kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.785.000   -13.000   -0,46%
  • USD/IDR 17.823   4,00   0,02%
  • IDX 6.130   -76,16   -1,23%
  • KOMPAS100 809   -11,59   -1,41%
  • LQ45 620   -10,81   -1,71%
  • ISSI 215   -2,62   -1,20%
  • IDX30 354   -6,31   -1,75%
  • IDXHIDIV20 438   -8,62   -1,93%
  • IDX80 93   -1,35   -1,42%
  • IDXV30 121   -2,44   -1,98%
  • IDXQ30 115   -2,13   -1,83%

Rupiah Melemah Jadi Rp 17.801 per Dolar AS, Pasar Soroti Kebijakan Ekspor Lewat DSI


Rabu, 27 Mei 2026 / 17:09 WIB
Rupiah Melemah Jadi Rp 17.801 per Dolar AS, Pasar Soroti Kebijakan Ekspor Lewat DSI
ILUSTRASI. Rupiah melemah ke Rp 17.801 per dolar AS hari ini. Sentimen eksternal dan kebijakan sentralisasi ekspor memicu kekhawatiran pasar! (AFP/BAY ISMOYO)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali melemah pada perdagangan Rabu (27/5/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda dipengaruhi sentimen eksternal dan kekhawatiran pasar terhadap kebijakan sentralisasi ekspor komoditas utama yang tengah menjadi sorotan lembaga pemeringkat internasional.

Mengutip Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,03% secara harian ke level Rp 17.801 per dolar AS. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif sehari sebelumnya.

Sebelumnya pada Selasa (26/5/2026), rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,30% secara harian di level Rp 17.796 per dolar AS.

Analis Mata Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, kebijakan satu pintu untuk ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) memicu kekhawatiran pelaku pasar dan lembaga pemeringkat global. Menurutnya, langkah pemerintah dalam melakukan sentralisasi ekspor komoditas utama dinilai berpotensi menimbulkan gangguan terhadap mekanisme perdagangan.

Baca Juga: Pasar Obligasi Korporasi Dibayangi Pelemahan Rupiah dan Kenaikan Yield

Ia menjelaskan, lembaga pemeringkat internasional seperti S&P menyoroti implementasi kebijakan tersebut yang dianggap tidak mudah dilakukan dalam waktu singkat. Selain itu, risiko gangguan rantai perdagangan juga meningkat apabila pelaksanaannya tidak berjalan optimal.

Sementara itu, Moody’s turut memberikan perhatian terhadap potensi perubahan pola perdagangan akibat kebijakan tersebut. Perubahan mekanisme pasar dinilai dapat memicu ketidakseimbangan baru di sektor perdagangan dan arus modal.

“Ini membuat masalah tersendiri sehingga wajar arus modal asing keluar dari Indonesia. Ini yang membuat rupiah melemah dalam perdagangan hari ini,” ujar Ibrahim kepada Kontan, Rabu (27/5/2026).

Baca Juga: Harga Komoditas Minyak Ambles, Investor Disarankan Cermati Peluang Akumulasi

Selain faktor domestik, pasar juga masih mencermati perkembangan geopolitik global, khususnya eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang turut meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS.

Menurut Ibrahim, kombinasi sentimen kebijakan ekspor dan tensi geopolitik global diperkirakan masih akan membayangi pergerakan rupiah dalam jangka pendek.

Ibrahim memperkirakan rupiah pada perdagangan Kamis (28/5/2026) akan bergerak di kisaran Rp 17.790 hingga Rp 17.850 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×