kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45928,35   -6,99   -0.75%
  • EMAS1.321.000 0,00%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Punya Prospek Cerah di Semester II-2023, Simak Rekomendasi Saham Sektor Perbankan


Minggu, 16 Juli 2023 / 19:23 WIB
Punya Prospek Cerah di Semester II-2023, Simak Rekomendasi Saham Sektor Perbankan
ILUSTRASI. rekomendasi saham untuk sektor perbankan


Reporter: Nur Qolbi | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham-saham sektor perbankan punya prospek yang bagus pada semester kedua tahun 2023. Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki mengatakan, katalis positif bagi emiten perbankan berasal dari pemulihan ekonomi dan tahun politik yang akan meningkatkan potensi penyaluran kredit.

Lebih lanjut, restrukturisasi utang emiten konstruksi BUMN karya yang belakangan ini menjadi sorotan punya porsi yang cukup kecil dalam portofolio kredit emiten-emiten bank besar.

"Jadi, potensinya tidak akan signifikan untuk big bank. Namun, akan lebih tinggi risikonya untuk bank medium dan bank kecil," kata Yaki saat dihubungi Kontan.co.id, Minggu (16/7).

Berdasarkan riset tanggal 4 Juli 2023, Kepala Riset Samuel Sekuritas Prasetya Gunadi dan Research Associate Samuel Sekuritas Brandon Boedhiman mencatat, bank-bank dalam coverage-nya membukukan penyaluran kredit gabungan sebesar Rp 3,9 triliun hingga Mei 2023. Jumlah tersebut naik 2,1% dibanding bulan sebelumnya dan tumbuh 9,2% secara tahunan.

Perlu dicatat bahwa likuiditas perbankan masih cukup melimpah dengan loan to deposit ratio (LDR) gabungan sebesar 82,3% pada Mei 2023, meningkat dari 81,2% pada April 2023 dan 80,9% pada Mei 2022. "Likuiditas tersebut didukung oleh dana simpanan yang mencapai Rp 4,8 triliun, naik 0,7% dibanding bulan sebelumnya dan naik 7,3% secara tahunan," katanya dalam riset.

Baca Juga: Meski Diizinkan, Bank Konvensional Belum Mau Balik ke Aceh

Sejalan dengan itu, secara gabungan, laba bersih bank-bank dalam pantauan Samuel Sekuritas meningkat 17,5% year on year (yoy) menjadi Rp 71,5 triliun per Mei 2023. Pertumbuhan laba bersih tersebut terutama didorong oleh penurunan biaya provisi sebesar 10,3% yoy menjadi Rp 26,4 triliun.

Secara kumulatif, PT CIMB Niaga Tbk (BNGA) mencatat pertumbuhan laba bersih tertinggi, yakni 36,3% yoy pada Januari-Mei 2023. Disusul oleh PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) 34,7%, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) 18,8%, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) 15,1%, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN) 8,1%, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) 5,1%.

Rerata pendapatan bunga bersih alias net interest income (NII) masih naik sebesar 1,9% yoy, sedangkan net interest margin (NIM) cenderung flat di 5,06%.

Di sisi lain, bank digital dalam coverage Samuel Sekuritas mencatatkan kinerja yang beragam pada lima bulan pertama 2023. PT Bank Jago Tbk (ARTO) dan PT Bank Raya Indonesia Tbk (AGRO) membukukan kinerja positif, sedangkan PT Bank Neo Commerce Tbk (BBYB) dan PT Bank Aladin Syariah Tbk (BANK) membukukan kinerja yang cenderung negatif.

Bank-bank tersebut mencatatkan penurunan biaya provisi di Mei 2023, terutama karena penambahan yang dilakukan di bulan sebelumnya. Namun secara kumulatif, masih ada kenaikan yang signifikan di lima bulan pertama 2023, yakni sebesar 208,4%.

 

Terkait pendapatan, bank-bank tersebut berhasil membukukan pertumbuhan NII gabungan yang cukup besar sebesar, yakni 121,4% yoy. Hal ini didukung oleh pertumbuhan kredit yang mencapai 132,9% per Mei 2023.

Namun, ada penurunan NIM sebesar 291 bps dibanding bulan sebelumnya menjadi 10,8% pada Mei 2023. Penurunan NIM ini merupakan dampak kenaikan suku bunga ke bank-bank digital yang lebih parah ketimbang ke bank-bank besar.

Saat ini, Samuel Sekuritas menetapkan rekomendasi overweight untuk sektor perbankan dengan BBNI dan BBRI sebagai top picks.

Samuel Sekuritas meyakini bahwa bank-bank dalam coverage-nya, terutama bank-bank besar dapat menyerap potensi risiko kenaikan non-performing loan (NPL) dan membukukan pertumbuhan NIM pada 2023.

Potensi pertumbuhan NIM di tengah lingkungan suku bunga yang tinggi dapat membuka jalan untuk pertumbuhan pendapatan sebesar 12,4% yoy pada 2023. Samuel Sekuritas masih lebih menyukai bank besar daripada bank kecil.

Baca Juga: Tren Cashless, Sejumlah Bank Terus Ekspansi Merchant dan Mesin EDC

"Pasalnya, bank-bank besar diperkirakan akan terus memimpin pertumbuhan kredit dan menikmati biaya dana yang lebih rendah di tengah makin ketatnya likuiditas," tulis Prasetya dan Brandon.

BBNI dan BBRI menjadi saham pilihan teratasnya karena punya keunggulan tertentu. BBNI telah melakukan pembenahan internal yang mengesankan yang akan membantu meningkatkan kualitas aset. Alhasil, jarak antara valuasi BBNI dengan pesaing terdekatnya, yakni BMRI akan semakin menyempit.

Sementara itu, BBRI berpotensi membukukan pertumbuhan kredit dua digit pada 2023. Hal ini didukung oleh program Kupedes yang akan mendongkrak NIM meskipun ada potensi tekanan dari cost of fund (CoF).

Yaki juga masih mengutamakan bank-bank besar, yakni BBCA, BBNI, BBRI, dan BMRI. Alasannya, rata-rata pertumbuhan harga saham bank-bank ini ditambah dividen per saham tiap tahunnya setara dengan dua kali bunga deposito.

Dalam riset tanggal 12 Juli 2023, Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Handiman Soetoyo dan Abyan Habib Yuntoharjo menambahkan, laporan keuangan semester 1 2023 akan mulai dirilis 2-3 minggu ke depan. Mirae Asset Sekuritas mengantisipasi hasil yang relatif sejalan dengan proyeksinya dari empat bank besar, kecuali BBCA.

Menurutnya, BBCA dapat kembali mengesankan pasar karena pertumbuhan profitabilitasnya yang luar biasa yang didorong oleh ekspansi NIM, kenaikan pendapatan non-bunga, dan cost of credit (CoC) yang lebih rendah. BMRI akan mengekor di belakang dengan NIM yang relatif sama, tetapi pada tingkat yang lebih kecil karena manajemen CoF yang lebih lemah dan peningkatan kualitas aset yang relatif rendah.

Anak usaha BBRI, yakni PNM dan Pegadaian dapat mendongkrak laba bersih induknya yang rendah sehingga menghasilkan hasil yang memuaskan. BBNI kemungkinan akan melihat perbaikan imbal hasil pinjaman secara bertahap karena bank memfokuskan pertumbuhannya pada segmen korporasi.

Baca Juga: Usaha Mikro Kena Biaya MDR 0,3%, Bank-Bank Optimis Transaksi QRIS Tetap Tumbuh

Mulai tahun 2025, bank-bank di Indonesia akan diwajibkan membayar premi Program Restrukturisasi Perbankan (PRP) kepada Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Preminya berkisar 0,0000%-0,0065% dari total aset bank yang juga disesuaikan dengan profil risikonya.

"Kami percaya bahwa skema ini akan berdampak sangat minimal, terutama untuk bank-bank besar di bawah cakupan kami, mengingat profitabilitasnya yang kuat," kata kedua analis tersebut.

Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan overweight untuk sektor perbankan dengan tetap mempertahankan BBCA dan BMRI sebagai saham pilihan teratasnya. Risiko utama untuk terhadap saham perbankan adalah ketidakpastian ekonomi domestik dan global, penurunan kualitas aset, pertumbuhan pinjaman yang lebih lambat, dan volatilitas nilai tukar mata uang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×