Reporter: Alya Fathinah | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berada dalam tekanan berat setelah turun ke level terendah sejak pandemi Covid-19. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya persepsi risiko investor terhadap pasar keuangan Indonesia di tengah kombinasi sentimen negatif dari dalam dan luar negeri.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup anjlok 245,02 poin atau 4,2% ke 5.594 pada akhir perdagangan Jumat (5/6/2026).
Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis Tambolang menilai volatilitas pasar saham domestik masih berpotensi tinggi dalam jangka pendek. Alasannya, investor saat ini dihadapkan pada berbagai ketidakpastian yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Baca Juga: OJK: 15 Perusahaan Antre IPO, Nilai Pipeline Capai Rp 56,93 Triliun
"Dari sisi teknikal, tren IHSG masih berada dalam fase bearish sehingga peluang terjadinya tekanan lanjutan masih terbuka hingga ke support kritikal di kisaran 5.400-5.500," ujar Alrich kepada Kontan, Jumat (5/6/2026).
Menurutnya, selain isu peninjauan klasifikasi pasar oleh MSCI, terdapat sejumlah faktor lain yang masih menjadi perhatian pelaku pasar. Salah satunya adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang berpotensi meningkatkan risiko capital outflow sekaligus mengurangi daya tarik aset Indonesia di mata investor asing.
Selain itu, ketidakpastian arah kebijakan ekonomi dan fiskal pemerintah membuat investor cenderung menunggu kejelasan sebelum menambah eksposur di pasar saham.
Alrich juga menyoroti kekhawatiran terhadap perlambatan pertumbuhan ekonomi domestik yang dapat mempengaruhi prospek kinerja emiten ke depan. Di saat yang sama, dinamika suku bunga global, khususnya kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS), masih berpotensi mempengaruhi arus modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia.
Faktor lain yang turut dicermati investor adalah perkembangan geopolitik global serta pergerakan harga komoditas yang dapat berdampak terhadap neraca perdagangan nasional dan profitabilitas sejumlah emiten.
Meski demikian, peluang pemulihan IHSG hingga akhir tahun tetap terbuka. Alrich mengatakan arah pergerakan indeks akan sangat bergantung pada stabilitas nilai tukar rupiah, perkembangan kebijakan ekonomi pemerintah, arus dana asing, serta kemampuan emiten membukukan pertumbuhan laba sesuai ekspektasi pasar.
Baca Juga: BCA Realisasikan Dividen Interim Tiga Kali Setahun, Termin Pertama Rp20 per Saham
"Apabila faktor-faktor tersebut mulai membaik, potensi pemulihan IHSG tetap terbuka. Namun untuk saat ini pasar masih membutuhkan katalis yang kuat untuk memicu rerating yang berkelanjutan," kata Alrich.
Di tengah tingginya ketidakpastian, Alrich mengingatkan investor agar tidak terburu-buru melakukan pembelian secara agresif hanya karena valuasi saham terlihat murah.
Ia menyarankan investor menerapkan strategi akumulasi bertahap pada saham-saham dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, serta memiliki karakter defensif terhadap perlambatan ekonomi. Investor juga perlu menjaga porsi kas yang memadai guna mengantisipasi potensi volatilitas lanjutan.
Sementara bagi trader jangka pendek, disiplin dalam menerapkan batas kerugian (stop loss) dan pengelolaan posisi menjadi aspek penting mengingat tren pasar secara keseluruhan masih cenderung lemah.
Dari sisi sektoral, Alrich melihat saham-saham perbankan berkapitalisasi besar masih menarik untuk dicermati. Menurutnya, sektor ini ditopang fundamental yang kuat, kualitas aset yang terjaga, serta valuasi yang telah terkoreksi cukup dalam.
Beberapa saham yang direkomendasikan untuk dipantau antara lain BBCA, BMRI, BBNI, dan BBRI.
Selain itu, sektor telekomunikasi juga dinilai layak menjadi pilihan defensif. Alrich menyebut TLKM memiliki pendapatan yang relatif stabil sehingga lebih mampu bertahan di tengah ketidakpastian ekonomi.
"Fokus investor saat ini sebaiknya bukan hanya mencari saham yang murah, tetapi mencari emiten yang mampu mempertahankan pertumbuhan laba dan memiliki fundamental yang kuat di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar," tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













