Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia mengalami koreksi tajam dalam beberapa hari terakhir setelah sempat melonjak akibat tingginya ketegangan geopolitik. Pelemahan ini terjadi seiring meredanya kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global serta meningkatnya ekspektasi surplus pasokan minyak.
Melansir dari Trading Economic pada Rabu (27/5/2026) pukul 13.15 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), berada di level US$ 91,9 per barel atau melemah 6,5% dalam sepekan terakhir.
Sementara itu, minyak Brent diperdagangkan di kisaran US$ 98,0 per barel, yang juga melemah 6,7% dalam sepekan. Kedua komoditas tersebut tercatat turun sekitar 8,0% dan 6,1% dalam sebulan terakhir terakhir.
Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, menyebut koreksi harga minyak saat ini dipicu oleh berkurangnya premi risiko geopolitik (geopolitical risk premium) setelah muncul sinyal deeskalasi konflik di Timur Tengah.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Melemah, Begini Prospeknya
“Pasar mulai memangkas geopolitical risk premium seiring adanya sinyal deeskalasi konflik di Timur Tengah dan kembali normalnya jalur logistik selat krusial,” ujar Nanang kepada Kontan, Selasa (26/5/2026).
Selain faktor geopolitik, tekanan harga minyak juga datang dari sisi permintaan. Laporan terbaru lembaga energi internasional (IEA) mengonfirmasi adanya penurunan konsumsi minyak global pada kuartal II-2026 yang meningkatkan risiko kelebihan pasokan (oversupply).
Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar mengambil keuntungan (profit taking) setelah harga minyak sempat berada di level puncak.
Untuk jangka pendek, Nanang memperkirakan fase pelemahan harga minyak akan mulai mereda dan beralih menuju periode konsolidasi dengan volatilitas yang masih tinggi. Ia menilai harga minyak sedang mencari titik keseimbangan baru setelah koreksi tajam, sementara kondisi pasokan fisik global masih relatif ketat sehingga berpotensi menahan penurunan lebih dalam.
“Penurunan tajam ini diperkirakan segera mereda dan berganti menjadi fase konsolidasi yang volatil,” katanya.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Anjlok Hampir 7% di Tengah Harapan Damai AS-Iran
Di tengah kondisi tersebut, Nanang melihat koreksi harga minyak justru dapat dimanfaatkan investor sebagai peluang akumulasi atau buy on weakness, khususnya apabila harga bergerak pada kisaran US$ 85–US$ 90 per barel. Menurutnya, level tersebut masih cukup menarik untuk menopang potensi keuntungan jangka pendek.
Selain itu, pelemahan harga minyak juga diperkirakan membawa sentimen positif bagi sejumlah sektor industri, terutama transportasi, maskapai penerbangan, dan manufaktur karena biaya energi berpotensi menurun dan meningkatkan margin keuntungan mereka.
Hingga semester I-2026, Nanang memperkirakan harga minyak tidak akan turun terlalu dalam dan cenderung bertahan di level yang masih relatif tinggi dibanding rata-rata historis.
Harga minyak Brent diproyeksikan bergerak pada rentang US$ 90-US$ 98 per barel, sedangkan WTI diperkirakan berada di kisaran US$ 84-US$ 89 per barel. Adapun level US$ 80 per barel disebut menjadi area penopang utama (support) bagi WTI.
“Koreksi pekan ini bukanlah awal dari kejatuhan harga komoditas energi, melainkan bentuk normalisasi pasar dari level yang sebelumnya terlalu panas (overheated). Pasar energi hingga pertengahan 2026 diprediksi tetap tangguh dan menjanjikan bag investor yang jeli memanfaatkan momentum,” tutup Nanang.
Baca Juga: Blokade AS dan Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Meroket Tanpa Rem!
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













