Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan hingga menembus level psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini dipicu oleh kombinasi sentimen global, tingginya permintaan valuta asing (valas) dari korporasi domestik, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter global.
Mengutip data Bloomberg pada Selasa (4/8/2026), mata uang Garuda ditutup melemah 0,17% atau 30 poin ke level Rp 18.027 per dolar AS.
Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan berlanjut dalam jangka pendek. Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi menilai volatilitas rupiah masih akan tinggi dalam satu hingga tiga bulan ke depan.
Menurut Rahma, rupiah diperkirakan terus menguji level psikologis di kisaran Rp 17.900 hingga di atas Rp 18.000 per dolar AS.
Hambatan utama bagi penguatan rupiah berasal dari tingginya kebutuhan valas korporasi untuk pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen, serta impor energi.
Di sisi eksternal, fenomena the strong dollar dan kebijakan suku bunga Amerika Serikat yang diperkirakan bertahan tinggi dalam jangka waktu lebih lama (higher for longer) membuat aset berbasis dolar AS tetap menarik bagi investor global.
Baca Juga: IHSG Ditutup Naik 1,37%, Analis Prediksi Penguatan Berlanjut ke Level 6.400
Kondisi tersebut mendorong aliran modal keluar (capital outflow) dari negara-negara berkembang seiring pergerakan indeks dolar AS (DXY) dan ketidakpastian arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Tekanan terhadap rupiah juga diperberat oleh lonjakan harga minyak dunia yang meningkatkan biaya impor migas serta kekhawatiran pelaku pasar terhadap indikator fiskal domestik.
Selain itu, perilaku pelaku pasar menunjukkan bahwa setiap kali rupiah menguat mendekati level Rp 17.900 per dolar AS, momentum tersebut dimanfaatkan untuk kembali membeli dolar AS sehingga membatasi ruang penguatan mata uang domestik.
Untuk meredam pelemahan yang terlalu tajam (overshooting), Bank Indonesia diperkirakan akan terus mengoptimalkan berbagai instrumen stabilisasi, mulai dari intervensi di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pemanfaatan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI).
Peluang Stabilisasi pada Jangka Menengah
Memasuki periode tiga hingga 12 bulan ke depan, Rahma melihat peluang stabilisasi rupiah mulai terbuka apabila ketidakpastian global berangsur mereda.
Katalis utama yang dapat mendukung penguatan rupiah adalah kepastian pemangkasan suku bunga global yang lebih agresif sehingga selisih suku bunga (interest rate differential) menyempit dan kembali menarik arus modal asing ke pasar domestik.
Baca Juga: Analis Prediksi Harga Emas Masih Melemah, Ini Level yang Perlu Dicermati
Selain itu, ketahanan rupiah akan ditopang oleh sejumlah faktor fundamental, seperti surplus neraca perdagangan, pengendalian risiko impor energi, konsistensi pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), efektivitas kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE), serta kejelasan arah kebijakan ekonomi nasional.
Volatilitas Rupiah Masih Tinggi
Rahma menilai pergerakan rupiah yang kembali menembus level Rp 18.000 per dolar AS menunjukkan bahwa volatilitas di pasar keuangan masih sangat tinggi.
"Kembalinya nilai tukar rupiah ke level psikologis Rp18.000 per dolar AS setelah sempat bergerak di kisaran Rp17.900 ini memperlihatkan tingkat volatilitas yang tinggi di pasar keuangan," ujar Rahma kepada Kontan, Selasa (4/8/2026).
Ia menambahkan, persepsi investor terhadap reformasi kebijakan di sektor pasar modal dan sektor keuangan juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan investor asing untuk kembali menempatkan dananya di Indonesia.
Proyeksi Rupiah hingga Akhir 2026
Untuk pergerakan nilai tukar hingga akhir tahun, proyeksi rupiah umumnya mengacu pada asumsi dasar makroekonomi dalam APBN maupun APBN Perubahan yang disusun Pemerintah bersama DPR.
Dengan mempertimbangkan dinamika kebijakan suku bunga The Fed, kondisi geopolitik global, transisi kebijakan moneter, serta pergerakan arus modal domestik, nilai tukar rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif.
Baca Juga: Rebalancing Indeks Utama Resmi Berlaku, Ini Dampaknya ke Likuiditas IHSG
Konsensus berbagai lembaga riset dan model makroekonomi memperkirakan rupiah akan berada di kisaran Rp 17.600 hingga Rp 18.100 per dolar AS menjelang akhir 2026.
"Tingginya permintaan valuta asing dari korporasi domestik, baik untuk pembayaran utang luar negeri yang jatuh tempo, repatriasi dividen, maupun kebutuhan impor bahan baku, membuat tekanan beli terhadap dolar meningkat tajam di pasar," pungkas Rahma.
Karena itu, sinergi kebijakan moneter dan fiskal dinilai menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Di sisi lain, investor disarankan tetap mencermati perkembangan sentimen eksternal maupun arah kebijakan ekonomi domestik sebagai acuan dalam mengantisipasi pergerakan nilai tukar rupiah pada sisa tahun ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
