kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.843.000   0   0,00%
  • USD/IDR 16.921   -74,00   -0,44%
  • IDX 7.107   84,55   1,20%
  • KOMPAS100 978   11,34   1,17%
  • LQ45 722   8,69   1,22%
  • ISSI 249   4,23   1,73%
  • IDX30 393   5,52   1,42%
  • IDXHIDIV20 489   3,83   0,79%
  • IDX80 110   1,42   1,31%
  • IDXV30 134   2,21   1,67%
  • IDXQ30 127   1,16   0,92%

Reksadana Saham Terkoreksi 2,33% dalam Sepekan, Ini Faktor Pendorongnya


Selasa, 24 Maret 2026 / 15:47 WIB
Reksadana Saham Terkoreksi 2,33% dalam Sepekan, Ini Faktor Pendorongnya
ILUSTRASI. Ilustrasi Reksadana (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Alya Fathinah | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksadana pada akhir Februari 2026 sempat menunjukkan hasil yang cukup positif. 

Data Infovesta per 27 Februari 2026 mencatat reksadana saham membukukan return tertinggi sebesar 2,0% secara bulanan (month-on-month/MoM), meskipun pada saat yang sama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru masih terkoreksi 1,13%.

Kemudian, reksadana campuran mencatat kinerja cukup solid dengan return 1,44% MoM. Sementara itu, reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang masing-masing mencatatkan return yang lebih terbatas, yakni sebesar 0,29% MoM.

Baca Juga: Laba Bersih Saratoga Investama (SRTG) Naik 121,11% Jadi Rp 7,31 Triliun di 2025

Namun, memasuki pertengahan Maret, kinerja mayoritas jenis reksadana kembali tertekan. Berdasarkan data Infovesta per 16 Maret, dalam sepekan reksadana saham mengalami penurunan sebesar 2,33%, diikuti reksadana campuran yang turun 1,40% dan reksadana pendapatan tetap yang melemah 0,78%.

Di tengah tekanan tersebut, reksadana pasar uang menjadi satu-satunya yang masih mencatatkan kinerja positif, meskipun tipis dengan return sebesar 0,05% dalam periode yang sama. 

Head of Equity Sinarmas Asset Management, Donny Primananda mengatakan kinerja reksadana saham saat ini dipengaruhi oleh kombinasi tekanan eksternal dan domestik. 

Dari eksternal, ketegangan geopolitik memicu sentimen risk-off yang mendorong pelarian modal asing dari aset berisiko. 

"Di dalam negeri, pelemahan rupiah dan potensi pelebaran defisit APBN yang disebabkan dapat membengkaknya subsidi bensin memberikan sentimen negatif terhadap pasar yang tercermin pada kinerja reksadana saham secara keseluruhan di dalam industri," ujar Donny kepada Kontan pada Selasa (17/3).

Donny menilai kondisi pasar saat ini belum sepenuhnya kondusif untuk reksadana saham. 

"IHSG menjadi indeks dengan kinerja buruk di kawasan Asia Pasifik sepanjang 2026, dan belum banyak katalis positif yang cukup kuat untuk membalikkan tren dalam waktu dekat," kata Donny.

Menurut Donny, pemulihan baru akan lebih meyakinkan apabila tekanan geopolitik mereda, nilai tukar rupiah stabil, dan arus modal asing mulai berbalik masuk jika pertumbuhan ekonomi kembali terakselerasi pada paruh kedua.

CEO Pinnacle Investment, Guntur Putra turut menyetujui bahwa kondisi pasar saat ini cenderung fluktuatif dan dipenuhi ketidakpastian.

Guntur mengatakan kondisi saat ini kurang kondusif bagi investor jangka pendek. 

"Namun untuk investor jangka panjang, situasi seperti ini masih dapat dimanfaatkan, terutama untuk mulai membangun posisi secara bertahap di instrumen reksa dana saham," ujar Guntur. 

Baca Juga: Konflik Timur Tengah Kian Memanas, Analis Kerek Proyeksi Harga Minyak 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Financial Statement in Action

[X]
×