Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan harga emas global diperkirakan masih menghadapi tekanan dalam jangka pendek. Analis menilai peluang koreksi masih lebih besar di tengah menguatnya dolar Amerika Serikat (AS) dan ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan analisis terbaru dari Dupoin Futures, potensi pelemahan masih lebih dominan karena harga emas belum mampu menembus area resistance yang menjadi penghalang utama bagi kelanjutan tren kenaikan.
Analis Dupoin Futures, Geraldo Kofit, menilai bahwa selama tekanan jual masih mendominasi dan harga belum mampu bergerak di atas level resistance penting, maka skenario koreksi menuju area support masih menjadi proyeksi utama bagi emas.
Menurutnya, harga hingga kini masih tertahan di area resistance US$ 4.075 dan berada di bawah Moving Average (MA) 21 yang berfungsi sebagai dynamic resistance.
Baca Juga: Kinerja Reksadana Rebound, Ini Pilihan Sektor Favorit untuk Berburu Cuan
“Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa setiap upaya penguatan masih menghadapi tekanan jual yang cukup kuat sehingga peluang kenaikan masih terbatas,” ujar Geraldo dalam riset yang diterima Kontan, Selasa (4/8/2026).
Geraldo menambahkan, kegagalan harga untuk ditutup di atas area resistance tersebut menjadi sinyal bahwa pelaku pasar masih cenderung melakukan aksi jual setiap kali harga mengalami kenaikan.
Berdasarkan proyeksi teknikal Dupoin Futures, target pelemahan berikutnya berada di area support US$ 4.018. Level tersebut dinilai menjadi area krusial yang akan menentukan arah pergerakan harga emas selanjutnya.
Jika tekanan jual terus berlanjut dan level support tersebut gagal dipertahankan, peluang koreksi yang lebih dalam akan semakin terbuka. Sebaliknya, apabila muncul respons beli yang cukup kuat di sekitar level tersebut, harga emas berpotensi mengalami technical rebound.
Dari sisi fundamental, Dupoin Futures melihat arah harga emas masih sangat dipengaruhi oleh dinamika dolar AS, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury Yield), serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed).
Baca Juga: Kepercayaan Investor dan Isu Fiskal Bayangi IHSG, Intip Prospek Pasar Modal
“Ketiga faktor tersebut masih menjadi penggerak utama pasar logam mulia dalam beberapa waktu terakhir,” tandasnya.
Apabila dolar AS tetap menguat dan US Treasury Yield bertahan pada level tinggi, tekanan terhadap harga emas diperkirakan masih berlanjut. Kondisi tersebut membuat aset berbasis dolar menjadi lebih menarik dibandingkan emas yang tidak memberikan imbal hasil (yield).
Akibatnya, sebagian investor cenderung mengurangi eksposur pada logam mulia dan mengalihkan dana ke instrumen yang menawarkan imbal hasil lebih kompetitif.
Selain itu, perhatian pelaku pasar juga akan tertuju pada sejumlah data ekonomi penting Amerika Serikat, termasuk inflasi, data tenaga kerja, aktivitas sektor manufaktur maupun jasa, serta berbagai pernyataan dari para pejabat Federal Reserve.
“Secara keseluruhan, Dupoin Futures memproyeksikan bahwa prospek harga emas hari ini masih cenderung bearish. Oleh karena itu, area US$ 4.018 menjadi target support yang patut dicermati oleh pelaku pasar dalam jangka pendek,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
