kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.599.000   -4.000   -0,15%
  • USD/IDR 17.954   -88,00   -0,49%
  • IDX 6.349   29,04   0,46%
  • KOMPAS100 835   3,57   0,43%
  • LQ45 635   0,00   0,00%
  • ISSI 219   1,62   0,74%
  • IDX30 357   -0,20   -0,06%
  • IDXHIDIV20 436   -2,30   -0,52%
  • IDX80 95   0,27   0,28%
  • IDXV30 120   -0,28   -0,24%
  • IDXQ30 114   -0,08   -0,07%

Raih Kinerja Operasional Solid, Cek Rekomendasi Saham Emiten Grup Merdeka


Rabu, 05 Agustus 2026 / 08:25 WIB
Raih Kinerja Operasional Solid, Cek Rekomendasi Saham Emiten Grup Merdeka
ILUSTRASI. Merdeka Copper Gold, MDKA (DOK/MDKA)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Emiten-emiten yang tergabung dalam Grup Merdeka membukukan kinerja operasional yang solid pada kuartal II-2026.

Capaian tersebut dinilai menjadi sinyal positif bagi kinerja keuangan perseroan sepanjang semester I-2026, ditopang tingginya harga emas dan peningkatan produksi bisnis nikel.

Baca Juga: Daftar Saham PER Terendah & Tertinggi LQ45 (4 Agustus 2026), INDY dan MDKA Disorot

PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) mencatat pendapatan sebesar US$ 775,6 juta pada kuartal II-2026, yang berasal dari penjualan emas, tembaga, Nickel Pig Iron (NPI), High-Grade Nickel Matte (HGNM), bijih limonit, serta asam sulfat.

Pada periode tersebut, penjualan emas MDKA mencapai 36.574 ounce (oz), yang terdiri dari 30.135 oz dari Tambang Emas Tujuh Bukit (TB Gold) dan 6.439 oz dari Tambang Emas Pani milik PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS). Dengan harga jual rata-rata US$ 4.511 per ounce, penjualan emas tersebut menghasilkan pendapatan US$ 165 juta.

Di Tambang Wetar, produksi tembaga mencapai 1.484 ton, sementara volume penjualan tercatat 1.924 ton dengan harga jual rata-rata US$ 5,83 per pon.

Sementara itu, Tambang Emas Pani terus menunjukkan kemajuan dalam proses ramp-up setelah operasi heap leach dimulai pada kuartal I-2026.

Tambang tersebut memproduksi 15.594 oz emas dan 29.796 oz perak sepanjang kuartal II-2026, meningkat signifikan dibandingkan kuartal sebelumnya yang masing-masing sebesar 1.818 oz emas dan 3.496 oz perak.

Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Penyebab dan Proyeksi hingga Akhir 2026

Di bisnis nikel, PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) mencatat pertumbuhan produksi yang kuat secara tahunan, didukung peningkatan produksi dari tambang Sulawesi Cahaya Mineral serta kinerja berkelanjutan pada operasi hilir.

Produksi bijih nikel saprolit dan limonit masing-masing melonjak 130% dan 87% secara tahunan.

Produksi Nickel Pig Iron (NPI) meningkat 16% menjadi 19.505 ton nikel (tNi), sedangkan produksi High-Grade Nickel Matte (HGNM) mencapai 9.165 tNi. Penjualan HGNM juga meningkat 30% secara kuartalan menjadi 10.457 tNi.

Selain itu, operasi AIM memproduksi 258.060 ton asam sulfat dan menjual 383.177 ton selama kuartal II-2026. PT ESG New Energy Material menghasilkan 4.831 ton nikel dalam bentuk Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), sementara PT Sulawesi Nickel Cobalt terus mengembangkan proyek High Pressure Acid Leach (HPAL) dengan target penjualan perdana MHP pada semester II-2026.

Presiden Direktur Merdeka Copper Gold Albert Saputro mengatakan TB Gold tetap menjadi fondasi utama operasi perusahaan, sementara Tambang Pani terus meningkatkan volume produksi, Wetar berhasil memperbaiki margin, dan MBMA terus memperkuat platform bisnis nikel terintegrasi.

Baca Juga: Suspensi Saham WIKA Diperpanjang, Imbas Gagal Bayar dan Restrukturisasi Surat Utang

Selain itu, pencatatan sekunder saham EMAS di Main Board The Stock Exchange of Hong Kong Limited (HKEX) dinilai semakin memperluas akses pendanaan internasional bagi pengembangan Tambang Emas Pani.

"Ke depan, kami tetap fokus pada eksekusi yang disiplin, berlanjutnya ramp-up Pani, serta pengembangan proyek TB Copper melalui tahap feasibility study," ujar Albert dalam keterangan resmi, Senin (3/8).

 

Prospek masih positif

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai kinerja operasional Grup Merdeka memberikan sinyal konstruktif terhadap hasil keuangan semester I-2026.

Namun, besarnya pertumbuhan laba tetap akan dipengaruhi oleh struktur biaya, beban depresiasi, biaya bunga, serta kontribusi masing-masing lini usaha.

Menurutnya, bagi MDKA, kombinasi volume penjualan emas yang tetap solid dan harga jual rata-rata yang jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu berpotensi memperlebar margin operasional.

Baca Juga: IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, Cermati Rilis PDB dan Rekomendasi Saham Hari Ini

"Harga emas yang berada pada level tinggi menjadi katalis penting karena mampu mengimbangi tekanan biaya produksi dan memberikan leverage terhadap profitabilitas," ujar Nafan kepada Kontan, Selasa (4/8).

Di sisi lain, lonjakan produksi saprolit dan limonit MBMA mencerminkan meningkatnya utilisasi aset serta kesiapan perusahaan memasok kebutuhan industri hilirisasi nikel.

Apabila peningkatan volume tersebut diikuti penjualan yang kuat dan efisiensi biaya, pendapatan maupun EBITDA MBMA berpotensi tumbuh sehat.

Sementara itu, meningkatnya produksi Tambang Pani menjadi indikasi bahwa EMAS mulai memasuki fase monetisasi.

Meski kontribusinya terhadap laba masih terbatas karena proyek masih dalam tahap awal ramp-up, perkembangan tersebut dinilai menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan pendapatan pada periode mendatang.

Nafan menilai prospek Grup Merdeka masih positif dalam beberapa kuartal ke depan karena memiliki dua mesin pertumbuhan utama, yakni emas dan nikel.

"Diversifikasi tersebut menjadi keunggulan karena dapat mengurangi ketergantungan terhadap satu siklus komoditas," katanya.

Baca Juga: Dow dan S&P 500 Ditutup di Rekor Tertinggi, Ditopang Harapan Damai Timur Tengah

Dalam jangka pendek, segmen emas diperkirakan tetap menjadi kontributor utama arus kas Grup Merdeka seiring harga emas global yang masih tinggi.

Tambang Tujuh Bukit diproyeksikan tetap menjadi penyumbang utama, sementara peningkatan produksi dari Tambang Pani akan memperbesar kapasitas produksi emas secara bertahap.

Adapun dalam jangka menengah hingga panjang, pertumbuhan Grup Merdeka diperkirakan semakin ditopang oleh bisnis nikel.

Permintaan bahan baku baterai kendaraan listrik dan perkembangan industri hilirisasi di Indonesia masih membuka peluang pertumbuhan, meskipun harga nikel diperkirakan tetap volatil mengikuti dinamika pasokan global.

Nafan menambahkan, agar momentum pertumbuhan tetap terjaga, Grup Merdeka perlu mempertahankan disiplin alokasi modal, mengoptimalkan arus kas operasional dari aset yang telah berproduksi, serta meningkatkan efisiensi biaya melalui optimalisasi tingkat recovery, produktivitas alat, dan integrasi rantai pasok.

Atas prospek tersebut, Nafan merekomendasikan add untuk saham MDKA, MBMA, dan EMAS, dengan target harga masing-masing Rp 3.440, Rp 650, dan Rp 7.525 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×