Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) pada 2027 diperkirakan masih menghadapi tantangan dari tingginya suku bunga dan potensi perlambatan penjualan properti. Di tengah kondisi tersebut, pendapatan berulang atau recurring income dari pusat perbelanjaan, hotel, dan penyewaan perkantoran menjadi salah satu penopang kinerja perseroan.
Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75% pada September 2026. Keputusan tersebut diambil di tengah kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), ke kisaran 3,75%–4%.
Sementara itu, inflasi yang masih tinggi membuat kebijakan suku bunga global dibayangi tren higher for longer atau suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama. Kondisi ini juga membuka peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut hingga akhir tahun.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta, mengatakan arah suku bunga menjadi salah satu sentimen negatif bagi saham PWON. Suku bunga kredit yang bertahan tinggi berpotensi meningkatkan beban cicilan kredit pemilikan rumah (KPR) maupun biaya pembiayaan properti.
Baca Juga: BUMI Pacu Transformasi Bisnis dan Tata Kelola
Kondisi tersebut dapat mendorong konsumen menunda pembelian rumah dan apartemen. Dampaknya, marketing sales berisiko tertekan dan realisasi pendapatan dari segmen pengembangan properti berpotensi melambat.
Selain itu, beban bunga perusahaan juga berpotensi meningkat apabila PWON memiliki kewajiban dengan suku bunga mengambang atau membutuhkan pembiayaan kembali (refinancing).
“Di sisi lain, PWON memiliki keunggulan karena model bisnisnya tidak hanya bergantung pada penjualan properti, tetapi juga menghasilkan pendapatan berulang (recurring income) dari pusat perbelanjaan, perhotelan, dan penyewaan perkantoran,” ujar Nafan kepada Kontan, Rabu (14/10/2026).
Sejalan dengan pandangan tersebut, Kepala Riset Ina Sekuritas, Arief Machrus, mencatat pendapatan berulang PWON menyumbang 86% dari total pendapatan pada semester I-2026 dan tumbuh 7% secara tahunan. Tingkat okupansi pusat perbelanjaan dalam portofolio perseroan juga tetap solid, yakni mencapai 96%.
Kinerja PWON turut ditopang oleh portofolio kawasan superblok yang telah mapan, kenaikan tarif sewa pusat perbelanjaan, serta tambahan kontribusi dari tiga hotel yang beroperasi selama satu tahun penuh.
“Tapi marketing sales tetap menjadi risiko utama. Pada semester I-2026, marketing sales PWON mencapai Rp 565 miliar, setara dengan 38% dari target tahun 2026 dan turun 6% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 603 miliar,” terang Arief.
Baca Juga: Krakatau Steel (KRAS) Gabungkan Dua Anak Usaha, Ini Rinciannya
Selain itu, Arief menyebut program insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) berkontribusi sebesar 42% terhadap total marketing sales PWON.
Seiring berkurangnya dukungan insentif PPN, marketing sales PWON pada 2026 berpotensi menghadapi tekanan. Kondisi tersebut dapat berlanjut apabila penjualan properti belum menunjukkan perbaikan yang signifikan.
Pada semester I-2026, belanja modal atau capital expenditure (capex) PWON tercatat sebesar Rp 412 miliar. Sebagian besar belanja modal tersebut dialokasikan untuk pengembangan Pakuwon Mall Surabaya Tahap 5.
Memasuki 2027, Nafan mengatakan prospek PWON juga akan ditentukan oleh realisasi ekspansi dan kemampuan perseroan mengoptimalkan aset yang telah dikembangkan. Pengembangan pusat perbelanjaan, hotel, kondominium, serta kawasan superblok berpotensi mendukung pertumbuhan bisnis, meskipun marketing sales masih menjadi risiko dalam jangka pendek.
Sejumlah proyek yang perlu dicermati meliputi pengembangan Pakuwon Mall Surabaya, superblok Pakuwon Mall Bekasi, serta pengembangan kawasan di Semarang dan Batam. Proyek-proyek tersebut berpotensi menjadi sumber pertumbuhan baru seiring kemajuan pembangunan dan tingkat penyerapan pasar.
Proyeksi Kinerja dan Rekomendasi Saham PWON
Dari sisi keuangan, Analis KB Valbury Sekuritas, Steven Gunawan, memproyeksikan kinerja PWON akan terkoreksi sepanjang 2026.
Steven memperkirakan pendapatan PWON mencapai Rp 6,90 triliun pada 2026, turun 2,91% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp 7,11 triliun.
Laba bersih PWON juga diproyeksikan mencapai Rp 2,29 triliun pada 2026, terkoreksi 2,34% YoY dibandingkan realisasi tahun sebelumnya sebesar Rp 2,35 triliun.
Meski demikian, Steven masih mempertahankan rekomendasi buy untuk saham PWON. Namun, ia menurunkan target harga saham menjadi Rp 310 dari sebelumnya Rp 340 per saham.
Sementara itu, Arief juga merekomendasikan buy saham PWON dengan target harga Rp 385 per saham. Adapun Nafan memberikan rekomendasi maintain buy untuk PWON dengan target harga Rp 296 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














