Reporter: Alya Fathinah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga minyak dan gas (migas) global dalam beberapa pekan terakhir mendorong sejumlah lembaga keuangan merevisi proyeksi harga untuk tahun 2026.
Di tengah ketegangan geopolitik yang masih tinggi, pasar energi diperkirakan tetap bergerak volatil dengan potensi kenaikan lanjutan.
Mengutip situs Trading Economics pada Selasa (24/3) pukul 11.56 WIB, harga minyak mentah jenis WTI sudah mencapai level US$ 91,54 per barel, naik 3,85% secara harian. Sejak awal tahun 2026 atau year to date, harga WTI melambung 55,32%.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak, Industri Tahan Tapi Rumah Tangga Tertekan
Kenaikan harga juga terjadi pada minyak mentah jenis Brent sebesar 3,85% secara harian ke US$ 103,81 per barel. Di sepanjang 2026, harga Brent sudah melejit hingga 65,05%.
Sementara itu, harga gas alam juga mengalami kenaikan sebesar 1,92% dalam sehari menjadi US$ 2,94 per MMBtu dan dalam sebulan sudah naik sebesar 2,87%.
Seiring kenaikan tersebut, sejumlah institusi global mulai menaikkan proyeksi minyak.
Goldman Sachs merevisi harga Brent 2026 dari sebelumnya US$ 77 per barel menjadi US$ 85 per barel, seiring gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dan peningkatan penimbunan strategis yang memperketat pasar.
Kemudian, J.P. Morgan memperkirakan harga rata-rata Brent berada di level US$ 100 per barel pada kuartal II-2026 sebelum berpotensi turun ke kisaran US$ 80 per barel pada akhir tahun 2026.
Analis komoditas dan founder Traderindo.com, Wahyu Laksono memperkirakan harga migas tetap berada dalam tren bullish, tetapi sangat volatil hingga akhir Maret 2026.
"Brent diproyeksikan bertahan di atas US$ 100 per barel, dengan potensi menyentuh US$ 110 - US$ 114 per barel bahkan US$ 120 per barel jika gangguan pasokan di Timur Tengah tidak mereda," kata Wahyu saat diwawancarai Kontan pada Selasa (17/3).
Namun, jika terjadi de-eskalasi bisa kembali koreksi ke kisaran konsolidasi US$ 80 - US$ 90 per barel.
Untuk gas alam, Wahyu memperkirakan harga cenderung stabil di kisaran US$ 3,00 - US$ 3,20 per MMBtu. Meski demikian, harga berpotensi melonjak ke US$ 4.00 - US$ 6.00 per MMBtu jika stok di Eropa/AS turun lebih cepat dari perkiraan di akhir musim dingin.
Baca Juga: IHSG Berpotensi Menguat Terbatas pada Rabu (25/3), Simak Rekomendasi Sahamnya
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo menambahkan bahwa harga minyak berpotensi menguji level psikologis di atas US$ 100 per barel apabila ketegangan di Selat Hormuz tidak mereda.
Ia menilai gangguan pada jalur distribusi utama ini menjadi salah satu guncangan pasokan terbesar dalam sejarah modern.
Selain itu, Sutopo mengatakan dinamika diplomasi antara Washington dan Teheran menjadi faktor kunci yang mempengaruhi pergerakan harga energi global.
Di sisi lain, Wahyu berpendapat kebijakan OPEC+ yang hanya menaikkan produksi sekitar 206.000 barel per hari dinilai tidak cukup untuk menutup celah defisit pasokan global.
Sebagai penyeimbang, pelepasan cadangan minyak oleh Amerika Serikat, negara-negara yang tergabung dalam G7, dan anggota International Energy Agency (IEA) diharapkan dapat meredam lonjakan harga di tengah ketatnya pasokan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













