kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.887.000   7.000   0,24%
  • USD/IDR 16.850   -59,00   -0,35%
  • IDX 8.951   -41,17   -0,46%
  • KOMPAS100 1.235   -4,75   -0,38%
  • LQ45 874   -1,52   -0,17%
  • ISSI 329   -0,59   -0,18%
  • IDX30 449   0,67   0,15%
  • IDXHIDIV20 532   3,66   0,69%
  • IDX80 137   -0,49   -0,35%
  • IDXV30 148   1,36   0,93%
  • IDXQ30 144   0,72   0,50%

Risiko Fiskal Bayangi Pasar SBN, Yield Naik


Minggu, 25 Januari 2026 / 11:28 WIB
Risiko Fiskal Bayangi Pasar SBN, Yield Naik
ILUSTRASI. Obligasi Negara/SUN (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pasar Surat Berharga Negara (SBN) masih berada dalam tekanan seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal domestik.

Tekanan tersebut tercermin dari kenaikan yield SBN tenor 10 tahun yang menembus kisaran 6,34% pada Kamis (22/1), naik dari sekitar 6,04% di awal 2026.

Tekanan juga terlihat di pasar perdana. Pada lelang sembilan seri Surat Utang Negara (SUN) tanggal 20 Januari 2026, pemerintah menyerap dana sebesar Rp 36 triliun.

Baca Juga: Bumi Resources (BUMI) Bakal Terbitkan Obligasi Rp 612,75 Miliar, Ini Tujuannya

Namun, total penawaran yang masuk hanya mencapai Rp 82,90 triliun, lebih rendah dibandingkan lelang sebelumnya pada 6 Januari 2026 yang mencatatkan penawaran Rp 90,96 triliun.

Head of Investment Specialist Sinarmas Asset Management Domingus Sinarta Ginting menilai, tekanan di pasar obligasi negara saat ini lebih dominan dipicu oleh faktor domestik.

Kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit fiskal mendorong pelaku pasar mengantisipasi peningkatan kebutuhan pembiayaan pemerintah, yang berarti suplai SBN ke depan berpotensi bertambah.

“Dalam kondisi suplai meningkat, investor secara rasional akan meminta premi imbal hasil yang lebih tinggi, terutama untuk tenor menengah hingga panjang. Hal ini membuat investor menjadi lebih price sensitive dalam lelang,” ujar Domingus kepada Kontan.co.id, Jumat (23/1/2026).

Ia menambahkan, investor sebenarnya masih berpartisipasi dalam lelang, namun menuntut konsesi yield yang lebih menarik.

Baca Juga: Harga Anjlok, Prajogo Pangestu Serok 5 Juta Saham Barito Pacific (BRPT)

Ketika level imbal hasil dinilai belum cukup kompensatif, permintaan pun menurun, yang tercermin dari penurunan bid coverage ratio.

Dari sisi global, tekanan eksternal turut memperkuat sentimen domestik. Saat volatilitas global meningkat, minat terhadap aset emerging markets cenderung melemah.

Alhasil, investor menjadi lebih selektif dan menunggu level harga yang lebih murah sebelum kembali agresif masuk ke pasar SBN.

Selain itu, pelemahan rupiah yang sempat mendekati level Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir juga menambah tekanan di pasar obligasi.

Namun, Domingus menilai pelemahan rupiah bukan sekadar faktor sentimen, melainkan cerminan dari arus modal keluar.

“Data menunjukkan hingga pertengahan Januari, nonresiden mencatatkan jual neto di pasar SBN sekitar Rp 9,91 triliun. Outflow ini menekan rupiah sekaligus mengurangi permintaan marginal di pasar obligasi,” jelasnya.

Baca Juga: Cermati Saham yang Banyak Dikoleksi Asing Sepekan Terakhir di Tengah Koreksi IHSG

Menurut Domingus, dampak pelemahan rupiah terhadap pasar SBN terjadi melalui dua kanal.

Pertama, arus keluar dana asing yang menekan nilai tukar dan permintaan obligasi.

Kedua, peningkatan risk premium, di mana investor meminta buffer yield yang lebih besar, terutama pada tenor panjang, sehingga kurva yield cenderung naik dan menjadi lebih curam.

Dalam kondisi pasar yang masih volatil, Domingus menilai strategi investor yang paling rasional adalah memaksimalkan carry dengan tetap disiplin mengelola durasi.

Investor disarankan masuk secara bertahap, fokus pada tenor yang likuid, serta memanfaatkan volatilitas di pasar lelang maupun sekunder untuk mengunci yield yang menarik.

Baca Juga: Ini Penyebab IHSG Tumbang 1,37% Dalam Sepekan

Agar minat investor terhadap SUN kembali meningkat, Domingus menekankan pentingnya tiga faktor utama.

Pertama, kejelasan arah kebijakan fiskal dan strategi penerbitan pemerintah guna menurunkan premi risiko fiskal.

Kedua, stabilisasi rupiah yang umumnya sejalan dengan meredanya arus keluar dana asing dan volatilitas global.

Ketiga, koordinasi kebijakan yang mampu menjaga stabilitas pasar tanpa membuat likuiditas domestik terlalu ketat.

Ke depan, Domingus memperkirakan pergerakan yield SBN masih cenderung terbatas (range-bound) dengan bias naik hingga terdapat sinyal stabilisasi yang lebih jelas.

Baca Juga: Belajar Jurus Investasi Presiden Direktur RMK Energy (RMKE) Vincent Saputra

Untuk kuartal I 2026, ia memproyeksikan yield SUN tenor 10 tahun berada di kisaran 6,25%–6,60%.

“Dalam skenario positif, jika rupiah stabil dan arus dana asing membaik, yield berpotensi turun kembali ke area 6,10%–6,25%. Namun dalam skenario risiko, jika tekanan rupiah berlanjut dan outflow masih besar, yield bisa menguji level 6,70%–6,80%,” pungkasnya.

Selanjutnya: IFG Life Permudah Proses Klaim Asuransi Lewat Digitalisasi

Menarik Dibaca: 5 Manfaat Rutin Minum Kopi Setiap Hari untuk Kesehatan Tubuh

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×