kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45893,43   -4,59   -0.51%
  • EMAS1.306.000 -0,15%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Rupiah Tak Berkutik di Hadapan Dolar AS dalam Sepekan


Jumat, 18 November 2022 / 18:39 WIB
Rupiah Tak Berkutik di Hadapan Dolar AS dalam Sepekan
ILUSTRASI. Petugas teller menghitung uang di salah satu bank di Jakarta, Jumat (28/1). /pho KONTAN/Carolus Agus Waluyo/28/01/2022.


Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rupiah tak berkutik di hadapan dolar Amerika Serikat (AS) dalam sepekan. Berbagai katalis positif dari internal belum mampu mengangkat performa Rupiah.

Pada perdagangan Jumat (18/11) rupiah di pasar spot ditutup koreksi 0,13% secara harian ke Rp 15,684 per dolar AS. Ini juga menandakan rupiah melemah 1,21% selama sepekan.

Dari pasar Jisdor Bank Indonesia (BI) rupiah melemah 0,03% menuju level Rp 15.692 per dolar AS secara harian. Dalam sepekan, rupiah jisdor sudah melemah 1,28%.

Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Putri menjelaskan, pelemahan rupiah utamanya disebabkan oleh faktor eksternal. Berbagai katalis positif dari dalam negeri belum mampu membawa rupiah menguat akibat tingginya tendensi dari penguatan dollar AS.

Baca Juga: Tak Berdaya, Rupiah Jisdor Melemah ke Rp 15.692 Per Dolar AS pada Jumat (18/11)

Hal ini tercermin dari indeks dollar AS (DXY) yang berada di level 107, mengindikasikan penguatan US dollar masih terus berlanjut terhadap mata uang utama global. 

Sebagai perbandingan, mata uang regional Asia mayoritas terpantau melemah terhadap USD. Dibandingkan dengan posisi awal tahun, mata uang Asia yang melemah hingga double digit meliputi yen, baht, peso, yuan, dan won korea.

Di sisi lain, konflik geopolitik masih berlanjut dan kebijakan The Fed yang diramal masih tetap ingin menaikkan suku bunganya ke depan, juga membuat pelaku pasar masih memilih safe haven assets termasuk dollar AS.

Padahal, terdapat berbagai sentimen domestik selama pekan ini. Mulai dari rilis data-data ekonomi domestik yang cukup positif seperti surplus neraca perdagangan sebesar US$ 5,67 miliar di Oktober yang masih berlanjut.

Kebijakan BI yang menaikkan suku bunga acuannya sebesar 50 basis poin (bps) sebagai respons dari ekspektasi inflasi yang meningkat. Hingga data keyakinan konsumen yang tetap positif.

"Tekanan eksternal masih cukup tinggi terhadap rupiah dalam sepekan. Banyaknya sentimen dari domestik pun belum mampu menahan pelemahan rupiah," ungkap Reny kepada kontan.co.id, Jumat (18/11).

Dihubungi terpisah, Analis DCFX Futures Lukman Leong menambahkan, sepekan ini tekanan bagi rupiah cenderung disebabkan oleh faktor domestik yaitu kekhawatiran pelemahan ekonomi. 

Baca Juga: Loyo, Rupiah Spot Ditutup Melemah ke Rp 15.684 Per Dolar AS Pada Hari Ini (18/11)

Data perdagangan impor dan ekspor memang bertumbuh, namun masih di bawah perkiraan. Terutama impor yang mencerminkan rendahnya permintaan.

"Naiknya kasus covid-19 dikhawatirkan juga akan menekan pertumbuhan ekonomi nasional," kata Lukman saat dihubungi Kontan.co.id, Jumat (18/11).

Lukman menilai rupiah masih akan melanjutkan tren negatif dengan berada di rentang Rp 15.500 - Rp 15.800 per dollar AS di pekan depan. Dimana pasar akan mengantisipasi statement hawkish dari the Fed di risalah pertemuan The Federal Open Market Committee (FOMC). 

Sedangkan, Reny memperkirakan rupiah akan bergerak ke kisaran Rp 15.588 - Rp 15.734 per dollar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Practical Business Acumen Supply Chain Management on Sales and Operations Planning (S&OP)

[X]
×