konflik di Timur Tengah mendorong minat investor terhadap aset safe haven. Instrumen seperti emas, dolar Amerika Serikat (AS), yen Jepang, dan franc Swiss menjadi tujuan utama arus dana karena dinilai lebih stabil di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik.

Melansir data Trading Economics, harga emas pada penutupan pasar spot Jumat (6/3/2026) naik 1,47% ke US$ 5.158,89 per ons troi dibanding hari sebelumnya. Sementara itu, DXY berada di level 98,98, menguat 2,24% dalam sebulan.

Adapun pairing valas USD/JPY berada di level 157,8 atau menguat 1,26% dalam sebulan. Kemudian, pairing valas USD/CHF juga menguat 1,28% dalam sebulan menjadi 0,77.

Analis Komoditas Doo Financial Futures Lukman Leong menilai investor ritel sebaiknya tidak mengalihkan seluruh portofolio ke aset safe haven.

"Strateginya lebih pada diversifikasi, misalnya dengan menambah porsi emas, dolar AS, atau instrumen berbasis obligasi berkualitas tinggi untuk menyeimbangkan risiko dari aset yang lebih volatil seperti saham," kata Lukman saat dihubungi Kontan pada Minggu (8/3/2026).

Baca Juga: Konflik Geopolitik Memanas, Franc Swiss Kembali Dilirik sebagai Safe Haven

Lukman juga menyarankan porsi emas sekitar 5–10% dari portofolio sebagai lindung nilai. Namun, saat risiko geopolitik meningkat, porsi ini bisa meningkat menjadi sekitar 10–20% tergantung profil risiko investor.

Menurut Lukman, banyak investor menganggap aset safe haven selalu naik saat krisis, padahal dalam jangka pendek harga bisa tetap volatil.

Alasannya karena likuidasi pasar, penguatan dolar, atau perubahan kebijakan moneter. Risiko volatilitas jangka pendek ini sering diabaikan.

"Jika ketegangan geopolitik dan ketidakpastian global tetap tinggi, emas berpotensi tetap kuat atau melanjutkan tren naik," sambung Lukman.

Sementara itu, dolar AS kemungkinan masih bertahan kuat karena permintaan safe haven. Yen Jepang berpotensi menguat terbatas jika arus risk-off meningkat, meskipun pergerakannya masih dipengaruhi kebijakan moneter Jepang. Franc Swiss (CHF) juga masih mendapatkan sentimen positif dari investor sebagai aset safe haven.

Apabila konflik Timur Tengah berkepanjangan, Lukman memproyeksi harga emas mencapai US$ 5.400–US$ 5.600 per ons troi, pairing valas USD/JPY berada di kisaran level 150–165, dan DXY berada di level 98–102.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Financial Statement in Action AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026

[X]
×