CLOSE [X]
kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.601.000   -9.000   -0,34%
  • USD/IDR 17.880   -62,00   -0,35%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Rupiah Berpeluang Kembali Melemah pada Selasa (21/7/2026), Cermati Sentimennya


Selasa, 21 Juli 2026 / 07:00 WIB
Rupiah Berpeluang Kembali Melemah pada Selasa (21/7/2026), Cermati Sentimennya
ILUSTRASI. Nilai tukar rupiah berpeluang kembali tertekan pada perdagangan Selasa (21/7/2026), dipicu memanasnya perang Iran.(AFP/BAY ISMOYO)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah berpeluang kembali tertekan pada perdagangan Selasa (21/7/2026). Memanasnya perang Iran berpotensi membuat investor Kembali ke safe haven seperti dolar AS, sehingga berpotensi menekan rupiah.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, untuk perdagangan Selasa (21/7/2026), pelaku pasar masih akan mencermati perkembangan konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas.

Ia menjelaskan, kedua negara saling melancarkan serangan sepanjang akhir pekan. Komando Pusat AS (CENTCOM) kembali melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, sementara Iran meningkatkan serangan terhadap negara-negara Teluk. Konflik tersebut masih berpusat pada perebutan kendali Selat Hormuz.

Baca Juga: Simak Rekomendasi Teknikal Saham SMGR, INKP dan MAPI untuk Hari Ini (21/7)

Menurut Ibrahim, terganggunya aktivitas pengiriman melalui Selat Hormuz membuat pasar tetap mewaspadai potensi gangguan pasokan minyak global. 

"Harga minyak yang lebih tinggi telah memperbarui kekhawatiran bahwa inflasi dapat tetap di atas target Federal Reserve, yang berpotensi memaksa para pembuat kebijakan untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya mendukung imbal hasil obligasi pemerintah dan dolar AS," lanjutnya.

Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 17.940 hingga Rp 18.000 per dolar AS pada perdagangan Selasa (21/7/2026).
 
Asal tahu saja, pada Senin (20/7/2026), rupiah spot ditutup di level Rp 17.948 per dolar AS, melemah 0,15% dibandingkan dengan penutupan pada Jumat (17/7/2026) di Rp 17.921 per dolar AS.

Sejalan dengan itu, rupiah pada kurs Jisdor BI juga ditutup melemah 0,18% menjadi Rp 17.976 per dolar AS, dibandingkan penutupan akhir pekan lalu yang di level Rp 17.944 per dolar AS.

Ibrahim mengatakan tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari sentimen eksternal, tetapi juga dipengaruhi kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Menurut Ibrahim, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 diperkirakan hanya mencapai sekitar 4,9% secara tahunan (year on year/yoy). Meskipun realisasi investasi mencapai Rp 511,8 triliun atau tumbuh 7,1% yoy, capaian tersebut dinilai belum mampu mengimbangi perlambatan konsumsi rumah tangga dan lemahnya investasi domestik. 

Baca Juga: IHSG Lanjut Reli di Hari ke-8, Cek Saham yang Banyak Diborong Asing, Senin (20/7)

"Di tengah derasnya arus investasi asing, melemahnya investasi domestik serta lesunya konsumsi rumah tangga diperkirakan akan menahan pertumbuhan ekonomi nasional di bawah level 5%," ujar Ibrahim, Senin (20/7/2026).

Jika dicermati lebih dalam, kualitas pertumbuhan investasinya mulai menunjukkan perbedaan yang cukup jelas. Ia menjelaskan, pertumbuhan investasi saat ini semakin bergantung pada Penanaman Modal Asing (PMA) yang tumbuh 27,5% secara tahunan. Sebaliknya, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) justru terkontraksi 7,8% yoy, menjadi kontraksi pertama sejak kuartal I-2021.

Kondisi tersebut menunjukkan investor asing masih percaya terhadap prospek jangka panjang Indonesia, terutama pada sektor hilirisasi dan industri berbasis sumber daya alam. Namun, pelaku usaha domestik masih cenderung menunda ekspansi akibat lemahnya permintaan dalam negeri, tingginya biaya pendanaan, dan ketidakpastian ekonomi.

Karena itu, Ibrahim menilai pemerintah perlu mendorong investasi ke sektor-sektor padat karya seperti manufaktur, industri makanan dan minuman, tekstil, elektronik, serta ekonomi digital agar mampu menciptakan lapangan kerja dan memperkuat daya beli masyarakat. 

Di sisi lain, peningkatan kualitas sumber daya manusia, penyederhanaan perizinan, kemudahan berusaha, dan kepastian regulasi juga diperlukan untuk meningkatkan kualitas investasi yang masuk.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×