kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |

Rupiah stabil, emiten dengan porsi impor tinggi akan lebih cerah


Senin, 04 Maret 2019 / 06:02 WIB
Rupiah stabil, emiten dengan porsi impor tinggi akan lebih cerah

Reporter: Jane Aprilyani | Editor: Wahyu Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Stabilnya nilai tukar rupiah di awal tahun ini diprediksi dapat menguntungkan sejumlah emiten. Para analis memperkirakan, emiten dengan tingkat impor bahan baku tinggi bakal memiliki kinerja lebih ciamik di tahun ini.

Seperti diketahui, Jumat (1/3), kurs spot rupiah melemah 0,36% menjadi Rp 14.120 per dollar Amerika Serikat (AS). Namun, sepanjang tahun ini, mata uang Garuda sudah menguat 1,88%.

Menurut Kepala Riset Samuel Sekuritas Suria Dharma, pelemahan nilai tukar rupiah di pekan lalu masih dalam tahap normal. Terlebih pelemahan mata uang Garuda terjadi karena indeks dollar AS yang menguat di level 96,1 sehingga membuat dollar AS perkasa.

Penguatan the greenback terjadi setelah perundingan dagang antara AS dan China belum menemukan titik terang. Terlebih ocehan Presiden AS Donald Trump yang kontroversial membuat pelaku pasar kembali mengkhawatirkan perang dagang.

Kendati demikian, Suria yakin mata uang rupiah akan stabil, bahkan cenderung menguat, hingga akhir 2019. "Rupiah masih stabil dibanding tahun lalu. Penguatan rupiah juga akan sangat bagus karena berdampak ke bahan baku atau barang jualan emiten dalam negeri," ujar dia, Jumat (1/3).

Suria menilai ada beberapa emiten yang akan terkena dampak penguatan rupiah. Di antaranya PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF).

Alasannya, bahan baku yang digunakan oleh emiten-emiten tersebut mayoritas masih impor. "MAPI akan diuntungkan dari produk fesyen, INDF akan diuntungkan dari produk minyak Bimoli, sedangkan KLBF akan diuntungkan dari bahan baku obat," ujar Suria.

Senada, Kepala Riset Mirae Asset Sekuritas Indonesia Hariyanto Wijaya menuturkan, dengan fundamental ekonomi dalam negeri yang ciamik, nilai tukar rupiah pun kian perkasa di tahun ini ketimbang tahun lalu.

Hariyanto menilai, jika dibandingkan dengan Amerika Serikat (AS), perekonomian Indonesia relatif kuat. "Saya percaya pertumbuhan ekonomi akhir tahun bisa mencapai 5,2%, inflasi juga masih baik. Jadi akhir tahun, rupiah bisa menguat ke level Rp 13.900 per dollar AS," papar dia.

Dengan pergerakan yang lebih stabil, tak hanya kinerja, namun bisnis emiten akan berkembang dengan daya saing tinggi. Salah satu emiten yang dinilai Hariyanto bisa mendulang untung karena penguatan rupiah adalah KLBF. "Jika rupiah terus menguat, KLBF akan diuntungkan karena komponen bahan baku diimpor. Dari segi cost relatif terkoordinasi," tandasnya.

Tak hanya itu, daya beli konsumen yang menjadi target pasar KLBF di dalam negeri akan menguat seiring pertumbuhan ekonomi. Faktor ini tentu akan menguntungkan KLBF.

Hariyanto juga meyakini pendapatan KLBF tahun ini bisa naik 8,8% jadi Rp 23,03 triliun dengan laba bersih menjadi Rp 2,5 triliun. Ia merekomendasikan beli saham KLBF dengan target harga Rp 1.800 per saham.

Tekanan berkurang

Sementara analis RHB Sekuritas Michael Wilson Setjoadi memilih PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). "Nilai tukar rupiah akan cenderung stabil karena kondisi global yang tidak pasti. Ditambah The Federal Reserve dovish, sehingga membuat tekanan pada rupiah berkurang," jelas dia.

Michael memprediksi, dengan rupiah yang stabil, laba bersih MAPI berpotensi naik 2,7%. Bahkan kalaupun rupiah berada di Rp 15.000 per dollar AS, kinerja MAPI aman.

Michael menilai MAPI sukses menjaga margin. "Pertumbuhan bisnis juga ditopang bisnis boga, yaitu Starbucks dan MAP Aktif dengan Sport Station," jelas Michael.

Dia merekomendasikan beli saham MAPI dengan target harga Rp 1.050 per saham. Suria juga menyarankan buy saham MAPI dengan target harga Rp 930 per saham.

Analis NH Korindo Sekuritas Michael Tjahjadi menuturkan, keperkasaan rupiah juga mampu menyokong kinerja emiten yang bergerak di sektor ritel yang sebagian besar produknya diimpor. Contohnya PT Ace Hardware Tbk (ACES), yang banyak menjajakan produk impor.

Michael menyebut stabilnya rupiah mengangkat margin laba. "Karena beban pokok penjualan (COGS) atau beban keuangan jadi mengecil. Laba bersih ACES 2019 diperkirakan mencapai Rp 1,15 triliun," prediksi dia.

Michael merekomendasikan beli ACES dengan target harga Rp 1.635.



Video Pilihan

TERBARU

×