kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.574.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.927   18,00   0,10%
  • IDX 5.943   17,05   0,29%
  • KOMPAS100 770   4,91   0,64%
  • LQ45 595   5,40   0,92%
  • ISSI 205   -0,19   -0,09%
  • IDX30 331   2,96   0,90%
  • IDXHIDIV20 424   2,54   0,60%
  • IDX80 88   0,63   0,72%
  • IDXV30 116   0,69   0,59%
  • IDXQ30 108   0,68   0,63%

Belanja Eksplorasi Berlanjut, Simak Prospek Saham BRMS, ARCI, EMAS, ENRG, DEWA


Rabu, 14 Oktober 2026 / 17:46 WIB
Belanja Eksplorasi Berlanjut, Simak Prospek Saham BRMS, ARCI, EMAS, ENRG, DEWA
ILUSTRASI. Belanja eksplorasi emiten tambang dan migas berlanjut hingga 2027. (KONTAN/Ridwan Mulyana)


Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kemampuan emiten tambang dan minyak dan gas bumi (migas) menjaga pertumbuhan produksi hingga 2027 akan ditentukan oleh keberhasilan eksplorasi dalam menghasilkan cadangan baru yang layak dikembangkan secara komersial.

Di tengah kebutuhan pendanaan yang besar, investor perlu mencermati efektivitas belanja eksplorasi serta prospek realisasi produksi masing-masing perusahaan.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas Brigita Kinari mengatakan, belanja eksplorasi berpotensi menekan arus kas perusahaan dalam jangka pendek. Namun, investasi tersebut dapat memperpanjang umur tambang, menambah cadangan ekonomis, dan menopang pertumbuhan produksi dalam jangka panjang.

Menurut Brigita, besarnya anggaran eksplorasi bukan satu-satunya indikator yang perlu diperhatikan investor. Efektivitas penggunaan dana dan kemampuan perusahaan mengonversi hasil eksplorasi menjadi tambahan cadangan ekonomis juga menjadi faktor penting dalam menilai potensi imbal hasil investasi.

Baca Juga: Harga Aset Kripto Masuk Fase Konsolidasi, Dominasi Bitcoin Tetap Kokoh

“Dampaknya terhadap laba bergantung pada keberhasilan eksplorasi, biaya pengembangan, dan waktu hingga cadangan baru dapat dikomersialkan,” kata Brigita kepada Kontan, Rabu (14/10/2026).

Sejumlah emiten tercatat mengalokasikan dana untuk kegiatan eksplorasi sepanjang 2026. PT Archi Indonesia Tbk (ARCI), misalnya, menghabiskan US$ 8,5 juta untuk kegiatan eksplorasi selama Januari hingga September 2026. Sementara itu, PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) mencatat biaya eksplorasi sebesar Rp 6,51 miliar dan PT Indika Energy Tbk (INDY) sebesar Rp 15,57 miliar.

Di sektor migas, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mengalokasikan sekitar Rp 38,56 miliar untuk pengeboran sumur pengembangan dan eksplorasi. Adapun PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) mengeluarkan biaya eksplorasi sebesar Rp 34,9 miliar pada kuartal III-2026.

PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) juga mencatat biaya eksplorasi sebesar Rp 7,86 miliar. Sementara itu, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) menjalankan kegiatan eksplorasi melalui sejumlah anak usahanya.

Brigita menilai BRMS dan EMAS menarik dicermati dari sisi potensi pertumbuhan produksi emas. Di sisi lain, ENRG memiliki katalis dari pengembangan aset migas.

Meski demikian, manfaat ekonomi dari kegiatan eksplorasi tetap bergantung pada perkembangan produksi, biaya operasional, dan tingkat keekonomian cadangan yang ditemukan.

“Keberhasilan mengonversi eksplorasi menjadi laba tetap ditentukan oleh realisasi produksi, biaya operasional, dan keekonomian cadangan, bukan besarnya anggaran eksplorasi,” ujarnya.

Menurut Brigita, prospek eksplorasi emiten tambang dan migas hingga 2027 masih terbuka. Namun, investor diperkirakan semakin selektif terhadap perusahaan yang mampu mengubah potensi sumber daya menjadi produksi komersial.

Baca Juga: Imbal Hasil Global Turun, Lelang SUN Domestik Justru Laris Manis Diserbu Investor

Sejumlah risiko yang perlu diperhatikan meliputi keterlambatan perizinan, hasil eksplorasi yang tidak sesuai ekspektasi, kenaikan biaya pengembangan, serta kebutuhan pendanaan tambahan. Faktor-faktor tersebut dapat menunda realisasi pendapatan dan meningkatkan kebutuhan belanja modal sebelum perusahaan memperoleh manfaat ekonomi dari proyeknya.

Salah satu contohnya adalah kegiatan eksplorasi tembaga PT Darma Henwa Tbk (DEWA) di proyek Upper Tengkereng yang masih tertunda akibat kendala perizinan. Brigita menilai, potensi sumber daya belum dapat menciptakan nilai ekonomi sebelum terdapat kepastian bahwa proyek tersebut dapat dikembangkan.

Di sektor migas, Brigita menyebut produksi minyak Indonesia pada 2027 diproyeksikan mencapai 602.000 hingga 615.000 barel per hari. Namun, target produksi nasional tersebut tidak serta-merta mencerminkan pertumbuhan produksi setiap emiten karena realisasinya tetap bergantung pada perkembangan masing-masing aset.

Oleh karena itu, perusahaan yang memiliki kepastian perizinan, jadwal produksi terukur, dan pendanaan memadai dinilai memiliki posisi lebih baik untuk merealisasikan manfaat eksplorasi dibandingkan perusahaan yang masih mengandalkan potensi sumber daya tanpa kepastian pengembangan.

Prospek Saham BRMS, ARCI, dan EMAS

Pandangan serupa disampaikan Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama. Ia menilai belanja eksplorasi dapat menopang produksi dan laba dalam jangka panjang selama perusahaan mampu menjaga efektivitas investasi serta kondisi arus kas.

Menurut Elandry, BRMS, ARCI, dan EMAS menarik dicermati dari sektor emas karena masing-masing memiliki katalis pertumbuhan yang berbeda.

BRMS memiliki peluang pertumbuhan dari peningkatan kapasitas pengolahan dan pengembangan tambang bawah tanah. Sementara itu, ARCI dapat mengandalkan optimalisasi produksi serta keberlanjutan cadangan. Adapun EMAS memiliki prospek dari pengembangan Tambang Emas Pani.

Meski demikian, Elandry mengingatkan bahwa potensi pertumbuhan tersebut belum tentu langsung tercermin dalam kinerja keuangan. Waktu penyelesaian proyek, realisasi produksi, biaya operasional, dan kebutuhan belanja modal tetap menjadi faktor penentu.

Baca Juga: Rupiah Dibayangi Konflik Timur Tengah dan Inflasi AS, Cek Proyeksi Rabu (15/10)

“Belanja eksplorasi berdampak pada kebutuhan pendanaan dalam jangka pendek, tetapi berpotensi memperpanjang umur tambang, meningkatkan cadangan, dan menopang produksi serta laba dalam jangka panjang,” kata Elandry kepada Kontan.

Hingga 2027, Elandry memperkirakan kegiatan eksplorasi masih berlanjut, tetapi dengan pemilihan proyek yang lebih selektif. Pergerakan harga komoditas dan kemampuan pendanaan perusahaan akan memengaruhi keputusan untuk melanjutkan maupun mempercepat pengembangan aset.

Khusus untuk DEWA, investor perlu mencermati perkembangan perizinan dan dimulainya kembali pengeboran di proyek Upper Tengkereng sebelum memperhitungkan proyek tersebut sebagai katalis pertumbuhan.

Elandry menyarankan investor mempertimbangkan valuasi, kebutuhan belanja modal, serta kemampuan menghasilkan arus kas ketika menilai saham emiten tambang. Untuk BRMS, ARCI, dan EMAS, potensi pertumbuhan produksi dapat menjadi pertimbangan investasi jangka menengah hingga panjang, dengan tetap memperhatikan risiko eksekusi proyek dan volatilitas harga emas.

Sementara itu, Brigita menetapkan target harga saham EMAS sebesar Rp 11.000 per saham untuk strategi investasi. Target tersebut perlu dicermati bersama perkembangan proyek Pani dan realisasi peningkatan produksinya.

Adapun Elandry belum menetapkan target harga terbaru untuk BRMS, ARCI, maupun EMAS. Menurut dia, penilaian harga wajar perlu mempertimbangkan harga pasar terkini, proyeksi laba, dan valuasi masing-masing emiten.

Untuk DEWA, ia memilih menunggu kepastian perizinan serta kelanjutan pengeboran sebelum menilai potensi proyek Upper Tengkereng sebagai katalis utama.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
KONTAN10.10
Kontan Academy
The Owner's Number Supply Chain Management on Practical Sales Forecasting (SCMPSF)

[X]
×