Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih akan berat hingga akhir 2026. Sejumlah sentimen eksternal dan internal masih membayangi pergerakannya ke depan.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, dari eksternal, sentimen yang membayangi adalah suku bunga dan imbal hasil obligasi AS yang masih tinggi, harga minyak yang tinggi, serta ketidakpastian geopolitik.
Sementara dari internal, kekhawatiran investor terhadap potensi penurunan status pasar saham Indonesia oleh MSCI menjadi beban utama.
Baca Juga: Satu Visi Putra (VISI) Private Placement 120,72 Juta Saham, Raup Rp 119,99 Miliar
Meskipun begitu, peluang penguatan tetap ada. Terutama, jika imbal hasil obligasi AS mulai turun, ekspektasi suku bunga The Fed menurun, harga minyak mereda, dan arus modal asing kembali masuk.
Hari ini, Selasa (20/10/2026), rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp 17.992 per dolar AS, menguat 0,28% dibandingkan posisi penutupan Senin (19/10/2026) di Rp 18.046 per dolar AS
Sejalan dengan itu, rupiah berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia (BI) juga menguat 0,24% ke level Rp 18.006 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp 18.049 per dolar AS.
Penguatan rupiah sejalan dengan pemulihan pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hari ini menguat 5,65% pada perdagangan Selasa, bangkit dari posisi penutupan terendah dalam enam tahun terakhir.
Lukman menyebutkan, sentimen dari domestik yang akan memengaruhi pergerakan rupiah di antaranya adalah langkah konkret pemerintah, OJK, dan BEI untuk meningkatkan transparansi, memperbaiki tata kelola pasar modal, serta merespons kekhawatiran MSCI juga dapat membantu memulihkan kepercayaan investor.
Rupiah pun diperkirakan masih berpotensi bergerak dalam kisaran Rp 17.800 - Rp 18.200 per dolar AS hingga akhir 2026, dengan risiko pelemahan lebih besar jika arus keluar modal asing berlanjut.
Untuk awal 2027, rupiah berpotensi mencapai Rp 18.500 per dolar AS jika masalah terkait MSCI belum mereda. Sebaliknya, penyelesaian masalah MSCI bisa membawa rupiah ke Rp 17.500 per dolar AS.
“Arah suku bunga The Fed dan imbal hasil UST, harga minyak mentah dunia, arus modal asing, serta perkembangan evaluasi MSCI dan respons regulator Indonesia,” katanya.
Baca Juga: Rupiah Menguat Selasa (20/10), Capaian Investasi Jadi Penopang Begini Proyeksi Besok
Dalam kondisi volatilitas tinggi, investor disarankan sebaiknya tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan pergerakan rupiah jangka pendek.
Diversifikasi aset, pengelolaan risiko nilai tukar, dan penyesuaian eksposur terhadap kebutuhan dolar AS juga dinilai penting untuk dilakukan.
“Bagi investor yang memiliki kewajiban dalam dolar AS, lindung nilai atau hedging dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan dan profil risikonya,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














