kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.577.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 16.846   28,00   0,17%
  • IDX 8.937   11,28   0,13%
  • KOMPAS100 1.229   2,00   0,16%
  • LQ45 868   0,40   0,05%
  • ISSI 324   0,94   0,29%
  • IDX30 440   -0,98   -0,22%
  • IDXHIDIV20 517   -1,78   -0,34%
  • IDX80 137   0,24   0,18%
  • IDXV30 144   -0,01   0,00%
  • IDXQ30 140   -0,81   -0,58%

Rupiah Masih Tertekan pada Awal 2026, Cermati Pemicunya


Kamis, 08 Januari 2026 / 16:41 WIB
Rupiah Masih Tertekan pada Awal 2026, Cermati Pemicunya
ILUSTRASI. -Petugas menghitung uang rupiah dan dolar Amerika (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Noverius Laoli

Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menilai bahwa Indonesia mulai memasuki era fiscal dominance. Kebijakan moneter diorientasikan untuk mendukung kebijakan fiskal, dimana monetisasi utang dilakukan, salah satunya melalui kebijakan burden sharing, standby buyer SBN oleh BI dan automatic rollover SBN. 

Kehadiran wakil menteri keuangan dalam setiap rapat dewan gubernur (RDG) BI semakin memperkental nuansa tersebut. “Ini trend buruk di saat situasi ekonomi global sedang dinamis dan rupiah sedang dalam tekanan sepanjang tahun 2025,” ucap Wijayanto. 

Wijayanto menilai bahwa BI perlu lebih menunjukkan independensinya, Hanya dengan begitu kebijakannya akan kredibel. Di sisi lain, pemerintah perlu memastikan keberlanjutan dan kredibilitas fiskal dan defisit harus dijaga.

Baca Juga: Rupiah Berpeluang Menguat pada Senin (5/1/2026), Cermati Sentimen Pendorongnya

Cash flow management dan penerbitan utang harus dijalankan dengan cara-cara yang tepat. “Saat ini terlihat ketaatan terhadap prinsip – prinsip tata kelola yang baik mulai mengendor,” ujar Wijayanto. 

Menurutnya, saat ini US dolar bukan ukuran yang sahih untuk mengetahui stabilitas nilai tukar karena US dolar sendiri mengalami depresiasi masif trerhadap 7 mata uang utama dunia, US dolar Index melemah sebesar 9,13% dan pada periode yang sama rupiah melemah 4,03% terhadap US dolar. 

“Dalam kata lain, rupiah melemah lebih dari 13% terhadap mata uang utama dunia, tentunya ini bukan berita yang menggembirakan. Trend penurunan pada tahun 2025 berpotensi terulang di tahun 2026, jika tidak ada perbaikan kebijakan fiscal dan moneter, sekaligus perbaikan kredibilitas institusi yang menggawanginya,” jelas Wijayanto. 

Proyeksi Rupiah 

Secara spesifik, Sutopo memproyeksikan nilai tukar rupiah untuk akhir kuartal I-2026 diperkirakan akan mencoba bertahan di kisaran Rp 16.850 – Rp 16.950 per dolar AS, dengan potensi menyentuh level Rp17.000 jika data ekonomi AS terus memberikan kejutan positif bagi penguatan dolar. 

Namun, seiring dengan target Bank Indonesia yang mengincar rata-rata tahunan di angka Rp 16.430, intervensi pasar dan kenaikan cadangan devisa diharapkan mampu meredam volatilitas yang berlebihan. 

Baca Juga: Rupiah Tertekan Fundamental dan Sentimen Global, Ini Proyeksinya Senin (5/1)

“Investor saat ini disarankan untuk terus memantau rilis data sentimen konsumen serta angka penjualan ritel minggu depan guna mendapatkan gambaran lebih jernih mengenai kekuatan daya beli domestik dalam menopang rupiah,” terang Sutopo. 

Sementara Brahmantya memproyeksikan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi berada pada kisaran Rp 17.000 – Rp17.200 pada tahun 2026.

Dalam jangka menengah, pergerakan rupiah masih akan bersifat fluktuatif, dipengaruhi oleh kombinasi faktor domestik dan global yang saling berlawanan serta bencana yang terjadi akhir – akhir ini.

Selanjutnya: Defisit APBN 2025 Jebol 2,92% PDB, Kemenkeu Akui Ekonomi 2025 Menantang

Menarik Dibaca: Promo Berhadiah Indomaret Periode 8-21 Januari 2026, Derma Angel Beli 1 Gratis 1

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×