kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Rotasi Saham AI Global Berlanjut, Apa Dampaknya ke Saham Teknologi Indonesia?


Kamis, 02 Juli 2026 / 17:09 WIB
Rotasi Saham AI Global Berlanjut, Apa Dampaknya ke Saham Teknologi Indonesia?
ILUSTRASI. PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Euforia pada saham-saham kecerdasan buatan alias Artificial Intelligence (AI) mulai meredup. Investor asing mulai mencatatkan aksi jual di pasar saham Asia dan mencari peluang di pasar yang tertinggal dengan valuasi lebih murah. 

Berdasarkan laporan Reuters, investor asing membukukan penjualan bersih atau net sell sebesar US$ 137,36 miliar di pasar saham Korea Selatan, Taiwan, India, Indonesia, Thailand, Vietnam dan Filipina selama enam bulan pertama pada 2026. 

Di mana, Korea Selatan dan Taiwan menjadi negara yang paling terdampak, masing-masing mencatat arus keluar sebesar US$ 70,8 miliar dan US$ 29,6 miliar. Ini mencerminkan upaya investor menyesuaikan portofolio setelah reli luar biasa di pasar Korea Selatan dan Taiwan. 

Aliran dana tersebut berpotensi mengalir ke pasar saham di Asia Tenggara yang belakangan ini tertinggal. Misalnya, pasar saham Indonesia, IHSG sudah terkoreksi 33,57% sepanjang 2026 berjalan ini. 

Baca Juga: Simak Rekomendasi Saham Emiten Teknologi di Tengah Kinerja Beragam di Kuartal I-2026

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta mengatakan korelasi indeks teknologi Indonesia dengan saham teknologi global masih tergolong moderat hingga minim karena karakteristik bisnis emiten di kedua pasar berbeda.

"Korelasinya moderat hingga minim karena karakteristik emitennya berbeda. Emiten teknologi di Indonesia lebih banyak bergerak di aplikasi konsumen digital, e-commerce, ride hailing, maupun portofolio digital konglomerasi,” kata dia kepada Kontan, Rabu (2/7/2026).

Menurutnya, saham teknologi domestik lebih dipengaruhi faktor fundamental internal, seperti profitabilitas, konsumsi domestik, stabilitas nilai tukar rupiah, hingga arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia, dibanding perkembangan AI global.

Meski demikian, Nafan menyebut koreksi saham AI global tetap dapat memengaruhi psikologi pasar. Aksi ambil untung pada saham teknologi dunia berpotensi mengubah selera risiko investor asing terhadap aset di pasar berkembang.

"Ketika terjadi aksi profit taking besar pada saham teknologi global, hal itu dapat memicu aliran dana keluar sementara dari aset berisiko di emerging markets, termasuk saham teknologi Indonesia, meskipun alasan fundamentalnya berbeda," jelasnya.

Baca Juga: Saham Teknologi Jadi Jajaran Market Cap Terbesar di BEI, Intip Rekomendasi DCII

Nafan menjelaskan absennya produsen chip kelas dunia di Indonesia justru menjadi bantalan saat valuasi saham semikonduktor global terkoreksi. BEI tidak memiliki eksposur langsung terhadap produsen chip seperti Taiwan maupun Korea Selatan.

Di sisi lain, kata dia, Indonesia berpeluang menikmati limpahan investasi AI melalui pembangunan infrastruktur pendukung. Data center, jaringan serat optik, pasokan listrik, hingga kawasan industri dinilai berpotensi menjadi tujuan investasi baru.

"Indonesia bisa menjadi hub data center regional. Kita memiliki keunggulan pada infrastruktur komunikasi, data center, pasokan energi, dan lahan yang dibutuhkan untuk pengembangan ekosistem AI," ucapnya. 

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menambahkan dampak rotasi saham AI global terhadap Indonesia terbatas. Hal itu karena Indonesia belum memiliki industri manufaktur chip berskala global.

Nico menyebut Indonesia lebih berperan sebagai pasar adopsi AI dibanding produsen teknologi AI. Kondisi tersebut membuka peluang masuknya investasi pada sektor cloud, data center, telekomunikasi, dan infrastruktur digital.

"Indonesia bukan AI manufacturing, melainkan AI adoption. Karena itu perusahaan berbasis cloud, data center, dan digital infrastructure justru berpotensi menarik capital inflow," ujarnya. 

Nico bilang emiten yang bergerak di bisnis data center, cloud, telekomunikasi, serta pengembangan jaringan 5G berpotensi memperoleh manfaat dari meningkatnya adopsi AI di Indonesia. Menurutnya, EMTK, TLKM, EXCL, dan GOTO menjadi emiten yang menarik dicermati.

Baca Juga: Dibayangi Ketakutan Bubble AI Global, Intip Prospek Saham Teknologi Indonesia di 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Analisis Untukmu

Berita ini artinya apa buat kamu?



TERBARU

[X]
×