Reporter: Dimas Andi | Editor: Yudho Winarto
Prospek masih positif
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai kinerja operasional Grup Merdeka memberikan sinyal konstruktif terhadap hasil keuangan semester I-2026.
Namun, besarnya pertumbuhan laba tetap akan dipengaruhi oleh struktur biaya, beban depresiasi, biaya bunga, serta kontribusi masing-masing lini usaha.
Menurutnya, bagi MDKA, kombinasi volume penjualan emas yang tetap solid dan harga jual rata-rata yang jauh lebih tinggi dibandingkan tahun lalu berpotensi memperlebar margin operasional.
Baca Juga: IHSG Berpeluang Lanjut Menguat, Cermati Rilis PDB dan Rekomendasi Saham Hari Ini
"Harga emas yang berada pada level tinggi menjadi katalis penting karena mampu mengimbangi tekanan biaya produksi dan memberikan leverage terhadap profitabilitas," ujar Nafan kepada Kontan, Selasa (4/8).
Di sisi lain, lonjakan produksi saprolit dan limonit MBMA mencerminkan meningkatnya utilisasi aset serta kesiapan perusahaan memasok kebutuhan industri hilirisasi nikel.
Apabila peningkatan volume tersebut diikuti penjualan yang kuat dan efisiensi biaya, pendapatan maupun EBITDA MBMA berpotensi tumbuh sehat.
Sementara itu, meningkatnya produksi Tambang Pani menjadi indikasi bahwa EMAS mulai memasuki fase monetisasi.
Meski kontribusinya terhadap laba masih terbatas karena proyek masih dalam tahap awal ramp-up, perkembangan tersebut dinilai menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan pendapatan pada periode mendatang.
Nafan menilai prospek Grup Merdeka masih positif dalam beberapa kuartal ke depan karena memiliki dua mesin pertumbuhan utama, yakni emas dan nikel.
"Diversifikasi tersebut menjadi keunggulan karena dapat mengurangi ketergantungan terhadap satu siklus komoditas," katanya.
Baca Juga: Dow dan S&P 500 Ditutup di Rekor Tertinggi, Ditopang Harapan Damai Timur Tengah
Dalam jangka pendek, segmen emas diperkirakan tetap menjadi kontributor utama arus kas Grup Merdeka seiring harga emas global yang masih tinggi.
Tambang Tujuh Bukit diproyeksikan tetap menjadi penyumbang utama, sementara peningkatan produksi dari Tambang Pani akan memperbesar kapasitas produksi emas secara bertahap.
Adapun dalam jangka menengah hingga panjang, pertumbuhan Grup Merdeka diperkirakan semakin ditopang oleh bisnis nikel.
Permintaan bahan baku baterai kendaraan listrik dan perkembangan industri hilirisasi di Indonesia masih membuka peluang pertumbuhan, meskipun harga nikel diperkirakan tetap volatil mengikuti dinamika pasokan global.
Nafan menambahkan, agar momentum pertumbuhan tetap terjaga, Grup Merdeka perlu mempertahankan disiplin alokasi modal, mengoptimalkan arus kas operasional dari aset yang telah berproduksi, serta meningkatkan efisiensi biaya melalui optimalisasi tingkat recovery, produktivitas alat, dan integrasi rantai pasok.
Atas prospek tersebut, Nafan merekomendasikan add untuk saham MDKA, MBMA, dan EMAS, dengan target harga masing-masing Rp 3.440, Rp 650, dan Rp 7.525 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
