Reporter: Yuliana Hema | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Selasa (23/6) dengan melemah 0,25% ke level 6.101,33. Sepanjang tahun berjalan ini, IHSG sudah anjlok 29,44%.
Tekanan utamanya datang dari rontoknya saham-saham berkapitalisasi jumbo alias big cap. Di mana, saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) yang turun 79,46% tercatat menjadi laggard sebanyak 283,49 poin sepanjang tahun ini.
Lalu saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) yang menggerus IHSG sebesar 222,26 poin. Disusul saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) 184,41 poin, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) 117,74 poin dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) 102,49 poin.
Baca Juga: Fenomena Inverted Yield Curve Muncul, Arus Dana Lebih Banyak Mengalir ke SRBI
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang tahun ini diwarnai fenomena yang tidak biasa. Di tengah tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar, sejumlah saham lapis kedua justru tampil sebagai motor penggerak indeks.
Namun, pelemahan IHSG tertahan oleh penguatan sejumlah saham mid cap. Di mana, PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) menjadi kontributor terbesar terhadap kenaikan IHSG sepanjang tahun ini dengan kontribusi 51,56 poin.
Di belakangnya ada saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) yang berkontribusi sebesar 15,30 poin, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) 14,69 poin, PT Capital Financial Indonesia Tbk (CASA) 14,44 poin dan PT Bank Mega Tbk (MEGA) 9,44 poin.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai dominasi saham lapis kedua terjadi karena adanya rotasi investasi dari saham-saham big caps yang selama beberapa tahun terakhir menjadi pemimpin pasar.
"Investor mulai mencari ruang alpha baru. Banyak saham mid cap menawarkan pertumbuhan laba yang lebih tinggi dan belum terlalu crowded dibanding saham-saham besar," ujar Nafan kepada Kontan, Selasa (23/6).
Baca Juga: IHSG Tertekan Menjelang MSCI Review, Saham Bank Ini Masih Jadi Pilihan Menarik
Nafan memperkirakan sekitar 60%–70% penguatan saham-saham tersebut berasal dari rotasi berbasis fundamental dan ekspektasi pertumbuhan laba, sementara sisanya dipengaruhi faktor teknikal dan positioning pasar.
Selain menawarkan pertumbuhan yang lebih tinggi, sejumlah saham juga memiliki cerita investasi yang kuat. Pada saham berbasis emas misalnya, kenaikan harga emas dunia dan tingginya ketidakpastian geopolitik.
Contohnya, EMAS dan MDKA yang didorong oleh tingginya harga emas global, prospek kenaikan produksi, serta monetisasi aset emas. Nafan bilang kedua saham itu juga dipengaruh perkembangan proyek dan kapasitas produksi kedua emiten tersebut.
"Jika The Fed mulai memangkas suku bunga dan yield obligasi turun, harga emas berpotensi tetap menarik. Itu akan menjadi sentimen positif bagi EMAS dan MDKA," katanya.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menambahkan kenaikan saham-saham penggerak IHSG tidak hanya ditopang faktor fundamental, tetapi juga sentimen korporasi dan momentum teknikal.
"Semua bergerak menjadi satu kesatuan. Mulai dari rumor, aksi korporasi, perbaikan fundamental, hingga momentum teknikal setelah sebelumnya mengalami oversold,” ucapnya.
Nico mengatakan secara umum saham berbasis emas masih berpotensi memperoleh sentimen positif dari tingginya harga emas global. Ketidakpastian geopolitik juga membuat emas tetap menjadi aset lindung nilai yang diminati investor.
Baca Juga: Jelang Putusan MSCI, Peluang Indonesia Bertahan di Emerging Market Masih Terbuka
“Perlambatan ekonomi dan normalisasi pertumbuhan kredit membuat investor sementara waktu mencari alternatif sektor yang menawarkan potensi pertumbuhan lebih tinggi,” kata dia.
Nico menyebut peluang rotasi dana kembali ke saham-saham besar masih terbuka pada semester II-2026. Potensi tersebut akan semakin besar apabila sentimen global membaik dan arus dana asing kembali masuk ke pasar domestik.
Setali tiga uang, Nafan mengatakan reli saham lapis kedua saja belum cukup untuk mendorong IHSG naik signifikan hingga akhir tahun. Secara struktur, indeks masih sangat dipengaruhi pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan TLKM.
"Kalau hanya second liner yang naik, IHSG tetap bisa menguat tetapi cenderung lebih lambat dan volatil. Untuk menciptakan tren kenaikan yang lebih kuat dibutuhkan partisipasi saham-saham big caps," jelasnya.
Menurut Nafan, rotasi ke saham big caps dapat dipicu oleh ekspektasi penurunan suku bunga, stabilisasi nilai tukar rupiah, hingga semakin menariknya valuasi saham-saham bank jumbo yang kini berada di bawah rata-rata historisnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














