Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Reksadana pasar uang diproyeksi masih tetap menarik di tengah tren suku bunga tinggi.
Berdasarkan data Infovesta secara year to date (ytd) per Mei 2026, return reksadana pasar uang mencapai 1,60%. Return reksadana pendapatan tetap -0,62%, imbal hasil reksadana campuran -8,71% dan return reksadana saham -17,66%.
Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan mengatakan, reksadana pasar uang masih memiliki prospek yang menarik di tengah lingkungan suku bunga yang relatif tinggi.
Kondisi ini mendukung tingkat imbal hasil instrumen pasar uang seperti deposito dan surat utang jangka pendek, sehingga mampu memberikan return yang stabil dengan volatilitas yang rendah.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Sideways Kamis (18/6), Pasar Tunggu Keputusan The Fed dan BI
“Di tengah ketidakpastian pasar saham maupun obligasi, reksadana pasar uang tetap menjadi pilihan yang defensif untuk menjaga likuiditas dan stabilitas portfolio,” ujar Reza kepada Kontan, Rabu (17/6/2026).
Ezra Nazula, Chief Investment Officer - Fixed Income, Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) mengatakan, di tengah tren kenaikan suku bunga, prospek reksadana pasar uang akan tetap solid, karena imbal hasil reksadana pasar uang sangat terkait dengan tingkat bunga yang diterima oleh aset dasarnya. Seperti deposito dan surat utang berjatuh tempo kurang dari satu tahun.
Aset dasar berupa deposito dapat dengan cepat dan lincah ditempatkan kembali untuk menikmati tingkat bunga yang lebih tinggi, di lain pihak aset dasar surat jangka pendek kurang dari satu tahun masih dapat tetap terlindungi dari penurunan harga yang biasa terjadi pada saat suku bunga naik.
“Tentu saja peran manajer investasi "meramu" keseimbangan aset deposito (dengan ragam jangka waktu jatuh tempo), surat utang jangka pendek (baik pemerintah maupun korporasi), sangat krusial untuk mengoptimalkan hasil,” terang Ezra.
Menurut Ezra, dalam kondisi saat ini, reksadana pasar uang dapat dimanfaatkan untuk mengoptimalkan imbal hasil dengan risiko yang relatif rendah, terutama untuk kebutuhan likuiditas jangka pendek. Namun, investor juga perlu memperhatikan arah kebijakan bank sentral ke depan, tren inflasi, pergerakan nilai tukar, likuiditas perbankan. “Oleh karena itu, strategi yang relevan adalah memanfaatkan imbal hasil saat ini sekaligus mulai mempertimbangkan diversifikasi secara bertahap ke instrumen dengan tenor lebih panjang,” terang Ezra.
Reza melihat reksadana pasar uang dapat dimanfaatkan sebagai instrumen penempatan dana jangka pendek maupun dana sementara (parking fund) sambil menunggu peluang investasi pada aset berisiko. Bagi investor yang mengutamakan likuiditas dan stabilitas, instrumen ini tetap relevan sebagai bagian penting dalam diversifikasi portfolio.
Baca Juga: Simak Rekomendasi Teknikal Saham AKRA, BJBR, ISSP untuk Kamis (18/6)
Reza menuturkan, investor perlu memperhatikan arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia, perkembangan inflasi, stabilitas nilai tukar rupiah, serta kebijakan moneter global terutama dari Federal Reserve. Selain itu, kondisi likuiditas perbankan domestik dan persaingan penghimpunan dana oleh sektor perbankan juga akan mempengaruhi tingkat yield instrumen pasar uang. “Jika BI mulai memasuki fase penurunan suku bunga, potensi penurunan yield pasar uang juga perlu menjadi perhatian,” imbuhnya.
Lebih lanjut Reza menjelaskan dalam mengelola produk reksadana pasar uang, HPAM berfokus pada pengelolaan likuiditas yang optimal melalui pemilihan instrumen pasar uang berkualitas tinggi, tenor yang terjaga, serta mitra perbankan yang memiliki fundamental kuat.
HPAM juga secara aktif menyesuaikan komposisi portofolio sesuai perkembangan suku bunga dan kondisi likuiditas pasar guna mengoptimalkan potensi imbal hasil dengan tetap menjaga profil risiko yang konservatif.
Sementara itu, Ezra menjelaskan, pengelolaan reksadana pasar uang di MAMI berfokus pada optimalisasi imbal hasil dalam batasan instrumen jangka pendek melalui pengaturan tenor, pemilihan institusi dengan kualitas kredit tinggi, serta pengelolaan likuiditas yang disiplin. Penempatan dilakukan secara terdiversifikasi antara deposito dan surat utang dengan tenor kurang dari 1 tahun, dengan penyesuaian aktif terhadap kondisi pasar dan tingkat suku bunga guna menjaga keseimbangan antara imbal hasil, likuiditas, dan stabilitas nilai.
Menurutnya, dengan adanya kenaikan suku bunga sekitar 75 basis poin yang belum sepenuhnya tercermin dalam tingkat bunga deposito dan instrumen jangka pendek, masih terdapat ruang penyesuaian ke atas pada imbal hasil penempatan baru.
“Oleh karena itu, hingga kuartal III 2026, kinerja reksadana pasar uang diperkirakan masih akan tetap menarik, didukung oleh peningkatan imbal hasil berjalan seiring proses penyesuaian tersebut,” imbuh Ezra.
Dengan mempertimbangkan kondisi suku bunga dan likuiditas saat ini, Reza melihat reksadana pasar uang berpotensi memberikan imbal hasil yang kompetitif di kisaran 3% - 4% per tahun (annualized).
“Namun realisasi kinerja tetap akan dipengaruhi oleh perkembangan suku bunga, kondisi pasar uang, dan dinamika likuiditas di sektor keuangan,” terang Reza.
Seperti diketahui, salah satu produk reksadana pasar uang HPAM adalah Henan Ultima Money Market. Produk ini berinvestasi dalam deposito berjangka (time deposit) dan surat berharga pendapatan tetap dengan jatuh tempo kurang dari 1 tahun yang memiliki volatilitas rendah. Mengutip fund fact sheet nya per Mei 2026, 52% portofolionya ditempatkan di fixed income – money market, 47% dialokasikan ke time deposit, dan 1% di cash & equivalent.
Sementara, salah satu produk reksadana pasar uang yang dikelola MAMI adalah Manulife Indonesia Money Market Fund Kelas A. Mengutip fund fact sheet nya per Mei 2026, lima besar portofolionya ditempatkan di sukuk Bank Syariah Indonesia, time deposit Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat, obligasi & time deposit Bank Bukopin, serta time deposit Bank Muamalat Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













