Reporter: Wafidashfa Cessarry | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga komoditas energi bergerak bervariasi pada perdagangan Selasa (13/1/2026). Mengutip Trading Economics pukul 17.13 WIB, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 1,80% ke US$60,57 per barel secara harian. Sementara itu, harga gas alam melemah 0,89% ke level US$3,37 per MMBtu.
Analis Doo Financial Futures Lukman Leong menjelaskan, penguatan WTI dipicu meningkatnya risiko geopolitik, khususnya terkait kebijakan tarif Amerika Serikat. “WTI naik merespons tarif 25% terhadap negara yang berhubungan dagang dengan Iran,” ujar Lukman kepada Kontan, Selasa (13/1/2026).
Sebaliknya, harga gas alam terkoreksi setelah harga melonjak 7,5% sehari sebelumnya, seiring laporan yang memperkirakan cuaca di Amerika Serikat akan lebih dingin ke depan.
Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo menilai pergerakan energi saat ini mencerminkan perbedaan faktor pendorong. Menurutnya, penguatan WTI terjadi akibat premi risiko geopolitik, sementara gas alam tertekan oleh faktor cuaca.
“Harga minyak WTI menguat akibat premi risiko dari eskalasi konflik di Iran, sedangkan gas alam terkoreksi karena ramalan cuaca yang lebih hangat sehingga menekan ekspektasi permintaan,” jelas Sutopo.
Baca Juga: Dampak Protes Iran Jadi Pemicu Kenaikan Harga Minyak WTI
Pasar energi diperkirakan masih didominasi faktor geopolitik dan pasokan global sepanjang 2026. Lukman menyoroti risiko geopolitik di negara produsen, kebijakan produksi OPEC+, serta arah kebijakan AS terhadap Venezuela sebagai faktor kunci WTI. Untuk gas alam, produksi AS yang tinggi membuat harga sangat responsif terhadap perubahan permintaan akibat cuaca.
Di sisi lain, Sutopo melihat prospek gas alam sedikit lebih optimistis dalam jangka menengah seiring dengan ekspansi infrastruktur Liquefied Natural Gas (LNG) global serta perannya sebagai bahan bakar transisi menuju energi yang lebih bersih, meskipun volatilitas harga diperkirakan masih tinggi seiring sulitnya memprediksi cuaca ekstrem.
Lukman menilai pasar minyak masih dibayangi kelebihan pasokan, sehingga harga WTI diperkirakan bergerak terbatas di kisaran US$50–US$55, kecuali muncul perkembangan baru dari Iran. Adapun gas alam diproyeksikan bergerak fluktuatif seiring faktor cuaca dengan kisaran rata-rata US$3–US$4 sepanjang 2026.
Sutopo menambahkan, meskipun berpotensi mengalami lonjakan jangka pendek akibat konflik, tren jangka menengah harga energi cenderung tertahan oleh melimpahnya pasokan global. Ia memperkirakan harga WTI bergerak moderat di kisaran US$52–US$56 per barel, sementara gas alam diproyeksikan berada di rentang US$3,00–US$3,90 per MMBtu pada 2026.
Selanjutnya: Prabowo Tinjau IKN, Kata Anggota DPR Ini Tepis Pembangunan IKN Mangkrak
Menarik Dibaca: Promo Hypermart Beli Banyak Lebih Hemat 9-15 Januari 2026, Detergent Beli 1 Gratis 1
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













